Mempercayai dukun atau tukang ramal hukumnya haram dan merupakan dosa besar yang dapat merusak akidah dalam pandangan Islam. Dukun mengaku mengetahui perkara gaib, masa depan, atau isi hati manusia, padahal mutlak hanya Allah Swt yang mengetahuinya.
وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَآ إِلاّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاّ فِي كِتَابٍ مّبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am : 59).
Ayat tersebut adalah terjemahan dari Surat Al-An’am ayat 59, yang menjelaskan tentang ilmu Allah Swt yang Maha Luas dan meliputi segala sesuatu di alam semesta.
Maksud dan Kandungan Utama Ayat
- Kunci-kunci yang ghaib: Hanya Allah Swt yang mengetahui segala hal yang tersembunyi atau gaib, dan tidak ada satu pun makhluk yang mengetahuinya kecuali atas izin-Nya.
- Cakupan ilmu di darat dan laut: Pengetahuan Allah sangat luas. Tidak ada tempat di daratan maupun di lautan yang luput dari pengawasan dan pengetahuan-Nya.
- Hal yang paling kecil: Sehelai daun yang gugur di pohon mana pun pasti diketahui oleh Allah. Semua kejadian, takdir, dan rincian ciptaan tersebut sudah tertulis dengan jelas dan nyata di dalam Lauh Mahfuz (kitab catatan takdir di sisi Allah)
- Perkara ghaib yang dimaksudkan dalam ayat di atas adalah semua perkara yang tidak mungkin dijangkau oleh akal dan indera manusia, seperti menentukan hari Kiamat, kapan kepastian lahir dan mati seseorang, apa yang akan dilakukan manusia atau makhluk lain esok hari, dan yang lainnya.
- Ayat tersebut mengajarkan kepada manusia agar selalu merasa diawasi oleh Allah Swt. Kesadaran ini diharapkan dapat menumbuhkan keimanan, ketakwaan, serta kehati-hatian dalam setiap perbuatan karena tidak ada satu pun hal di dunia ini yang tersembunyi dari-Nya.
1.Allah ta’ala hanya memberikan sebagian pengetahuan ghaib tersebut kepada para utusan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Allah berfirman :
مّا كَانَ اللّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىَ مَآ أَنْتُمْ عَلَيْهِ حَتّىَ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطّيّبِ وَمَا كَانَ اللّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَكِنّ اللّهَ يَجْتَبِي مِن رّسُلِهِ مَن يَشَآءُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَإِن تُؤْمِنُواْ وَتَتّقُواْ فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar” (QS. Aali ‘Imran : 179).
Meskipun demikian, tidaklah para utusan Allah dari kalangan Nabi dan Rasul itu mengetahui perkara ghaib secara mutlak, melainkan sebatas yang diberitahukan Allah kepadanya. Allah berfirman:
قُل لاّ أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَآئِنُ اللّهِ وَلآ أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلآ أَقُولُ لَكُمْ إِنّي مَلَكٌ إِنْ أَتّبِعُ إِلاّ مَا يُوحَىَ إِلَيّ
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku” (QS. Al-An’am : 50).
‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa berkata:
ومن حدثك أنه يعلم ما في غد فقد كذب ثم قرأت { وما تدري نفس ماذا تكسب غدا
“Dan barangsiapa menceritakan kepadamu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengetahui apa yang terjadi waktu besok, maka sungguh dia berkata dusta”. Lalu ‘Aisyah membecakan ayat : “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang diusahakannya besok” (HR. Bukhari nomor 4574 Bab Tafsiri Suratin-Najm).
Dari apa yang telah dijelaskan di atas, nyatalah bagi kita semua bahwa perkara ghaib mutlak menjadi hak Allah, dan Dia hanya memberikan sebagian pengetahuan tersebut kepada para Nabi dan Rasul untuk membuktikan kebenaran risalah yang dibawanya.
Terkadang, memang, perkataan dukun tersebut secara kebetulan mencocoki kebenaran. Ada hadis shahih yang menjelaskan fenomena ini. Diriwayatkan dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa ia berkata :
سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم ناس عن الكهان فقال ليس بشيء فقالوا يا رسول الله إنهم يحدثوننا أحيانا بشيء فيكون حقا فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم تلك الكلمة من الحق يخطفها الجني فيقرها في أذن وليه فيخلطون معها مائة كذبة
Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang berita-berita yang disampaikan para dukun. Beliau menjawab : “Berita-berita tersebut bohong belaka”. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya berita-berita yang mereka sampaikan itu terkadang sesuai kenyataan?”. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Itulah kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu dibisikkannya ke telinga pengikutnya. Lalu ia mencampurkannya dengan seratus kebohongan” (HR. Bukhari nomor 5429 Bab : Al-Kahaanah dan Muslim nomor 2228 Bab: Tahriimil-Kahaanah).
Pada hakikatnya, dukun tersebut telah menjadi wali setan dalam berbuat makar kepada Allah untuk menyesatkan manusia. Kabar yang disampaikan setan tersebut mengharuskan dirinya berbuat maksiat kepada Allah, termasuk mengerjakan kesyirikan yang merupakan dosa besar yang paling besar di sisi Allah.
Haram hukumnya bagi kita mempercayai perkataan dukun yang mengkhabarkan perkara ghaib. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة
“Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu lalu ia membenarkannya, maka tidak diterima salatnya selama empat puluh malam” (HR. Muslim nomor 2230).
Praktek perdukunan adalah haram. Bahkan ia termasuk dalam perkara-perkara yang dapat membatalkan ke-Islaman seseorang. Haram pula bagi kita untuk mendatangi, menanyakan sesuatu, dan mempercayai apa yang diucapkan oleh dukun/tukang ramal. Apabila yang ucapkan si dukun tersebut adalah benar, maka itu hanyalah sebuah kebetulan saja. (*)
