Menelusuri Jejak Permusyawaratan Muhammadiyah

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Siapa sangka, sebuah organisasi yang kini menaungi ribuan sekolah, rumah sakit, dan perguruan tinggi, dulunya meramu keputusan-keputusan besarnya dalam istilah bahasa Belanda?

Jejak perjalanan Muhammadiyah sejak berdiri pada tahun 1912 bukan hanya cerita tentang kerja kemanusiaan, melainkan juga kisah adaptasi dan transformasi forum permusyawaratan tingginya. Dari istilah kolonial hingga simbol lokal yang syarat makna, cara Muhammadiyah bermusyawarah terus berkembang mengikuti zamannya.

Sepanjang sejarahnya, Muhammadiyah telah menggelar permusyawaratan tertinggi sebanyak 48 kali. Istilah yang digunakan untuk menyebut ajang musyawarah akbar ini terus mengalami perubahan, yakni:

  • Tahun 1912–1921 (Algemene Vergadering): Pada masa awal berdiri, Muhammadiyah memakai bahasa Belanda yang berarti “Rapat Umum” untuk menggelar musyawarah tahunannya.
  • 1922 (Jaarvergadering): Muhammadiyah sempat menggunakan istilah Belanda lain yang berarti “Rapat Tahunan”.
  • 1922–1946 (Congres): Pengaruh bahasa serapan mulai masuk, dan istilah “Kongres” resmi menggantikan sebutan era kolonial sebelumnya.
  • 1951–sekarang (Muktamar): Istilah ini akhirnya ditetapkan secara resmi hingga saat ini. Muktamar merupakan forum permusyawaratan tertinggi yang diselenggarakan di bawah tanggung jawab Pimpinan Pusat.

Selain Muktamar, dikenal pula istilah Tanwir, yaitu musyawarah tertinggi kedua di bawah Muktamar. Istilah Tanwir mulai muncul pada tahun 1932 saat Kepemimpinan KH. Hisyam, lalu diresmikan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-24 di Banjarmasin pada tahun 1935.

Menuju Puncak Milad ke-114 di Palu 2026

Memasuki tahun 2026, Palu menjadi saksi momen penting Persyarikatan. Tanwir 2026 di Palu digelar sekaligus menjadi Tanwir terakhir untuk kepengurusan periode 2022–2027—sebelum nantinya menyambung ke Tanwir yang melekat pada Muktamar di Medan tahun 2027.

Mengangkat tema “Bersama Satukan Bangsa“, ajang Tanwir dan Puncak Milad ke-114 ini membawa amanat normatif: menegaskan kembali potensi Indonesia untuk tetap solid dan bersatu di tengah keberagaman, sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Salah satu hal paling menarik pada peringatan Milad ke-114 adalah logonya. Menampilkan corak postmodern dengan simbol daun kelor, logo ini bukan sekadar pemanis estetika visual, melainkan wadah nilai dan filosofi gerakan Muhammadiyah.

Daun kelor kerap digelari sebagai miracle tree (pohon ajaib). Setidaknya ada tiga filosofi mendalam di balik daun kelor yang sangat relevan dengan Muhammadiyah:

1. Kesederhanaan dan Ketangguhan

Pohon kelor bisa tumbuh di berbagai kondisi tempat tanpa perawatan yang rumit. Ini menggambarkan karakter Muhammadiyah yang sederhana namun tangguh dan berdaya tahan tinggi dalam melayani masyarakat.

2. Keluasan Wawasan dan Pergerakan

Melalui pepatah kuno “dunia tak selebar daun kelor”, bentuk daun yang kecil ini justru di balik pemaknaannya menjadi simbol keluasan—bahwa cara pandang dan jangkauan pengabdian Muhammadiyah tidak boleh sempit.

3. Kesejahteraan dan Kemakmuran

Daun kelor kaya nutrisi dan bermanfaat saat diolah menjadi masakan khas Nusantara. Hal ini mencerminkan komitmen Muhammadiyah untuk terus memberikan manfaat konkrit yang menyejahterakan dan memakmurkan umat.

Perjalanan panjang dari era Algemene Vergadering hingga filosofi miracle tree pada Milad ke-114 memperlihatkan satu hal: Muhammadiyah selalu tahu cara menjaga akar sejarahnya sambil terus relevan dan memberi manfaat bagi bangsa. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search