Muhammadiyah lahir dari kegelisahan yang suci, kegelisahan melihat umat tertinggal, pendidikan melemah, kemiskinan merajalela, dan ajaran agama belum sepenuhnya menjelma menjadi kekuatan pembebas. Di tangan KH. Ahmad Dahlan, kegelisahan itu tidak berhenti sebagai keluhan, tetapi berubah menjadi gerakan. Tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjelma menjadi amal. Tidak berhenti sebagai kesalehan pribadi, tetapi berkembang menjadi kekuatan sosial yang menggerakkan perubahan.
Sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi dakwah dalam pengertian sempit. Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang membawa misi pembaruan, pencerdasan, pemberdayaan, dan pencerahan. Ia hadir untuk mengajak umat kembali kepada kemurnian nilai Islam, sekaligus berani memperbarui cara berpikir, cara bekerja, cara berdakwah, dan cara melayani masyarakat. Di sinilah letak kekuatan Muhammadiyah, kukuh dalam prinsip, tetapi lentur dalam metode; teguh dalam akidah, tetapi terbuka terhadap kemajuan; setia kepada Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi tidak membeku dalam kebiasaan lama yang kehilangan daya guna.
KH Ahmad Dahlan memberi teladan bahwa agama tidak boleh berhenti di ruang lisan. Agama harus turun menjadi kerja nyata. Islam tidak cukup hanya dijelaskan dalam pengajian, tetapi harus dihadirkan dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, kepedulian sosial, pemberdayaan kaum lemah, dan pengorganisasian umat. Karena itu, pemikiran Kiai Dahlan tidak dapat dipahami hanya sebagai gagasan keagamaan, tetapi juga sebagai gagasan peradaban. Beliau mengajarkan bahwa iman yang benar harus melahirkan ilmu, amal, sistem, dan manfaat.
Inilah makna tajdid yang menjadi ruh Muhammadiyah. Tajdid bukan sekadar membuat sesuatu tampak baru. Tajdid juga bukan sekadar mengikuti selera zaman. Tajdid adalah ikhtiar memurnikan nilai, memperbarui metode, dan menghadirkan transformasi sosial. Nilai-nilai dasar Islam seperti tauhid, keadilan, amanah, ilmu, akhlak, kasih sayang, dan keberpihakan kepada kaum lemah harus tetap dijaga. Namun cara menyampaikan dakwah, mengelola organisasi, mendidik generasi, melayani umat, dan menjawab persoalan masyarakat harus senantiasa diperbarui.
Dengan demikian, tajdid adalah keseimbangan antara kesetiaan dan keberanian. Setia kepada nilai Islam yang abadi, tetapi berani meninggalkan cara lama yang tidak lagi efektif. Setia kepada misi dakwah, tetapi berani menggunakan media baru. Setia kepada semangat Al-Qur’an, tetapi berani membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, koperasi, komunitas digital, dan berbagai bentuk amal usaha yang menjawab kebutuhan zaman.
Pelajaran besar dari KH. Ahmad Dahlan adalah keberanian menerjemahkan ayat menjadi aksi. Salah satu contoh paling kuat adalah pemaknaan terhadap Surah Al-Ma’un. Bagi Muhammadiyah, Al-Ma’un bukan sekadar surat pendek yang dibaca dalam shalat. Al-Ma’un adalah energi moral untuk membela kaum miskin, menyantuni anak yatim, menolong yang lemah, dan membangun sistem pelayanan sosial yang berkelanjutan. Al-Ma’un mengajarkan bahwa keberagamaan yang tidak melahirkan kepedulian sosial adalah keberagamaan yang kehilangan ruhnya.
Karena itu, teologi Al-Ma’un harus terus dihidupkan dalam konteks hari ini. Dahulu, kemiskinan tampak dalam bentuk kekurangan pangan, keterbatasan pendidikan, dan lemahnya akses kesehatan. Hari ini, kemiskinan hadir dalam bentuk yang lebih kompleks, kemiskinan literasi, kemiskinan digital, kemiskinan etika, kemiskinan makna, bahkan kemiskinan harapan. Banyak orang terhubung dengan teknologi, tetapi terputus dari nilai. Banyak orang banjir informasi, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Banyak anak muda memiliki akses luas ke dunia digital, tetapi tidak selalu memiliki arah hidup yang kokoh.
