Mau ke Mana akan Pergi? Menemukan Hakikat Kehidupan

Ustaz Adi Hidayat
www.majelistabligh.id -

Di tengah hiruk-pikuk mengejar karier, harta, dan kemewahan duniawi, sebuah pertanyaan mendasar dari Sang Pencipta sejatinya terus memanggil nurani manusia: “Fa aina taż-habụn” — Maka ke manakah engkau akan pergi?

“Ayat singkat dari Surat At-Takwir ayat 26 ini menghujat kesadaran terdalam setiap jiwa, menagih kembali kepatuhan sejati manusia sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata Ustaz Adi Hidayat (UAH), dalam video yang diunggah dalam kanal Youtube Adi Hidayat Official.

Pertanyaan dalam Surat At-Takwir tersebut sarat makna. Allah tidak sekadar bertanya, tetapi mengingatkan kembali akan hakikat tujuan penciptaan manusia: yaitu beribadah dan menaati-Nya. Kepatuhan mutlak itulah yang secara etimologis mendasari makna Islam, di mana pemeluknya disebut sebagai seorang muslim.

Sejak fajar menyingsing hingga malam menjelang, seluruh pergerakan manusia idealnya dirancang dalam bingkai kurikulum ibadah. Untuk mengaktifkan sinyal spiritual tersebut, Allah melengkapi manusia dengan sarana ibadah ritual, salah satunya salat.

Pertarungan Jiwa: Takwa vs Fujur

Salat berfungsi mengkoneksikan ruhani manusia dengan Allah. Ketika koneksi tersebut terjalin, terbangunlah kesadaran fitrah yang membimbing akal sehat serta fisik manusia dalam beraktivitas. Namun, dalam mengarungi kehidupan, manusia kerap kali diuji oleh dorongan nafsu yang memalingkan mereka dari nilai-nilai kebaikan.

Sesuai dengan firman Allah dalam Surat Yusuf ayat 53: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku…”

Secara mendasar, dalam diri manusia bertarung dua dorongan: jiwa takwa (karakter moral kebaikan) dan jiwa fujur (nafsu yang menuntun pada keburukan). Segala tingkah laku, mulai dari pandangan mata, ucapan lisan, hingga langkah kaki, sangat bergantung pada dorongan mana yang mendominasi.

Jika hidup hanya dirancang untuk mengejar materi tanpa landasan takwa, manusia akan terjebak dalam lingkaran pertanyaan tanpa batas. Pangkat, ilmu, maupun kemewahan harta pada akhirnya akan mencapai titik jenuh dan sirna saat ajal menjemput.

“Banyak orang berhasil meraih puncak popularitas atau kekayaan melimpah, namun tetap merasa hampa dan terus memburu ketenangan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa materi tak mampu memuaskan dahaga spiritual manusia,” paparnya.

Jawaban terindah dari seorang hamba saat ditanya “Mau ke mana?” adalah sebuah pengakuan jujur: “Saya sedang menyiapkan bekal untuk kembali berjumpa dengan Rabb yang menciptakan saya.”

Menjadi Sosok Ibadurrahman

Bagi mereka yang meniatkan seluruh daya upayanya sebagai bekal menemu-Nya, Allah berjanji akan memberikan petunjuk (hidayah) dalam setiap gerak-gerik kehidupannya. Sosok inilah yang digambarkan dalam Surat Al-Furqan ayat 63 sebagai Ibadurrahman (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih):

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”

Kesadaran ini sejatinya dipatri setiap kali manusia terbangun dari tidurnya melalui doa syukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan.

Kini saatnya setiap individu berefleksi: Apakah deretan harta, jabatan, dan ilmu yang dikumpulkan selama ini sudah menjadi bekal melangkah menuju Allah, atau sekadar tumpukan capaian tanpa arah yang berujung kesia-siaan? || disarikan dari kanal Youtube Adi Hidayat Official dengan judul “Mau Kemana Hidupmu?”

 

 

Tinggalkan Balasan

Search