Ketika Rezeki Tidak Pernah Tidur

*) Oleh : Dahlia Firdausi, S.E.
Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah, Universitas Muhammadiyah Surabaya
www.majelistabligh.id -

“Kalau tidak bekerja, bagaimana rezeki datang?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, di tengah budaya hustle ketika kesibukan dipandang sebagai simbol keberhasilan, itu bisa berubah menjadi keyakinan yang lebih dalam: seolah-olah rezeki akan berhenti ketika kita berhenti bekerja.

Kita membawa pekerjaan ke rumah, membuka laptop sebelum tidur, membalas pesan pada tengah malam, bahkan merasa bersalah ketika beristirahat. Kita hidup dalam ekonomi yang seakan tidak mengenal malam.

Padahal Al-Qur’an menawarkan cara pandang yang berbeda. Allah berfirman dalam Q.S. An-Naba: 9-11, “Dan Kami menjadikan tidurmu untuk beristirahat. Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian (penutup yang gelap dan tenang). Dan Kami menjadikan siang untuk mencari penghidupan.”

Ayat ini menarik bukan hanya karena berbicara tentang tidur, melainkan karena menempatkan istirahat dan mencari rezeki dalam satu struktur kehidupan. Ada waktu untuk berusaha dan ada waktu untuk memulihkan diri. Keduanya sama-sama berada dalam rahmat Allah.

Persoalannya, budaya hustle sering membalik hubungan tersebut. Waktu dinilai berdasarkan produktivitas ekonomi. Tidur dianggap kehilangan peluang. Berhenti dianggap tertinggal. Bahkan identitas manusia perlahan diukur dari seberapa banyak yang ia hasilkan.

Di sinilah filsafat hukum ekonomi Islam menawarkan koreksi.

Dalam perspektif tauhid, Allah adalah pemilik hakiki, sedangkan manusia adalah pihak yang diberi amanah untuk mengelola apa yang dimilikinya. Manusia diperintahkan berikhtiar mencari kasb (penghasilan), tetapi tidak diberi kuasa atas seluruh hasil. Karena itu, ikhtiar adalah bagian dari tanggung jawab manusia; hasil bukan wilayah kekuasaannya sepenuhnya.

Tawakkal bukan alasan untuk bermalas-malasan. Sebaliknya, tawakkal membebaskan manusia dari keyakinan bahwa segala sesuatu bergantung mutlak pada dirinya. Kita bekerja karena Allah memerintahkan usaha; kita berhenti karena tubuh memiliki hak; dan kita tidur tanpa harus merasa bahwa rezeki sedang ikut tidur.

Konteks ini menjadi semakin penting ketika data kesehatan menunjukkan konsekuensi dari kerja berlebihan. WHO dan ILO memperkirakan bahwa pada 2016, bekerja 55 jam atau lebih per minggu berkaitan dengan 745.000 kematian akibat stroke dan penyakit jantung iskemik secara global.

Ini bukan berarti bekerja keras adalah sesuatu yang buruk. Islam justru memerintahkan manusia bertebaran di bumi dan mencari karunia Allah setelah menunaikan salat (QS. Al-Jumu’ah: 10). Yang perlu dikritik adalah ketika kerja berubah dari sarana menjadi orientasi hidup, dan ketika akumulasi harta mengalahkan kesehatan, keluarga, ibadah, bahkan ketenangan jiwa.

Maqāṣid al-syarī‘ah mengingatkan bahwa kemaslahatan tidak hanya menyangkut ḥifẓ al-māl (perlindungan harta), tetapi juga perlindungan agama, jiwa, akal, dan keturunan. Harta yang bertambah dengan mengorbankan seluruh dimensi kehidupan tidak otomatis mencerminkan kemaslahatan.

Barangkali karena itu pertanyaan yang lebih tepat bukan, “Berapa banyak yang sudah kita hasilkan hari ini?”

Melainkan: “Apakah cara kita mencari rezeki masih membuat kita menjadi hamba Allah, atau justru menjadikan kita hamba pekerjaan?”

Sebab rezeki memang harus dicari. Tetapi rezeki bukan Tuhan.

Dan barangkali kita perlu mengingat kembali sesuatu yang sederhana: Allah menjadikan malam untuk beristirahat, sementara rezeki tidak ikut tidur.

***

Bionarasi: Dahlia Firdausi, S.E., atau Dahlia F. Soebagijo, lahir di Nganjuk pada 1993. Ia adalah ibu dan aparatur sipil negara di bidang pengelolaan keuangan daerah, sekaligus mahasiswa Magister Hukum Ekonomi Syariah di Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Di sela pekerjaan dan studi, Dahlia menulis opini, karya ilmiah, dan puisi sebagai ruang mempertemukan olah akal dan hati. Puisinya berangkat dari kehidupan, kegelisahan, dan perenungan atas hal-hal yang dekat dengan keseharian.

Karyanya dapat dijumpai melalui Instagram @dahliausi.

 

Tinggalkan Balasan

Search