Mengelola Diaspora, Meneguhkan Akar di Era Disrupsi

Mengelola Diaspora, Meneguhkan Akar di Era Disrupsi
*) Oleh : Dr H. Suli Da'im, MM
Ketua PWPM Jatim 2006-2010 & Dosen FEB Umsura
www.majelistabligh.id -

Peringatan Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah pada 2 Mei 2026 dengan tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya” menuntut pembacaan yang lebih akademik dan reflektif. Tema ini tidak cukup dimaknai secara simbolik, tetapi harus diletakkan dalam kerangka teori organisasi, realitas sosial, dan warisan ideologis Muhammadiyah yang dirintis oleh Ahmad Dahlan.

Sejak awal, Ahmad Dahlan membangun model kaderisasi yang melampaui batas organisasi formal. Ia tidak hanya mencetak aktivis dakwah, tetapi juga melahirkan kelas menengah terdidik—guru, dokter, insinyur, pengusaha, hingga pemimpin publik—yang diharapkan menjadi agen perubahan sosial. Dalam perspektif modern, ini dapat dibaca sebagai strategi human capital development berbasis nilai.

Namun, Dahlan tidak berhenti pada produksi kader. Ia menanamkan prinsip penting: kader yang bertumbuh harus kembali menguatkan umat dan persyarikatan. Inilah yang dalam konteks kekinian menjadi tantangan serius: bagaimana mengelola diaspora kader agar tidak berujung pada disorientasi gerakan.

Diaspora Kader: Antara Kapital Sosial dan Risiko Keterputusan

Dalam dua dekade terakhir, kader Pemuda Muhammadiyah menunjukkan mobilitas sosial yang signifikan. Mereka tersebar di berbagai sektor strategis: partai politik, parlemen (DPR/DPRD), kementerian, birokrasi (ASN), hingga dunia usaha dan BUMN.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori social capital yang dikembangkan oleh Pierre Bourdieu, yang menekankan bahwa jaringan, relasi, dan posisi sosial merupakan sumber daya penting dalam reproduksi kekuasaan dan pengaruh.

Namun, kapital sosial tersebut akan kehilangan makna kolektif jika tidak terhubung dengan basis organisasi. Dalam konteks ini, risiko yang muncul adalah apa yang disebut sebagai organizational decoupling—terputusnya hubungan antara elite kader dan akar gerakan.

Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan bahwa tantangan struktural pemuda Indonesia masih besar. Tingkat pengangguran terbuka usia 15–24 tahun secara konsisten berada di kisaran dua digit, jauh di atas rata-rata nasional. Selain itu, ketimpangan akses pendidikan dan ekonomi di berbagai daerah masih menjadi persoalan laten.
Artinya, kebutuhan akan gerakan pemuda yang kuat dan mengakar bukan sekadar wacana, tetapi kebutuhan objektif bangsa. Dalam situasi ini, diaspora kader seharusnya menjadi bridging capital—jembatan antara kekuasaan dan kebutuhan masyarakat.

Perspektif Manajemen Organisasi: Dari Individual Success ke Collective Impact

Dalam teori manajemen modern, Peter Drucker menegaskan bahwa organisasi yang efektif adalah yang mampu mentransformasikan kapasitas individu menjadi kinerja kolektif. Sementara itu, Henry Mintzberg menekankan pentingnya keseimbangan antara strategic apex (elite) dan operating core (basis).

Jika diterapkan pada Pemuda Muhammadiyah, maka keberhasilan kader menjadi menteri, anggota DPR, komisaris, atau pejabat publik harus diterjemahkan menjadi:
Penguatan kapasitas organisasi di tingkat akar rumput.

Akses kebijakan yang berpihak pada kepentingan umat. Distribusi peluang ekonomi dan sosial bagi kader di bawah. Tanpa mekanisme ini, pertumbuhan hanya akan menghasilkan elitisme organisasi, bukan transformasi sosial.

Catatan Personal: Pengalaman sebagai Basis Refleksi.

Sebagai mantan Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur periode 2006–2010, saya memandang dinamika ini dalam kerangka pengalaman historis. Pada masa tersebut, tantangan utama adalah konsolidasi organisasi dan penguatan ideologi kader. Hari ini, tantangannya jauh lebih kompleks: disrupsi digital, fragmentasi sosial, dan penetrasi kekuasaan. Namun, ada satu benang merah yang tidak berubah:
organisasi hanya akan kuat jika kadernya tetap terhubung dengan nilai dan basis sosialnya.

Pengalaman berproses di Pemuda Muhammadiyah menunjukkan bahwa organisasi ini bukan sekadar ruang aktivitas, tetapi ruang pembentukan karakter dan orientasi pengabdian. Oleh karena itu, ketika kader mencapai posisi strategis di luar, seharusnya terjadi proses return of investment sosial—kembali memberi kepada organisasi dan masyarakat.

Spirit Qur’ani: Integrasi Pertumbuhan dan Akar
Al-Qur’an memberikan landasan filosofis yang kuat:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.”
(QS. Ibrahim: 24)
Ayat ini menggambarkan model ideal organisasi:
Cabang menjulang → keberhasilan kader di berbagai sektor
Akar kuat → keterikatan pada nilai dan masyarakat. Keduanya harus berjalan simultan. Pertumbuhan tanpa akar akan rapuh, sementara akar tanpa pertumbuhan akan stagnan.

Reorientasi Strategis: Mengelola Diaspora sebagai Kekuatan
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan langkah strategis:
– Pertama, institusionalisasi jaringan diaspora kader.
Pemuda Muhammadiyah perlu membangun sistem yang menghubungkan kader lintas sektor agar kontribusinya terarah dan terukur.
– Kedua, penguatan mekanisme kontribusi balik.
Kader yang berada di posisi strategis harus memiliki kewajiban moral dan struktural untuk mendukung kaderisasi, ekonomi, dan gerakan sosial.
– Ketiga, transformasi organisasi berbasis dampak.
Menggeser orientasi dari kegiatan ke hasil (outcome-based organization), sejalan dengan kajian Organizational Behavior.

Meneguhkan Jalan mbah Dahlan

Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah harus menjadi momentum untuk meneguhkan kembali jalan yang telah dirintis oleh Ahmad Dahlan: melahirkan kader unggul yang tersebar di berbagai bidang, tetapi tetap kembali untuk menguatkan umat.

Dalam konteks Indonesia hari ini, dengan kompleksitas tantangan sosial-ekonomi yang ada, keberadaan Pemuda Muhammadiyah sebagai gerakan yang bertumbuh dan mengakar bukan hanya penting, tetapi mendesak.
Karena pada akhirnya, Indonesia Jaya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya elite yang sukses, tetapi oleh seberapa kuat mereka terhubung dengan akar sosial dan mampu menghadirkan keadilan serta kemaslahatan bagi seluruh rakyat. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search