Menjalankan pilar dakwah amar ma’ruf nahi munkar tidak cukup hanya mengandalkan keberanian, ilmu, dan keterampilan semata. Mubalig juga dituntut memiliki kebijaksanaan (hikmah) serta pandangan visioner agar pesan dakwah yang disampaikan berdaya guna dan tepat sasaran.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ustaz Muhsin Hariyanto saat menjadi penceramah dalam Pengajian Malam Selasa di Kampus Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Pengajian yang mengusung tema “Beramar Ma’ruf Nahi Munkar di Era Digital” ini merupakan majelis ilmu tertua di lingkungan Muhammadiyah yang dirintis sejak zaman Kiai Ahmad Dahlan.
Dalam pemaparannya, Ustaz Muhsin menjelaskan bahwa dakwah tidak sekadar menyeru kebaikan atau mencegah kemungkaran, tetapi juga harus memahami karakteristik mad’u (sasaran dakwah). Karena itu, sikap bijak dalam memilih ucapan maupun tindakan menjadi syarat mutlak bagi para da’i Muhammadiyah.
“Sikap bijak sangat diperlukan karena berkaitan erat dengan konteks ruang dan waktu. Kita harus mempertimbangkan di mana kita berbicara, kapan momentumnya, dengan siapa berhadapan, dalam masalah apa, serta apa tujuan akhirnya,” papar Muhsin.
Ia menepis anggapan bahwa keberanian adalah satu-satunya modal utama seorang pendakwah. Menurutnya, keberanian tanpa perhitungan matang justru berpotensi menimbulkan kendala baru dalam berdakwah.
Lebih lanjut, Muhsin mengajak para mubalig untuk berpikir jauh ke depan (visioner) dalam memperhitungkan dampak dari pesan yang disampaikan, baik melalui lisan, tulisan, maupun perbuatan.
Mengutip prinsip maqashid syariah, ia menekankan bahwa seorang mukmin atau penceramah hendaknya tidak hanya terpaku pada status hukum halal-haram atau baik-buruk secara dangkal saat suatu perbuatan dilakukan.
“Setiap tindakan dakwah harus ditimbang manfaat dan kemudaratannya—baik ketika hal itu dilakukan maupun tidak dilakukan,” tegasnya.
Muhsin meneladani strategi Rasulullah saw yang terbukti sangat dinamis dalam berdakwah. Dalam beberapa kondisi, Nabi Muhammad saw bisa menunda suatu tindakan, atau justru mempercepatnya, demi menyesuaikan momentum yang paling tepat dan membawa maslahat terbesar. (*/tim)
