Membakar Uang, Membuang Peluang

Membakar Uang, membuang Peluang
*) Oleh : Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt
Direktur ComBAT (Community of Bioethic & Anti Tobacco) & Ketua LSBO PDM Kota Bekasi
www.majelistabligh.id -

Indonesia, bagaikan sebuah panggung besar, dihiasi oleh lautan asap yang mengepul.
Di balik setiap embusan asap itu, tersimpan kisah ironis tentang kecanduan yang merenggut masa depan.
Mari kita telaah fenomena ini dari sudut pandang yang mungkin jarang kita sadari.

Di setiap sudut negeri ini, dari gang-gang sempit di ibu kota hingga desa-desa terpencil di pedalaman, kita dapat melihat pemandangan yang sama: orang-orang yang menikmati rokok.

Sebagian hanya menghisap dua batang per hari, sebuah ritual ringan yang mungkin mereka anggap sepele.
Namun, di sisi lain, ada juga mereka yang menghabiskan hingga dua bungkus, bahkan lebih, setiap hari.
Jumlah ini mencengangkan, bukan?
Sebuah cermin betapa dalamnya akar kecanduan pada zat nikotin.

Mari kita fokus pada kelompok yang menghabiskan satu bungkus sehari.
Kecanduan ini tidak hanya sekadar kebiasaan, melainkan sebuah ikatan yang kuat.
Jika mereka sudah terbiasa menghabiskan satu bungkus per hari, sulit bagi mereka untuk tiba-tiba berhenti atau bahkan mengurangi jumlahnya.
Perubahan drastis seperti itu hampir mustahil.
Pola konsumsi mereka cenderung stabil, mungkin hanya berfluktuasi sedikit, seperti selisih satu batang per hari. Ini adalah tanda bahwa kecanduan telah merasuk ke dalam kehidupan mereka, mengontrol setiap langkah dan keputusan yang mereka buat.

Sekarang, mari kita lihat dari segi ekonomi.
Kita ambil contoh sederhana: harga satu bungkus rokok adalah 10 ribu rupiah.
Coba bayangkan, jika seseorang menghabiskan satu bungkus per hari, berapa banyak uang yang mereka bakar?
Dalam sebulan, total pengeluaran mereka untuk rokok adalah 300 ribu rupiah.
Angka ini mungkin terdengar kecil, tapi tunggu sampai kita melihat jumlahnya dalam satu tahun.
Tiga koma enam juta rupiah!
Ya, 3,6 juta rupiah setiap tahun, sebuah angka yang cukup besar untuk membeli banyak hal yang bermanfaat.

Pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri sendiri adalah: ke mana perginya uang 3,6 juta rupiah itu?
Jawabannya menyedihkan. Uang itu dibakar cuma-cuma, berubah menjadi asap yang tidak membawa manfaat sama sekali.
Akibat candu, uang yang seharusnya bisa digunakan untuk kebutuhan hidup justru menguap begitu saja, tidak memberikan nilai tambah apapun.

Bayangkan jika uang 3,6 juta rupiah itu digunakan untuk hal lain.
Andai saja uang itu untuk membeli kurban seekor domba saat musim kurban (Hari Raya Haji).
Bukan hanya uang itu menjadi bermanfaat, tapi perbuatan itu juga akan mendapatkan pahala dari Sang Pencipta.
Atau, bayangkan jika uang itu digunakan untuk menafkahi keluarga, membeli makanan yang bergizi, membayar sewa rumah, atau membeli pakaian untuk anak dan istri.
Tentu, uang itu akan memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi keluarga, menciptakan masa depan yang lebih baik.

Namun, ironisnya, banyak perokok lebih memilih untuk tetap terikat pada kecanduan mereka daripada memikirkan manfaat jangka panjang bagi diri sendiri dan keluarga.
Candu nikotin lebih kuat daripada akal sehat dan pengetahuan tentang bahaya rokok.
Mereka seolah-olah terjebak dalam lingkaran setan yang sulit dipatahkan, mengorbankan kesehatan, masa depan, dan bahkan kebahagiaan demi kepuasan sesaat yang merugikan.

Fenomena ini adalah cermin dari betapa rapuhnya manusia ketika berhadapan dengan kecanduan.
Kita harus sadar bahwa rokok bukan hanya membahayakan kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental dan ekonomi.
Kita harus berani melawan kecanduan ini dan mengambil kendali atas hidup kita.
Mari kita alihkan uang yang biasa kita bakar untuk rokok ke hal-hal yang lebih bermanfaat, menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi diri kita sendiri dan keluarga kita. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search