Merajut Ukhuwah Lintas Batas

Nasaruddin Umar
*) Oleh : Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.
Menteri Agama RI
www.majelistabligh.id -

Selama ini kita mengenal ukhuwah Islamiyah: persaudaraan sesama umat Islam. Kita juga mengenal ukhuwah wathaniyah: persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Dan ukhuwah basyariyah: persaudaraan sesama manusia.

Tetapi itu rasanya tidak cukup. Sebab kita hidup di ruang yang membutuhkan dukungan dari semua makhluk. Mungkin kita perlu memperluas lagi cakrawala persaudaraan itu, yaitu ukhuwah makhluqiyah: persaudaraan sesama makhluk.

Makhluk tidak hanya dimaknai yang hidup, tetapi makhluk yang kita nilai mati pun harus disikapi seperti layaknya makhluk hidup.

Gagasan ini menjadi semakin penting ketika manusia menghadapi persoalan yang tidak mengenal batas agama, bangsa, maupun negara.

Perubahan iklim, kerusakan hutan, pencemaran laut, dan eksploitasi alam yang berlebihan adalah persoalan bersama. Ia tidak bertanya siapa Muslim dan siapa non-Muslim. Ia tidak mengenal batas negara. Karena itu, bahasa agama harus mampu menggerakkan kesadaran untuk merawat bumi.

Masjid tidak hanya dapat menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat kepedulian terhadap kehidupan. Dari masjid dapat tumbuh kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari menjaga amanah Tuhan. Merawat alam raya itu bukan semata tanggung jawab sosiologis, tetapi tanggung jawab teologis.

Di sinilah diplomasi keagamaan menemukan maknanya yang lebih luas. Para pemimpin agama tidak harus selalu berbicara tentang perbedaan keyakinan dan tafsir. Ada tema-tema kemanusiaan yang menjadi milik bersama. Ada “common sense” semua agama yang bisa menjadi simpul persamaan.

Kita dapat duduk bersama dengan para pemimpin gereja, vihara, pura, dan rumah-rumah ibadah lainnya. Membicarakan perdamaian. Membicarakan kemiskinan. Membicarakan lingkungan. Membicarakan masa depan manusia.

Sebab tema sentral agama-agama pada akhirnya bukan berhenti pada bagaimana manusia berbeda dalam menyebut Tuhan, tetapi bagaimana manusia menghadirkan kebaikan di tengah kehidupan.

Agama seharusnya membuat manusia semakin manusiawi. Semakin memiliki kepekaan terhadap semua makhluk. Dan mungkin, di situlah masjid dapat menjadi lebih dari sebatas rumah ibadah, tetapi menjadi rumah perdamaian, rumah kemanusiaan, dan rumah bagi bumi yang kita tinggali bersama. Pada akhirnya, merajut ukhuwah harus dilakukan melalui semua lini kehidupan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search