Menolak Diskriminasi: Etika Islam Menghadapi Ketidakadilan Sistemik

Menolak Diskriminasi: Etika Islam Menghadapi Ketidakadilan Sistemik
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Diskriminasi dan ketidakadilan sistemik bukanlah isu modern semata, melainkan persoalan peradaban yang telah dilawan Islam sejak masa awal kelahirannya. Islam turun di tengah masyarakat Jahiliyah yang mengagungkan garis keturunan, status sosial, dan warna kulit. Melalui risalah kenabian, Islam merombak total hierarki palsu tersebut dan menegaskan bahwa kesetaraan adalah fondasi utama dalam beragama dan berbangsa.

Akar Kesetaraan dalam Islam

Prinsip utama Islam dalam memandang manusia terletak pada kemuliaan fitrah yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap individu tanpa terkecuali.

Ketakwaan sebagai Pembeda Utama: Allah SWT secara tegas menghapuskan sekat-sekat primordial melalui firman-Nya dalam QS. Al-Hujurat: 13, yang menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, dan yang paling mulia di sisi-Nya hanyalah yang paling bertakwa.

Penegasan Khutbah Wada’: Rasulullah SAW memperkuat prinsip ini dalam pidato perpisahan beliau dengan menyatakan bahwa tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang non-Arab (‘Ajam), maupun sebaliknya, serta tidak ada keunggulan antara yang berkulit putih dan hitam melainkan karena ketakwaannya

Mengapa Ketidakadilan Sistemik Wajib Dilawan?

Ketidakadilan sistemik terjadi ketika struktur sosial, hukum, atau ekonomi secara tidak adil memojokkan kelompok tertentu. Islam memandang bentuk diskriminasi ini sebagai dzulm (kezaliman) yang berdampak luas dan merusak tatanan kehidupan. Menolak kezaliman bukan sekadar pilihan etis, melainkan perintah agama.

Pengharaman Kezaliman: Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi(HR. Muslim).

Ancaman Kezaliman Sistemik: Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kezaliman akan menjadi kegelapan yang gulita pada hari kiamat (ad-dzulmu dzulumatun yaumal qiyamah).

Etika Islam dalam Menghadapi Ketidakadilan

Islam tidak hanya melarang tindakan diskriminatif, tetapi juga memberikan panduan etis dan aksi nyata dalam menghadapinya:

Prinsip Etis dan Bentuk Aksi Nyata

Amar Ma’ruf Nahi Munkar: Mencegah kezaliman dengan tangan (kekuasaan/kebijakan), lisan (suara/advokasi), atau minimal menolaknya dalam hati.

Tafasuh & Inklusivitas: Membuka ruang sosial bagi kelompok terpinggirkan dan tidak membatasi akses keadilan berdasarkan kasta atau kekayaan.

Keadilan Tanpa Pandang Bulu: Menerapkan hukum secara adil, bahkan jika keputusan tersebut merugikan diri sendiri, kerabat, atau kelompok sendiri (QS. An-Nisa: 135).
۞ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِنْ تَلْوٗٓا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemaslahatan) keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (enggan menjadi saksi), sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan”.

Menolak diskriminasi dan meruntuhkan ketidakadilan sistemik adalah bagian integral dari tauhid. Iman yang murni tidak hanya tercermin dari ibadah ritual, melainkan juga dari kepedulian sosial dan keberanian untuk berdiri membela hak-hak sesama manusia yang tertindas. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search