Kader Muhammadiyah tidak cukup hanya mampu menghafal tahun berdirinya organisasi ini, nama tokohnya, atau mengenal amal usahanya. Jauh lebih penting dari itu adalah memahami semangat yang melahirkan Muhammadiyah dan bertanya: apakah semangat itu masih hidup dalam diri kita hari ini?
Muhammadiyah adalah organisasi yang lahir dari kegelisahan Kiai Ahmad Dahlan ketika melihat kondisi umat. Saat itu, pada awal abad ke-20, masyarakat menghadapi keterbatasan pendidikan, kemiskinan, kebodohan, dan persoalan sosial-keagamaan yang tidak sederhana.
Kiai Dahlan tidak berhenti pada kritik. Ia mengambil jalan tindakan melalui pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial. Kiai Dahlan juga berani mempertemukan ilmu agama dengan pengetahuan umum dalam sistem pendidikan yang lebih modern.
Bagi saya, guru di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta sekaligus mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2, saya semakin menyadari bahwa di sinilah kekuatan utama Muhammadiyah sejak awal: bahwa agama harus melahirkan tindakan.
Kisah pengajaran Surat Al-Ma’un menjadi contoh yang sangat kuat. Kiai Dahlan mengajak para murid tidak cukup membaca atau menghafal ayat. Mereka diajak memahami maknanya, kemudian mewujudkannya dalam kepedulian kepada anak yatim, fakir miskin, dan masyarakat yang membutuhkan.
Dari sini kita belajar bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti di ruang ibadah, tetapi harus hadir dalam kenyataan hidup.
Kini Muhammadiyah sudah tumbuh menjadi gerakan besar. Sekolah, rumah sakit, universitas, panti sosial, dan berbagai amal usaha hadir di banyak tempat.
Masihkah Hidup Ruh Perjuangan Itu?
Apa yang dulu mungkin dianggap sebagai gagasan terlalu besar, hari ini telah menjadi kenyataan. Namun justru karena Muhammadiyah sudah besar, muncul pertanyaan yang menurut saya penting: apakah besarnya amal usaha juga selalu diikuti oleh besarnya ruh perjuangan?
Risalah Islam Berkemajuan mengingatkan bahwa Muhammadiyah harus terus bergerak dengan berpijak pada tauhid, Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus menghidupkan ijtihad, tajdid, sikap wasathiyah, dan kepedulian terhadap kehidupan.
Karena itu, menjadi berkemajuan bukan sekadar mengikuti tren baru. Berkemajuan berarti mampu membaca perubahan zaman dengan tetap memiliki arah nilai yang jelas.
Tantangan masa depan tentu berbeda dengan masa Kiai Dahlan. Kita berhadapan dengan kecerdasan artifisial, perkembangan teknologi digital, perubahan pola hidup generasi muda, krisis lingkungan, tantangan moral, dan persaingan global.
Karena itu, Muhammadiyah tidak cukup hanya mempertahankan apa yang sudah ada. Muhammadiyah harus berani memikirkan hal-hal yang belum ada.
Sekolah Harus Jadi Laboratorium Perkaderan
Dalam konteks pendidikan, saya melihat tantangan itu sangat nyata. Sekolah Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi tempat murid belajar untuk mendapatkan nilai tinggi dan masuk perguruan tinggi favorit. Sekolah harus menjadi tempat lahirnya manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, kritis, kreatif, dan memiliki kepedulian sosial.
Di sinilah pendidikan bertemu dengan perkaderan. Saya membayangkan SMA Muhi Yogyakarta sebagai laboratorium kader Muhammadiyah masa depan.
Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat murid menimba ilmu, tetapi harus melahirkan murid yang menjadi pemecah masalah. Mereka perlu belajar melakukan riset, membuat inovasi, memanfaatkan teknologi dan AI secara bertanggung jawab, berdialog dengan perbedaan, serta terlibat dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan.
Perkaderan juga tidak cukup melalui penyampaian materi ideologi. Nilai Muhammadiyah akan lebih kuat jika dialami secara langsung. Murid perlu melihat teladan dari gurunya, merasakan budaya sekolah yang adil dan manusiawi, serta diberi ruang untuk mengambil peran.
Sebagai guru, saya pun merasa tantangan itu kembali kepada diri sendiri. Tidak mungkin kita berharap murid memiliki semangat tajdid jika gurunya berhenti belajar.
Tidak mungkin kita ingin melahirkan kader yang peduli jika gurunya tidak menunjukkan keberpihakan kepada sesama. Guru di sekolah Muhammadiyah bukan hanya pengajar, tetapi juga pembawa nilai.
Belajar sejarah Muhammadiyah membuat saya memahami bahwa warisan terbesar Kiai Dahlan bukanlah sekadar sekolah, rumah sakit, atau organisasi. Warisan terbesarnya adalah cara berpikir dan keberanian bertindak.
Maka tugas kita hari ini bukan menyalin apa yang dilakukan Kiai Dahlan pada zamannya. Tugas kita adalah melanjutkan semangatnya untuk menjawab persoalan zaman kita.
Sejarah memberi kita akar dan ideologi memberi arah. Pendidikan menyiapkan kader. Tajdid memberi keberanian untuk melangkah ke masa depan.
Itulah Muhammadiyah yang saya bayangkan: kuat karena sejarahnya, hidup karena nilainya, dan tetap relevan karena berani memperbarui dirinya. || sumber: suara aisyiyah