Di sinilah dakwah Muhammadiyah harus hadir dengan wajah yang mencerahkan. Dakwah tidak boleh hanya mengulang format lama tanpa membaca perubahan zaman. Pengajian tetap penting, tabligh tetap mulia, khutbah tetap strategis, dan majelis ilmu tetap harus dirawat. Namun semua itu perlu diperkaya dengan pendekatan yang lebih relevan, komunikatif, ilmiah, dan menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Dakwah hari ini harus berbicara tentang iman, tetapi juga tentang kesehatan mental. Harus berbicara tentang ibadah, tetapi juga tentang etika digital. Harus berbicara tentang akhlak, tetapi juga tentang lingkungan, ekonomi umat, keluarga, literasi, kepemimpinan, dan masa depan generasi muda.
Muhammadiyah tidak boleh membiarkan ruang publik, terutama ruang digital, dikuasai oleh narasi yang dangkal, provokatif, dan memecah belah. Di era algoritma, disinformasi, dan budaya serba-cepat, dakwah Muhammadiyah harus menjadi suara akal sehat, kejernihan ilmu, dan keteduhan akhlak. Dakwah harus membimbing, bukan membakar emosi. Dakwah harus mencerdaskan, bukan sekadar meramaikan. Dakwah harus menyatukan, bukan memperuncing perbedaan. Dakwah harus membangun manusia, bukan memperdagangkan sentimen keagamaan.
Untuk itu, kader Muhammadiyah perlu memperbarui cara pandang terhadap dakwah. Dakwah bukan hanya aktivitas menyampaikan pesan agama, tetapi proses membangun manusia dan masyarakat. Dakwah bukan hanya tugas mubaligh di mimbar, tetapi tanggung jawab seluruh kader dalam ruang kehidupannya masing-masing. Seorang dosen berdakwah melalui ilmu dan keteladanan akademik. Seorang dokter berdakwah melalui pelayanan yang manusiawi. Seorang pengusaha berdakwah melalui etika bisnis dan pemberdayaan ekonomi. Seorang guru berdakwah melalui pendidikan karakter. Seorang aktivis digital berdakwah melalui konten yang mencerahkan. Seorang pengurus masjid berdakwah melalui tata kelola yang ramah, bersih, terbuka, dan memberdayakan.
Masjid Muhammadiyah pun harus terus diperkuat sebagai pusat peradaban umat. Masjid tidak cukup hanya menjadi tempat shalat berjamaah. Masjid harus menjadi rumah ilmu, rumah solusi, rumah kaderisasi, rumah kepedulian, dan rumah perubahan. Dari masjid, umat dapat belajar membaca Al-Qur’an sekaligus membaca realitas sosial. Dari masjid, anak muda dapat menemukan komunitas yang sehat. Dari masjid, keluarga dapat memperoleh bimbingan. Dari masjid, masyarakat miskin dapat disentuh dengan program pemberdayaan. Dari masjid, gerakan lingkungan, literasi, ekonomi, dan kesehatan dapat dimulai.
Namun semua cita-cita besar itu tidak akan tumbuh jika organisasi terjebak dalam rutinitas tanpa refleksi. Banyak organisasi tidak mati karena kekurangan kegiatan, tetapi karena kehilangan relevansi. Program berjalan, tetapi tidak lagi menyentuh kebutuhan umat. Kajian rutin dilaksanakan, tetapi tidak menjawab kegelisahan generasi baru. Bakti sosial dilakukan, tetapi belum menyelesaikan akar masalah. Rapat sering digelar, tetapi tidak melahirkan keputusan strategis. Di sinilah tajdid menjadi kebutuhan mendesak, organisasi harus berani mengevaluasi diri, memperbaiki sistem, memperbarui metode, dan mengukur dampak.
