Menepis Islamofobia, Dosen UMY Latih Manajemen Organisasi Diaspora Muslim di Jepang

Pelatihan manjemen para diaspora muslim di Jepang. (ist)
www.majelistabligh.id -

Hidup sebagai kelompok minoritas di luar negeri membawa tantangan kompleks bagi diaspora Muslim Indonesia. Selain tuntutan adaptasi lingkungan, mereka kerap diperhadapkan pada stereotipe negatif, hookan (hoax), hingga potensi Islamofobia akibat bingkai (framing) media barat yang kurang berimbang.

Merespons fenomena tersebut, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Mega Hidayati, menginisiasi program pengabdian masyarakat internasional berupa pelatihan manajemen organisasi bagi komunitas Muslim di Hokkaido, Jepang.

Kegiatan bertajuk “Identifying the Needs of Ummah in Diaspora and Organizational Contribution to Society” ini berlangsung secara bertahap sejak awal Februari hingga akhir Juni 2026. Adapun sesi pelatihan intensifnya menyasar para pengelola dari berbagai organisasi Islam di wilayah Hokkaido.

Dr. Mega Hidayati menjelaskan bahwa organisasi Muslim Indonesia di luar negeri mengemban peran ganda yang sangat strategis, baik secara internal maupun eksternal.

“Secara internal, organisasi berfungsi membina sekaligus memperkuat tauhid dan ibadah umat. Hidup sebagai minoritas di Jepang tentu tidak mudah. Mereka menghadapi tantangan praktis mulai dari pelaksanaan ibadah di sekolah atau tempat kerja, keragaman budaya Islam dari negara lain, hingga akses pangan halal,” ujar Mega pada Rabu (1/7/2026).

Sementara dari sisi eksternal, organisasi dituntut mampu membangun komunikasi positif dengan masyarakat lokal. “Organisasi harus bisa berkolaborasi dengan komunitas non-keagamaan serta aktif berkontribusi dalam isu-isu sosial dan kemanusiaan di negara setempat,” tambahnya.

Melalui pelatihan ini, Mega berharap komunitas Muslim diaspora di Jepang dapat mengidentifikasi kebutuhan riil umat, meningkatkan tata kelola organisasi, sekaligus mengeksplorasi potensi kontribusi nyata sebagai bagian dari warga masyarakat Jepang.

Program pengabdian lintas negara ini terlaksana atas kerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Jepang dan Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Hokkaido.

Ketua PRIM Hokkaido, Mustakim, menyambut positif agenda ini. Sebagai organisasi yang baru dideklarasikan pada 5 Oktober 2025 lalu, pelatihan ini menjadi modal penting untuk memetakan arah gerakan organisasi ke depan.

“Kami terhitung baru di Hokkaido, belum genap satu tahun. Namun, kami memiliki komitmen kuat untuk memberikan kontribusi nyata. Tidak hanya bagi diaspora Muslim Indonesia di sini, tetapi juga bagi masyarakat Jepang secara luas,” tegas Mustakim. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search