Mengasah Potensi Kebaikan

Mengasah Potensi Kebaikan
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

“The gold can’t be pure, and people can’t be perfect. Metal is tested by fire, man by money.”
“(Emas tidak ada yang benar-benar murni, dan manusia tidak ada yang sempurna. Logam diuji dengan api, manusia diuji dengan harta).”

Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada seorang pun yang luput dari kesalahan. Justru di balik ketidaksempurnaan itulah Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk saling menasihati, mengingatkan dalam kebenaran, dan berlomba-lomba dalam amal saleh. Orang yang bijaksana tidak sibuk mencari kesalahan orang lain, melainkan berusaha memperbaiki dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik.

Allah Swt berfirman:
وَالۡعَصۡرِۙ‏ (١) اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ‏( ٢) اِلَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡرِ(‏ ٣)
Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Ayat ini menjelaskan bahwa keberuntungan hanya diraih oleh orang-orang yang memadukan keimanan, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Kehidupan yang baik dibangun dengan memperbaiki diri sekaligus mengajak orang lain kepada kebaikan dengan hikmah.

Allah juga berfirman:
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.“(QS. Ar-Ra’d: 11)

Menurut para mufasir, perubahan yang hakiki harus dimulai dari diri sendiri. Karena itu, memperbaiki akhlak dan mengasah potensi kebaikan merupakan langkah awal menuju perubahan yang diridhai Allah. Dalam hadis, Dari Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada masing-masingnya terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan loyo/malas. Apabila sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah. Dan apa yang Dia inginkan, maka Dia kerjakan.’ Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah perbuatan setan.” (HR. Muslim No. 2664)

Hadis ini mengajarkan agar seorang mukmin terus mengembangkan kemampuan, memperbaiki diri, dan memanfaatkan setiap potensi yang dimiliki untuk memberikan manfaat bagi sesama. Menyalahkan keadaan atau orang lain tidak akan menyelesaikan masalah, sedangkan introspeksi dan usaha sungguh-sungguh akan membuka pintu keberhasilan.

Marilah kita mengasah potensi kebaikan yang Allah anugerahkan. Jadikan setiap kekurangan sebagai motivasi untuk belajar, setiap ujian sebagai sarana meningkatkan keimanan, dan setiap interaksi sebagai ladang amal. Hindarilah kebiasaan menyalahkan orang lain, karena kemuliaan seorang mukmin tampak dari kesungguhannya dalam memperbaiki diri dan menebarkan manfaat bagi sesama.

Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Search