Ketika Dompet Tipis, Jangan Sampai Iman Ikut Menipis

Ketika Dompet Tipis, Jangan Sampai Iman Ikut Menipis
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah ungkapan yang sangat populer di tengah umat Islam: “Fakir dekat kepada kekafiran.” Kalimat ini sering dikutip, tetapi tidak jarang pula dipahami secara serampangan. Seolah-olah setiap orang miskin pasti berada di ambang kekafiran. Padahal, sejarah Islam justru dipenuhi orang-orang sederhana yang imannya menjulang tinggi, sementara tidak sedikit orang kaya yang tenggelam dalam kesombongan.

Jadi, yang perlu diwaspadai bukanlah kemiskinannya, melainkan apa yang dilakukan hati ketika berhadapan dengan kemiskinan.

Kemiskinan memang ujian yang berat. Perut yang kosong sering kali membuat logika ikut lapar. Tagihan yang menumpuk dapat membuat akal kehilangan arah. Dalam kondisi seperti itu, setan tidak perlu bekerja lembur. Ia cukup membisikkan, “Yang penting dapur mengepul. Soal halal dan haram nanti saja dipikirkan.”

Celakanya, bisikan itu sering terdengar sangat “rasional.”

Di sinilah letak peringatan ungkapan tersebut. Bukan menghina orang miskin, melainkan mengingatkan bahwa tekanan hidup dapat menggoyahkan benteng iman apabila tidak disertai kesabaran, ikhtiar, dan dukungan sosial.

Ironisnya, masyarakat kita sering memiliki standar ganda. Ketika seorang miskin mencuri seekor ayam karena lapar, seluruh kampung gaduh. Tetapi ketika orang berdasi menggerogoti anggaran miliaran rupiah, sebagian masih sempat berdebat apakah itu benar-benar korupsi atau sekadar “kesalahan administrasi.”

Padahal, jika ukuran dosa dihitung berdasarkan nilai kerugian, ayam itu mungkin hanya kehilangan beberapa kilogram daging, sedangkan korupsi telah membuat jutaan rakyat kehilangan masa depan.

Lucunya lagi, ada orang yang merasa dirinya tidak miskin karena saldo rekeningnya tebal, padahal hati dan nuraninya sudah lama bangkrut.

Dalam Islam, kekafiran yang dimaksud dalam konteks ini tidak selalu berarti keluar dari agama. Bentuknya bisa berupa kufur nikmat, ketika seseorang terus mengeluh seolah Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak pernah memberinya apa pun. Bisa pula berupa kufur perbuatan, yaitu menghalalkan segala cara demi memperoleh harta. Bahkan yang paling berbahaya adalah kufur akidah, ketika seseorang mulai mempertanyakan keadilan dan kasih sayang Allah hanya karena hidup terasa sempit.

Semua itu berawal dari satu penyakit yang sama: kehilangan harapan.

Karena itu, Islam tidak hanya memerintahkan orang miskin untuk bersabar. Islam juga memerintahkan orang kaya untuk peduli. Zakat, infak, sedekah, wakaf, dan berbagai bentuk kepedulian sosial bukan sekadar aktivitas filantropi, melainkan mekanisme menjaga stabilitas moral masyarakat.

Bayangkan jika semua orang kenyang, tetapi tidak ada yang peduli. Perut memang penuh, tetapi hati tetap kosong.

Sebaliknya, bayangkan jika semua orang saling menolong. Kemiskinan mungkin belum sepenuhnya hilang, tetapi harapan tetap hidup. Dan selama harapan masih ada, iman memiliki tempat untuk bertahan.

Sayangnya, di era media sosial muncul fenomena baru yang cukup menggelitik. Ada orang yang mengunggah foto sedang membagikan sembako dengan kamera lebih siap daripada penerima bantuan. Kadang-kadang proses mengambil gambar lebih lama daripada proses menyerahkan bantuan.

Sedekahnya lima menit, sesi fotonya lima belas menit.

Tentu tidak semua demikian. Namun satire ini mengingatkan bahwa keikhlasan jangan sampai kalah oleh pencahayaan kamera. Sebab Allah tidak pernah meminta bukti transfer untuk diyakinkan bahwa kita telah berbuat baik.

Lebih menarik lagi, kini kemiskinan bukan hanya soal isi dompet, tetapi juga isi karakter. Ada yang hartanya melimpah, tetapi miskin rasa syukur. Ada yang rumahnya megah, tetapi miskin empati. Ada pula yang jabatannya tinggi, tetapi miskin amanah.

Kalau yang terakhir ini cukup banyak, APBN pun bisa ikut stres.

Islam mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah jumlah aset, melainkan kualitas takwa. Orang miskin yang menjaga kehormatan dirinya jauh lebih mulia daripada orang kaya yang memperoleh kekayaan dengan menabrak batas halal dan haram.

Karena itu, ungkapan “fakir dekat kepada kekafiran” seharusnya dibaca sebagai alarm bersama, bukan vonis terhadap kaum miskin. Alarm bagi individu agar tidak kehilangan iman ketika diuji kekurangan. Alarm bagi masyarakat agar tidak membiarkan ketimpangan semakin melebar. Dan alarm bagi para pemegang amanah agar tidak menciptakan kebijakan yang membuat rakyat semakin sulit bertahan hidup.

Pada akhirnya, musuh terbesar manusia bukanlah kemiskinan materi. Yang paling berbahaya adalah kemiskinan iman, kemiskinan rasa syukur, dan kemiskinan kepedulian.

Dompet yang tipis masih bisa diisi kembali dengan kerja keras dan pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun hati yang kosong dari iman membutuhkan usaha yang jauh lebih berat untuk memenuhinya.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita kaya dalam syukur, lapang dalam berbagi, kuat dalam kesabaran, dan teguh dalam keimanan. Sebab harta hanyalah titipan, sedangkan iman adalah bekal yang akan menemani hingga kehidupan yang kekal.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search