Membanding-bandingkan Itu Sangat Menyakitkan

*) Oleh : Jatim, M.A.
Litbang SD Muhammadiyah 29 Surabaya
www.majelistabligh.id -

Tanpa sadar, kita sering kali membandingkan murid atau anak kandung sendiri dengan anak orang lain. Namun, apakah tindakan tersebut benar? Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, ada baiknya kita memahami kembali makna dasar dari kata “membandingkan”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), membandingkan berarti menyamakan atau memadukan dua hal untuk mengetahui persamaan dan perbedaannya. Kata ini berakar dari banding yang berarti imbangan atau tandingan. Dengan demikian, membandingkan sebenarnya bertujuan untuk menilai dua hal secara objektif demi melihat sisi sama dan bedanya.

Sayangnya, dalam pengasuhan sehari-hari, “membanding-bandingkan” sering kali dilakukan ketika anak dianggap belum memenuhi harapan orang tua. Padahal, setiap anak memiliki dunianya sendiri. Mereka bukanlah lembaran kosong yang bisa disalin persis satu sama lain, melainkan “lukisan” yang diciptakan Allah dengan warna dan bentuk yang unik.

Kadang, saat melihat anak orang lain sudah lancar membaca, menghafal banyak juz Al-Qur’an, atau meraih juara kelas, hati kecil kita mulai berbisik, “Mengapa anakku belum bisa seperti itu?” Padahal, bisa jadi Allah memberikan kelebihan pada anak kita bukan dalam bentuk angka atau rekam jejak akademis, melainkan dalam bentuk empati, kelembutan hati, atau kesungguhan yang kelak akan mekar pada waktunya.

Di era media sosial saat ini, manusia seolah hidup di atas panggung besar yang penuh sorotan. Semua orang berlomba menampilkan sisi terbaiknya: kebahagiaan, pencapaian, dan keindahan hidup. Namun, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik layar kehidupan orang lain. Saat melihat kehidupan orang lain tampak lebih mulus dan berwarna, muncul bisikan halus dalam diri: “Mengapa hidupku tidak seindah mereka?”

Padahal, Allah SWT telah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Maka, hentikanlah kebiasaan membandingkan. Membanding-bandingkan tidak hanya menyakiti hati anak, tetapi juga merampas rasa syukur dari hati kita sendiri. Anak yang terus-menerus dibandingkan akan tumbuh dengan rasa “selalu kurang”. Ia merasa harus menjadi orang lain agar bisa dicintai. Padahal, tugas kita sebagai orang tua bukanlah mencetak “salinan” orang lain, melainkan mendampingi mereka tumbuh menjadi versi terbaik dari diri yang telah Allah titipkan.

Percayalah, anak yang dididik dengan kasih sayang—bukan tekanan—akan tumbuh lebih percaya diri, bahagia, dan siap menghadapi tantangan hidup. Jangan tergesa-gesa mengharapkan hasil, sebab bunga pun tidak bisa dipaksa mekar seketika. Bunga mekar pada waktunya karena diberi cukup cahaya, perhatian, dan perawatan.

Mengapa Kita Suka Membandingkan Diri?

Perasaan ingin membandingkan diri sebenarnya wajar dan manusiawi. Namun, jika dibiarkan tanpa kendali, ia dapat menumbuhkan penyakit hati seperti iri dengki (hasad), rasa rendah diri, hingga berburuk sangka (su’udzon) kepada Allah Swt. Islam telah memberikan panduan yang jelas agar hati kita tidak tenggelam dalam pikiran negatif tersebut.

Para ulama menjelaskan bahwa akar dari kebiasaan membandingkan diri terletak pada fokus yang keliru. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah berkata:

“Penyakit hati bermula dari dua hal: terlalu banyak melihat nikmat yang ada pada orang lain, dan terlalu sedikit melihat nikmat yang ada pada diri sendiri.”

Allah Swt juga telah mengingatkan dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa’: 32)

Oleh karena itu, hasad bukan hanya menyakiti orang lain, tetapi juga merusak diri sendiri. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa hasad pada dasarnya adalah bentuk protes terhadap ketentuan Allah—sebuah penyakit hati yang sangat berbahaya.

Bahaya Membanding-bandingkan

Para ulama menyebutkan beberapa dampak buruk akibat kebiasaan membanding-bandingkan, di antaranya:

1.Menghilangkan Rasa Syukur

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang sibuk melihat kelebihan orang lain akan sulit bersyukur. Padahal, syukur adalah kunci utama menuju ketenangan jiwa.

2. Menurunkan Rasa Percaya Diri

Ketika standar hidup diukur dari pencapaian orang lain, seseorang akan selalu merasa kerdil dan kurang, meskipun ia memiliki banyak kelebihan.

3. Menyakiti Perasaan Orang Lain

Ucapan yang membanding-bandingkan dapat melukai perasaan anak atau sesama, membuat mereka merasa tidak dihargai dan rendah diri.

4. Memicu Penyakit Hati

Kebiasaan ini merupakan pintu masuk bagi rasa iri (hasad), dengki, hingga sifat sombong.

Mengobati Hati yang Suka Membanding-bandingkan

Untuk menyembuhkan penyakit hati ini, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan:

1.Fokus pada Diri Sendiri dan Jalur Masing-Masing

Fokuslah menjalani hidup dengan meresapi porsi rezeki dan ujian yang telah Allah tetapkan untuk diri sendiri.

2. Memperbanyak Syukur

Belajarlah menghargai setiap proses, sekecil apa pun nikmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan.

3. Mengubah Iri Menjadi Inspirasi

Jika melihat keberhasilan atau kebaikan pada diri orang lain, jadikanlah hal tersebut sebagai inspirasi untuk memotivasi diri, bukan untuk merasa rendah diri atau merendahkan orang lain.

Demikianlah beberapa hal penting mengenai bahaya membanding-bandingkan beserta cara mengobatinya. Semoga Allah Swt memberikan kita kekuatan agar terhindar dari sifat ini, serta memampukan kita dalam mendidik buah hati dengan penuh kehangatan, kesabaran, dan kasih sayang. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search