Kita hidup di zaman yang bergerak begitu cepat. Teknologi membuat jarak terasa dekat, informasi datang tanpa henti, pesan terkirim dalam hitungan detik, dan media sosial membuat kita dapat melihat begitu banyak kehidupan orang lain dalam waktu yang sangat singkat. Namun, di tengah semua kemudahan itu, ada sesuatu yang justru semakin mudah hilang: kesadaran terhadap waktu.
Hari ini kita sering merasa tidak memiliki cukup waktu. Padahal, yang sering terjadi bukan kekurangan waktu, melainkan terlalu banyak waktu yang terserap oleh hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Beberapa menit membuka media sosial berubah menjadi satu jam. Sebentar melihat video berlanjut menjadi puluhan video. Awalnya hanya ingin mencari informasi, tetapi akhirnya perhatian berpindah dari satu hal ke hal lain tanpa tujuan yang jelas.
Allah SWT berfirman:
«وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
(QS. Al-‘Ashr: 1–3)»
Ayat ini terasa semakin dekat dengan kehidupan kita hari ini. Kerugian tidak selalu berbentuk kemalasan. Seseorang dapat terlihat sangat sibuk, tetapi waktunya tetap habis tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti. Aktivitasnya banyak, tetapi arah hidupnya tidak jelas. Tangannya terus bergerak, tetapi hidupnya tidak benar-benar bertumbuh.
Kita berada dalam zaman ketika perhatian menjadi sesuatu yang diperebutkan. Notifikasi meminta kita melihat, media sosial membuat kita terus menggulir, berbagai tren mengajak kita mengikuti, sementara berita datang silih berganti. Tanpa disadari, perhatian kita terpecah menjadi begitu banyak bagian. Padahal setiap perhatian yang kita berikan sesungguhnya adalah bagian dari waktu hidup yang tidak akan kembali.
Waktu yang diberikan kepada layar bukan sekadar angka pada fitur penggunaan perangkat. Di balik angka itu ada umur yang sedang berjalan. Satu jam yang berlalu tetap merupakan satu jam dari kehidupan kita, baik digunakan untuk membaca, belajar, bekerja, berbicara dengan keluarga, beribadah, maupun sekadar menggulir layar tanpa tujuan.
Persoalannya bukan pada teknologi. Teknologi adalah alat dan dapat menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat. Persoalannya muncul ketika alat mulai mengambil kendali atas perhatian dan waktu kita. Ketika seseorang tidak lagi menggunakan teknologi sesuai kebutuhannya, tetapi justru terus mengikutinya tanpa batas, waktu perlahan-lahan kehilangan arah.
Zaman sekarang juga menghadirkan persoalan lain: kita terlalu mudah membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Melalui media sosial, kita melihat pencapaian, perjalanan, pekerjaan, rumah, kendaraan, dan berbagai keberhasilan orang lain. Kita sering lupa bahwa yang ditampilkan hanyalah bagian yang ingin diperlihatkan, bukan keseluruhan kehidupan.
Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri justru habis untuk memikirkan kehidupan orang lain. Kita sibuk mengejar standar yang terus berubah, mengejar pengakuan, mengejar sesuatu yang sedang viral, bahkan mengejar perhatian manusia yang sebenarnya tidak pernah benar-benar cukup.
Padahal hidup bukan perlombaan untuk menjadi seperti orang lain. Setiap manusia memiliki perjalanan, kesempatan, dan waktunya masing-masing. Yang paling penting bukan seberapa cepat seseorang sampai, tetapi apakah langkah yang ditempuh membawa dirinya menjadi manusia yang lebih baik.
Karena itu, di tengah dunia yang semakin cepat, kita justru perlu belajar memperlambat diri. Tidak semua informasi harus diikuti. Tidak semua perdebatan harus dimasuki. Tidak semua tren harus dicoba. Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua hal yang menarik perhatian layak mendapatkan waktu kita.
Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk keluarga, ada waktu untuk beribadah, ada waktu untuk beristirahat, dan ada waktu untuk berhenti sejenak melihat ke dalam diri.
Hidup yang bermakna bukanlah hidup yang paling sibuk. Hidup yang bermakna adalah hidup yang mampu menempatkan waktunya pada sesuatu yang bernilai.
Sebab pada akhirnya, yang akan tersisa bukan berapa lama kita menatap layar, berapa banyak unggahan yang kita lihat, atau berapa banyak orang yang mengetahui nama kita. Yang tersisa adalah kebaikan yang pernah kita lakukan, ilmu yang pernah kita bagikan, orang-orang yang pernah kita bahagiakan, dan amal yang kita bawa menghadap Allah.
Waktu tidak pernah berhenti hanya karena kita belum siap. Hari ini akan menjadi kemarin, usia akan terus bertambah, dan kesempatan akan satu per satu meninggalkan kita.
Maka di tengah dunia yang semakin cepat, jangan sampai hidup kita justru kehilangan arah. Gunakan teknologi tanpa kehilangan kendali. Ikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan prinsip. Sibuklah dengan sesuatu yang bernilai, bukan sekadar sesuatu yang ramai.
Karena waktu tidak pernah meminta kita untuk melakukan semuanya. Waktu hanya mengingatkan bahwa tidak semua hal layak kita berikan bagian dari hidup kita.(*)
