Membangun ‘Personal Branding’ Mubaligh Berbasis Integritas

Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur, Dr. Syamsul Ma'arif, M.PSDM. (ist)
www.majelistabligh.id -

Menjadi mubaligh di era digital tidak lagi cukup hanya dengan menguasai materi dakwah. Diperlukan kemampuan membangun citra diri yang positif agar pesan-pesan Islam dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas.

Esensi tersebut dikupas dalam kegiatan Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) Zona Dakwah Tapal Kuda yang berlangsung di SD Muhammadiyah 1 Paiton, Probolinggo, pada Jumat–Ahad (19–21/6/2026).

Hadir sebagai pembicara, Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur, Dr. Syamsul Ma’arif, M.PSDM. Dalam sesi bertajuk “Ilmu Personal Branding Mubaligh”, ia menegaskan bahwa personal branding bukanlah pencitraan palsu.

“Ini adalah proses panjang membangun kepercayaan publik melalui karakter, integritas, dan rekam jejak yang nyata,” jelas Syamsul.

Menurutnya, terdapat tiga elemen utama (3R) yang wajib menyatu dalam diri seorang pendakwah:

  1. Yourself (Diri Sendiri): Memiliki nilai kuat (strong value) yang dibuktikan lewat perilaku, kompetensi, dan kontribusi riil. “Orang akan mengenal kita bukan karena apa yang kita katakan tentang diri kita, tetapi karena apa yang sudah kita buktikan,” cetusnya.
  2. Promise (Janji): Konsistensi antara ucapan dan tindakan guna menjaga kepercayaan jemaah.
  3. Relationship (Hubungan): Kemampuan membangun relasi sehat dengan masyarakat, tokoh publik, hingga mitra kerja demi memperluas jangkauan dakwah.

Refleksi dari Gerobak Rokok hingga Gelar Doktor

Dengan gaya penyampaian yang menyentuh hati, Syamsul membagikan kisah masa kecilnya yang sarat perjuangan di Lamongan. Lahir dari keluarga buruh tani dengan ekonomi terbatas tidak membuatnya patah arang. Usai lulus SMP, ia merantau ke Surabaya untuk bekerja sebagai tukang roti sembari melanjutkan SMA. Bahkan demi membiayai kuliahnya, ia sempat berjualan rokok dan tidur di dalam gerobak dagangannya.

“Ketika memiliki mimpi, kita harus berani mengatakan kepada diri sendiri: I Can Do It! Dan saat kesempatan itu datang, tunjukkan bahwa You Are on The Right Hand—bahwa kita adalah orang yang tepat untuk mengemban amanah tersebut,” kenangnya memotivasi peserta.

Perjalanan hidup yang membawanya hingga meraih gelar doktor ini menjadi bukti autentik bahwa citra diri yang kuat dibentuk oleh tempaan hidup, bukan kemasan sesaat.

Tiga Tahapan dan Tiga Kunci Sukses

Lebih lanjut, Syamsul merinci tiga tahapan penting dalam merancang personal branding:

  • Mengenali Diri Sendiri: Memahami kelebihan untuk dipertajam dan mengevaluasi kelemahan. Termasuk hal sederhana seperti kerapian berpakaian, kebersihan, dan kesantunan tutur kata.
  • Memahami Orang Lain: Membaca karakter dan kebutuhan audiens agar materi dakwah tepat sasaran.
  • Adaptasi Gaya Interaksi: Berkomunikasi secara fleksibel sesuai kultur jemaah tanpa mengorbankan prinsip syariat.

Menutup sesinya, ia mengingatkan para kader bahwa keberhasilan tidak lahir dari ikhtiar manusia semata, melainkan harus diintegrasikan dengan aspek spiritual melalui tiga kunci sukses Al-Qur’an:

  1. Ikhtiar Perubahan: Berusaha keras mengubah nasib diri (QS. Ar-Ra’d ayat 11).
  2. Doa: Memohon ketetapan terbaik kepada Allah (QS. Al-Mukmin ayat 60).
  3. Tawakal: Berserah diri sepenuhnya setelah berusaha maksimal (QS. Ali Imran ayat 159).

Melalui pelatihan ini, para peserta AMM diajak merefleksikan kembali esensi dakwah. Sebab pada akhirnya, efektivitas sebuah pesan tidak hanya dinilai dari apa yang disampaikan, melainkan juga dari integritas siapa yang menyampaikannya. ||abdul wahab

 

Tinggalkan Balasan

Search