Memelihara dan mendokumentasikan jejak perjuangan Persyarikatan Muhammadiyah merupakan modal sosial-keagamaan yang krusial agar spirit pembaruan tidak tergerus oleh zaman.
Pesan mendalam tersebut mengemuka dalam program siaran langsung Ngaji Sore (Ngaso) di TvMu Channel, Ahad (2/8/2026). Ngaji Sore bertema “Mengabadikan Rekam Jejak Persyarikatan Muhammadiyah” yang dipandu oleh Ustaz Irwan Hasan, M.Pd.I. ini menghadirkan Ketua MPID Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya, Drs. H. Andi Hariyadi, M.Pd.I., sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Andi menegaskan bahwa sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, Muhammadiyah telah menorehkan tinta emas dalam panggung peradaban Indonesia. Namun, tantangan di era modern tidak lagi sebatas melanjutkan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial, melainkan juga menyusun dan menceritakan kembali narasi sejarah tersebut secara sistematis, autentik, dan kontekstual.

“Merawat dan mengabadikan rekam jejak persyarikatan adalah ikhtiar menjaga akar sejarah agar generasi mendatang tidak kehilangan arah dalam melangkah,” ujar Andi Hariyadi.
Ia menambahkan, tanpa pencatatan yang rapi, kontribusi besar para tokoh Muhammadiyah—dari tingkat pusat hingga pelosok daerah—terancam meredup ditelan zaman. Padahal, kontribusi tersebut menjadi bagian penting dari fondasi kebangsaan.
Upaya penyelamatan sejarah ini mencakup pengarsipan dokumen penting, penulisan sejarah lokal, digitalisasi naskah dan majalah lama, hingga pendokumentasian biografi para tokoh pergerakan di tingkat cabang dan ranting. Langkah ini dinilai vital untuk membangun kesadaran sejarah angkatan muda, sehingga spirit tajdid (pembaruan) tetap menyala di dada setiap kader.
Di era transformasi digital, penyampaian kisah perjuangan dituntut untuk beradaptasi. Pendokumentasian berbasis media digital, pembuatan konten visual kreatif, dan pemanfaatan platform terbuka menjadi sarana ampuh agar nilai-nilai perjuangan tetap relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.
Jejak Muhammadiyah di Kota Pahlawan
Kota Surabaya tidak hanya dikenal lewat pertempuran fisik melawan penjajah, tetapi juga menjadi gerakan pembaruan Islam. Jejak spiritual dan semangat kebangsaan itu terpatri kuat dalam rekam jejak tokoh-tokoh Muhammadiyah Surabaya yang bermula dari perkampungan hingga panggung nasional.
Salah satu saksi bisu pergerakan ini adalah Masjid Sholeh di Kaliasin. Didirikan sekitar tahun 1921–1922 oleh Kiai Usman—seorang ulama sekaligus Wakil Ketua Muhammadiyah Surabaya pertama—masjid di atas tanah wakaf masyarakat lokal ini menjadi masjid Muhammadiyah paling awal di Surabaya.
Masjid Sholeh tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga pusat musyawarah tokoh-tokoh besar seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansyur. Melalui pengajian, kelas Al-Qur’an, hingga pelatihan bela diri bagi pemuda Kaliasin, tempat ini menempa mentalitas umat dalam membela tanah air.
Tak terpisahkan dari sejarah ini adalah sosok KH Mas Mansyur. Keteguhan iman dan dasar keilmuan beliau dibentuk oleh sang ayah, Kiai Mas Ahmad Marzuqi, seorang imam karismatik di kampung Ampel. Perjalanan menuntut ilmu ke Mesir kemudian memperkaya pemikiran Mas Mansyur muda dengan gagasan-gagasan modernisme Islam.
Sejarah ini membuktikan bahwa perjuangan Muhammadiyah di Surabaya tidak lahir dari ruang hampa. Kombinasi keteladanan orang tua, keberanian ulama kampung, serta pemikiran visioner para tokohnya telah membentuk fondasi kokoh bagi peradaban bangsa.
Melalui dokumentasi yang berkesinambungan, Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjadi pelaku sejarah masa lalu, tetapi juga pemandu arah peradaban Indonesia di masa depan. || chusnun