Tajdid dalam organisasi berarti berani bertanya, apakah program kita masih dibutuhkan umat? Apakah dakwah kita mudah dipahami generasi muda? Apakah masjid kita ramah bagi anak-anak, perempuan, lansia, difabel, dan masyarakat sekitar? Apakah amal sosial kita sudah memberdayakan atau hanya membantu sesaat? Apakah media dakwah kita sudah hadir di ruang tempat masyarakat mencari pengetahuan? Apakah kaderisasi kita benar-benar melahirkan pemimpin masa depan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting agar organisasi tidak hanya bergerak, tetapi bergerak ke arah yang benar.
Pembaruan yang sejati tidak boleh kehilangan akar nilai. Menggunakan media digital belum tentu tajdid jika isinya dangkal. Membuat acara besar belum tentu tajdid jika tidak menghasilkan perubahan. Mengikuti tren anak muda belum tentu tajdid jika hanya mengejar popularitas. Tajdid yang benar selalu memiliki ukuran moral dan sosial, apakah ia memperkuat tauhid, menumbuhkan akhlak, mencerdaskan umat, memperluas manfaat, dan menghadirkan keadilan?
Karena itu, ukuran keberhasilan dakwah Muhammadiyah bukan semata-mata jumlah peserta, banyaknya unggahan, ramainya acara, atau luasnya jaringan. Semua itu penting, tetapi bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah lahirnya manusia yang lebih beriman, lebih berilmu, lebih berakhlak, lebih mandiri, lebih peduli, dan lebih bermanfaat. Dakwah Muhammadiyah harus mengubah pengetahuan menjadi kesadaran, kesadaran menjadi tindakan, dan tindakan menjadi perbaikan hidup bersama.
Warisan KH. Ahmad Dahlan adalah warisan keberanian. Keberanian untuk berpikir jernih, bergerak teratur, melayani dengan tulus, dan membarui tanpa kehilangan arah. Beliau mengajarkan bahwa mencintai Islam berarti memperjuangkan kemajuan umat. Mencintai Al-Qur’an berarti menghadirkannya dalam kerja sosial. Mencintai dakwah berarti bersedia belajar, berubah, dan memperbaiki diri terus-menerus.
Kini, tugas itu berada di pundak kita. Setiap kader Muhammadiyah perlu menyalakan kembali api tajdid dalam dirinya. Jangan puas menjadi bagian dari organisasi besar jika belum ikut membesarkan manfaatnya. Jangan bangga dengan sejarah panjang jika tidak ikut menulis sejarah kebaikan hari ini. Jangan hanya merawat nama Muhammadiyah, tetapi rawatlah ruhnya, ruh ilmu, ruh amal, ruh pembaruan, ruh keberpihakan, dan ruh pencerahan.
Muhammadiyah akan tetap relevan selama ia terus bergerak menjawab persoalan zaman. Muhammadiyah akan tetap kuat selama kadernya tidak berhenti belajar. Muhammadiyah akan tetap mencerahkan selama dakwahnya tidak kehilangan kasih sayang, akal sehat, dan keberpihakan kepada yang lemah. Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan masa depan selama tajdid tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi cara berpikir, cara bekerja, dan cara hidup.
Akhirnya, tajdid bukan sekadar warisan masa lalu. Tajdid adalah amanah hari ini dan jalan menuju masa depan. Setiap zaman membawa tantangannya sendiri, tetapi setiap tantangan adalah panggilan untuk beramal. Setiap perubahan adalah peluang untuk memperluas manfaat. Setiap persoalan umat adalah undangan untuk menghadirkan Islam yang mencerahkan.
Mari terus berubah menjadi lebih baik. Mari memperbaiki cara berdakwah, cara mengelola organisasi, cara melayani umat, dan cara membangun peradaban. Sebab Muhammadiyah tidak didirikan untuk berhenti pada kebanggaan sejarah, tetapi untuk terus bergerak menyalakan cahaya kemajuan. Dari Kauman, api tajdid itu telah menyala. Kini tugas kita adalah menjaganya, membesarkannya, dan meneruskannya agar semakin banyak manusia merasakan Islam sebagai rahmat, ilmu sebagai cahaya, dan amal sebagai jalan kemuliaan. (*)
