Mimbar Jumat: Transformasi Pelopor Perubahan

Mimbar Jumat: Transformasi Pelopor Perubahan
*) Oleh : Agus Rosid
Anggota Takmir Masjid Baitul Fadli Surabaya
www.majelistabligh.id -

Momentum ‘Jumatan’ oleh sebagian umat Islam justru jadi kesempatan menumpang istirahat di masjid. Kita seolah lupa: Jumat itu terlalu istimewa untuk dibiarkan berlalu begitu saja.

Padahal sebagai penghulu hari yang penuh keutamaan, kita dianjurkan supaya memperbanyak amalan ibadah untuk mendapatkan faedah yang besar: “Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, … adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” [HR. Muslim].

Di sini, Allah sedang merancang sebuah siklus yang bertujuan agar kita bisa mengatur ulang mental dan spiritual tetap dalam keadaan stabil, tidak goyah di tengah kesibukan duniawi.

Pengaturan ulang secara periodik ini tidak mudah dilakukan dalam waktu sekejap, tapi butuh persiapan.

Rasulullah SAW memberikan teladan: mandi, memakai pakaian terbaik, memakai wangi-wangian. Semuanya dilakukan setiap menjelang ‘Jumatan’. Setelah itu beliau bergegas ke masjid di awal waktu.

Gambaran yang dimaksudkan dari persiapan ini untuk membedakan antara yang sekadar hadir karena menggugurkan kewajiban, dan benar-benar hadir agar bisa mengambil peran sebagai pelopor perubahan.

Sebab, inilah yang akan jadi ukuran keimanan kita dalam menjalani seruan Allah: “Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkan jual beli.” [QS. Al-Jumu’ah:9].

Pesan penting ayat ini adalah melatih mental disiplin untuk sementara waktu memutus kesibukan dunia. Tidak ada lagi agenda pribadi, bahkan tidak juga untuk sekadar melakukan transaksi bisnis, karena seluruhnya bersegera menunaikan panggilan Mahakuasa.

Namun ironisnya, sebagian kita datang saat khatib sudah naik mimbar. Kemudian begitu selesai salam, sebagian kita terburu-buru keluar, seolah sudah tidak perlu mengambil manfaat dari isi khotbah yang disampaikan. Menurutnya, cukup didengar telinga, tidak perlu dibawa pulang.

Akibatnya, kita memperlakukan Jumat seperti hari-hari lain, bedanya hanya durasi istirahat yang lebih panjang.

Seandainya seluruh rangkaian ‘Jumatan’ dilakukan dengan sungguh-sungguh, pengaruhnya pasti akan merambah sampai ke luar dari dinding-dinding masjid.

Sebab, sepekan sekali dari atas mimbar, khatib selalu menitipkan sebuah resep ‘ramuan spiritual’ nilai-nilai Islam. Dan resep itu hanya berguna jika kita mau membawanya pulang untuk diingat dan dipraktikkan di rumah, di pasar, di tempat kerja, bahkan di tempat-tempat umum.

Menjadi pelopor perubahan berarti membawa ‘wajah masjid’ ke dalam ruang publik. Kita bukan lagi sekadar hadir secara fisik, melainkan komunitas yang frekuensi batinnya telah terinstal ulang.

‘Jumatan’ menjadi titik awal untuk memulai langkah baru, yang semula sekadar ‘jemaah ritual’ telah bertransformasi menjadi ‘agen nilai’ yang membawa kesejukan bagi siapa pun.

Selama salat Jumat berlangsung, masjid akan menjadi arena pendadaran tentang ketertiban, kesetaraan, kebersamaan, dan kepasrahan pada waktu yang sudah diatur.

Bayangkan besarnya potensi ini: merujuk pada data Sistem Informasi Masjid (SIMAS), Indonesia memiliki lebih dari 700.000 masjid dan musala yang secara serentak pada hari Jumat menjadi pusat konsolidasi spiritual.

Dan ini dampaknya sangat dahsyat. Di dalamnya, hadir lebih dari 90 juta laki-laki Muslim usia dewasa yang bersujud dalam satu waktu.

Secara hitungan, ini sebuah gelombang manusia yang luar biasa besar jika benar-benar membawa spirit perubahan ke luar pintu masjid.

Hasilnya, kita akan mendapatkan banyak perilaku positif dalam pergaulan sosial. Misalnya, kita akan sulit menemukan orang-orang berkata kasar di jalanan hanya karena saling bersenggolan.

Begitu pun di kantor, tidak akan lagi melihat pegawai yang mempersulit urusan orang karena ingin mencari keuntungan materi secara pribadi.

Dengan logika sederhana: manusia yang rutin merawat jiwanya, pasti akan merawat lingkungannya. Jika itu terjadi berulang-ulang, tidak butuh waktu lama bagi sebuah kampung atau negeri untuk merasakan bedanya.

Terlebih lagi jika ditarik ke ranah yang lebih luas, transformasi jamaah pasca-Jumat ini adalah modal sosial yang luar biasa bagi bangsa.

Sebab, nilai-nilai akhlakul karimah yang didengar dari mimbar benar-benar terintegrasi ke dalam sistem kerja kita.
Akibatnya, kita tidak lagi membutuhkan publikasi antikorupsi di kantor-kantor pemerintahan. Tidak perlu lagi aparat pengawas, bahkan tidak perlu lagi pasang CCTV di berbagai sudut ruangan.

Mengapa demikian? Karena sudah ada rasa malu — sebuah bagian dari iman, yang dipupuk setiap pekan di hadapan Tuhan. Ini adalah sumbangsih untuk perubahan sosial yang paling murah namun berdampak masif.

Pada akhirnya, selama prosesi ‘Jumatan’ berlangsung, tidak dijumpai lagi pilar masjid dijadikan sandaran badan sambil memejamkan mata penuh “ketundukan”.

Kini yang ada hanya barisan panjang penuh kekhusyukan, dengan dipenuhi harapan dosa-dosa bisa dihapus agar punya energi baru untuk berperilaku benar.

Peradaban yang maju tidak selalu dimulai dari kebijakan makro yang rumit, tapi bisa dimulai dari jutaan laki-laki yang keluar dari pintu masjid dengan komitmen baru: menyebar kebaikan-kebaikan tanpa suara ke segala arah dan lapisan.

 

Tinggalkan Balasan

Search