Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengajak para mahasiswa dan dosen untuk aktif berburu peluang studi di kancah internasional. Langkah ini dinilai strategis untuk mendongkrak kapasitas diri, memperluas cakrawala berpikir, sekaligus membangun jejaring global yang kuat. Menurutnya, pintu beasiswa internasional kini terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki ketekunan dan komitmen tinggi pada bidang ilmu yang digeluti.
Amanat tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menjadi narasumber dalam Seminar Membedah Peluang Belajar di Luar Negeri dan Meraih Beasiswa Internasional yang diselenggarakan di Tangerang, Rabu (17/6).
Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa modal utama memenangkan kompetisi global ini bukanlah sekadar keberuntungan, melainkan konsistensi dalam mengembangkan kompetensi akademik. Berbagai jalur formal maupun informal kini makin variatif, mulai dari program pertukaran pelajar, kursus jangka pendek, hingga kolaborasi riset dan publikasi ilmiah yang didanai oleh berbagai lembaga donor internasional.
“Peluang itu selalu ada dan sangat terbuka. Namun, semuanya menuntut satu hal: kesungguhan untuk mendalami bidang ilmu secara spesifik. Kuncinya terletak pada komitmen individu,” ujar Mendikdasmen.
Lebih dari sekadar mengejar gelar, Abdul Mu’ti menekankan bahwa esensi merantau demi ilmu adalah pembentukan karakter dan pola pikir. Lingkungan akademis yang baru akan melatih mentalitas yang tangguh. Oleh karena itu, hasrat untuk melanjutkan studi ke luar negeri wajib dibarengi dengan perencanaan matang serta daya tahan motivasi yang kuat agar tidak goyah saat menghadapi gegar budaya (culture shock) maupun tantangan akademis.
Ia juga menguraikan keunggulan ekosistem pendidikan di luar negeri yang cenderung lebih dinamis. Di berbagai universitas top dunia, atmosfer akademik yang kompetitif justru melahirkan budaya berpikir logis dan kritis. Hal ini didukung oleh sistem pendampingan (mentorship) antara dosen dan mahasiswa yang berjalan secara intensif dan interaktif.
“Atmosfer akademik yang kuat membuat proses belajar menjadi jauh lebih bermakna. Struktur berpikir yang tajam dan kritis tidak lahir instan, melainkan ditempa oleh budaya diskusi serta riset yang hidup di lingkungan kampus,” tuturnya.
Selain keuntungan intelektual, sisi humanis yang tidak kalah penting adalah pengalaman lintas budaya. Tinggal di negara orang memberikan kesempatan emas untuk menyerap nilai-nilai positif, seperti kedisiplinan tinggi, budaya antre, penghormatan terhadap hak sesama, hingga ketertiban di ruang publik yang nantinya dapat diadopsi dan diterapkan di tanah air.
Menutup paparannya, Mendikdasmen menyoroti aspek investasi jangka panjang berupa international networking. Interaksi intensif dengan mahasiswa, ilmuwan, dan profesional dari berbagai belahan dunia akan membuka keran kolaborasi global sekaligus memperluas perspektif dalam mencari solusi atas isu-isu internasional.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Desri Arwen, turut mengamini pandangan tersebut. Menurutnya, menuntut ilmu setinggi mungkin adalah pilar penting dalam memajukan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Akses pendidikan internasional harus dioptimalkan sebagai batu loncatan demi mencetak sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul dan berdaya saing global. (*/tim)
