Menjadi Muslim Moderat di Tengah Gelombang Polarisasi

Menjadi Muslim Moderat di Tengah Gelombang Polarisasi
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Jika kita membuka media sosial hari ini, satu hal yang paling cepat terasa adalah betapa mudahnya manusia terbelah. Isu politik, perbedaan mazhab, hingga topik gaya hidup kerap memicu perdebatan sengit. Kolom komentar berubah menjadi medan tempur: label-label saling dilempar, klaim kebenaran dipaksakan, dan kebaikan pihak yang berbeda mendadak lenyap tak berbekas.

Di tengah gelombang polarisasi yang kian tajam ini, sebuah pertanyaan penting hadir menghampiri hati kita: Di manakah posisi kita sebagai seorang Muslim?

Panggilan Menjadi Ummatan Wasatan

Islam tidak pernah mengajarkan pemeluknya untuk menjadi pribadi yang ekstrem, baik ekstrem kanan yang kaku dan mudah mengafirkan, maupun ekstrem kiri yang meremehkan syariat. Allah SWT. menetapkan identitas utama umat Islam sebagai umat yang pertengahan:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ ۗوَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan40) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. Al-Baqarah: 143)

40) Umat pertengahan berarti umat pilihan, terbaik, adil, dan seimbang, baik dalam keyakinan, pikiran, sikap, maupun perilaku.

Menjadi Muslim Moderat (Wasathiyah) bukanlah bentuk kompromi agama yang mengaburkan kebenaran, bukan pula sikap acuh tak acuh (apatis). Moderasi beragama adalah keberanian untuk berdiri tegak di atas keadilan: memegang teguh akidah dan syariat, sembari tetap membuka ruang kasih sayang, toleransi, dan akal sehat dalam berinteraksi dengan sesama.

Tiga Pilar Moderasi di Era Polarisasi

Untuk tetap menjadi Muslim yang menyejukkan di tengah dunia yang makin panas, ada tiga prinsip utama yang perlu kita rawat:

1. Mengedepankan Tabayyun daripada Reaksi Emosional

Polarisasi tumbuh subur karena informasi yang terpotong dan kabar yang dipelintir. Al-Qur’an secara tegas memerintahkan kita untuk menyaring setiap berita yang datang.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat: 6).

Seorang Muslim moderat tidak mudah memprovokasi maupun terprovokasi. Ia berpikir sebelum mengetik, dan memverifikasi sebelum membagikan.

2. Membedakan Antara Ketegasan Prinsip dan Kelembutan Akhlak

Berpegang teguh pada kebenaran tidak harus membuat kita bersikap kasar. Rasulullah SAW. berdakwah kepada masyarakat Jahiliyah yang keras dengan kelembutan hati dan keluhuran budi. Ketika kita berbeda pendapat baik dalam urusan keagamaan maupun politik perbedaan tersebut hendaknya disikapi dengan adab, bukan dengan caci maki.

3. Mengembalikan Etika Perbedaan (Ikhtilaf)

Para ulama terdahulu mengajarkan kita prinsip emas: “Pendapatku benar, tetapi mengandung kemungkinan salah; dan pendapat orang lain salah, tetapi mengandung kemungkinan benar.” Kesadaran akan keterbatasan diri membuat seorang Muslim tidak mudah merasa paling suci (self-righteous) dan lebih siap merangkul perbedaan dalam masalah-masalah yang bersifat furu’iyah (cabang)

Menjadi Oase, Bukan Bahan Bakar Perselisihan

Dunia yang terpolarisasi membutuhkan perekat, bukan pembelah. Sebagai agen dakwah di lingkungan masing-masing baik di dunia nyata maupun di ruang digital kita memiliki pilihan: menjadi bahan bakar yang memperbesar api permusuhan, atau menjadi oase yang menyejukkan hati.

Mari kita niatkan kembali setiap perkataan, tulisan, dan tindakan kita sebagai cerminan dari Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam). Sebab pada akhirnya, ukuran kemuliaan kita di hadapan Allah bukanlah seberapa keras kita menundukkan lawan bicara, melainkan seberapa bersih hati kita dari kebencian saat berhadapan dengan sesama manusia.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search