Kurban dan Etika Lingkungan: Menjadikan Iduladha Minim Sampah

Kurban dan Etika Lingkungan: Menjadikan Iduladha Minim Sampah
*) Oleh : Hanif Asyhar, S.HI, M. Pd.
Praktisi Parenting Nasional dan Konsultan Pengembang Pendidikan
www.majelistabligh.id -

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
الحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ، وَنَهَانَا عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jemaah salat Iduladha yang dirahmati Allah SWT,
Hari ini, di lapangan yang penuh berkah ini, kita mengumandangkan takbir, tahlil, dan tahmid, mensyukuri nikmat Allah SWT yang mempertemukan kita dengan Hari Raya Iduladha 1447 H/2026 M dengan keadaan yang sehat walafiat.

Hari raya ini bukan sekadar rutinitas tahunan penyembelihan hewan, melainkan puncak dari penyerahan diri total seorang hamba kepada Sang Khalik, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Namun, di balik dimensi spiritual yang agung tersebut, ada sebuah tanggung jawab moral kemanusiaan yang sering terlupa, yakni menjaga kelestarian bumi. Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi etika terhadap lingkungan.

Dalam perspektif Islam, manusia diciptakan sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Tugas utama khalifah adalah memakmurkan bumi (‘imaratul ardh), bukan merusaknya. Allah SWT melarang keras segala bentuk perusakan alam.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-A’raf ayat 56.
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ۝٥٦
Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah SWT sangat dekat bagi orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A’raf:56).

Ayat ini menjadi landasan teologis bahwa setiap ibadah yang kita lakukan tidak boleh membawa dampak destruktif bagi lingkungan alam.

Jemaah yang berbahagia,
Kurban adalah bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarrub). Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging atau darahnya, melainkan ketakwaan kita sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 37.
نْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ۝٣٧
Artinya, daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah SWT, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah SWT atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin. (QS. Al-Hajj:37).

Oleh karena itu, salah satu bukti ketakwaan adalah menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan saat beribadah.
Jika kita meninjau dari kacamata akademik dan lingkungan, perayaan Iduladha skala nasional selalu menyisakan tantangan besar terkait lonjakan timbulan sampah. Proyeksi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa jutaan hewan kurban yang disembelih berpotensi menghasilkan puluhan juta lembar sampah kantong plastik sekali pakai.

Plastik adalah material anorganik yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai, mencemari tanah, merusak ekosistem air, serta melepaskan emisi gas rumah kaca.

Tentu menjadi sebuah ironi; jika ibadah yang hakikatnya mensucikan jiwa dan membawa rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamiin), justru menyisakan kerusakan bagi lingkungan di sekitarnya. Atas dasar kesadaran inilah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa Nomor 41 Tahun 2014 secara tegas mengimbau umat Islam untuk beralih ke praktik kurban yang minim sampah atau zero waste.

Dari kacamata akademik dan sains lingkungan, sistem pengelolaan sampah yang baik harus menganut prinsip ekonomi sirkular. Konsep Zero Waste (bebas sampah) mendorong kita untuk meminimalkan timbulan sampah, memaksimalkan penggunaan kembali (reuse), dan mendaur ulang (recycle). Seluruh limbah kurban, secara akademis, memiliki nilai ekonomi dan ekologis yang tinggi jika dikelola dengan benar.

Jemaah salat Iduladha yang berbahagia,
Lalu, bagaimana kita mewujudkan Iduladha yang Zero Waste dan ramah lingkungan? Ada beberapa langkah konkret yang sejalan dengan tuntunan agama dan ilmu pengetahuan. Diantaranya adalah:

Pertama, Reduksi plastik (Pengurangan di Hulu)
Gaya hidup zero waste dimulai dari penolakan terhadap penggunaan plastik sekali pakai. Hindari penggunaan kantong plastik hitam (kresek) untuk wadah daging kurban, karena secara ilmiah berpotensi mengandung zat karsinogenik dan sulit terurai di alam hingga ratusan tahun. Maka, panitia kurban dianjurkan menggunakan wadah ramah lingkungan seperti besek bambu, daun pisang, wadah makanan reusable (bisa dicuci kembali), atau daun jati.

Kedua, Pengelolaan Limbah Organik (Rot).
Limbah seperti isi perut, kotoran hewan (rumen), dan sisa potongan daging yang tidak layak konsumsi sebaiknya tidak dibuang ke sungai atau ditumpuk begitu saja, karena sebenarnya limbah ini dapat diolah menjadi pupuk kompos organik yang menyuburkan tanah, atau dimanfaatkan sebagai pakan maggot (biokonversi) yang bernilai ekonomi tinggi.

Ketiga, Efisiensi Distribusi (Menghindari Pemborosan).
Dalam konsep modern, dikenal istilah food waste (pemborosan makanan). Distribusi daging kurban haruslah tepat sasaran dan dikemas dengan porsi yang ideal agar tidak terjadi penumpukan yang berujung pada pembusukan.

Jemaah Salat Iduladha yang Berbahagia,
Iduladha mengajarkan kita tentang pengorbanan. Mari kita kurbankan ego yang sering kali merasa bebas membuang sampah. Mari kita jadikan masjid serta lingkungan tempat tinggal kita sebagai pelopor gerakan peduli lingkungan.
Pengorbanan hewan akan menjadi berkah hakiki jika prosesnya membawa maslahat, tidak hanya bagi fakir miskin, tetapi juga bagi kelestarian alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita umat yang senantiasa menjaga bumi titipan-Nya. Aamiin Yaa Rabb.

Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah yang berbahagia, di penghujung khutbah, mari kita tundukkan kepala seraya bermunajat kepada Allah SWT. Semoga melalui semangat kurban, kepedulian kita terhadap sesama dan lingkungan semakin meningkat.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا. اللهُمَّ اجْعَلْ بَلْدَتَنَا هٰذِهِ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Tinggalkan Balasan

Search