Setelah Dapat Daging Kurban: Dimasak Apa agar Tidak Keras dan Tetap Bernilai Ibadah?

Setelah Dapat Daging Kurban: Dimasak Apa agar Tidak Keras dan Tetap Bernilai Ibadah?
*) Oleh : Nashrul Mu'minin
Content Writer Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Iduladha selalu menghadirkan pemandangan yang khas: gema takbir, tangan-tangan yang saling berbagi, lalu kantong berisi daging kurban sampai ke rumah-rumah masyarakat. Namun setelah itu muncul pertanyaan yang sangat sederhana tetapi sebenarnya menarik: setelah mendapat daging kurban, apa yang harus dilakukan? Dimasak apa agar enak? Apakah langsung dimasak semua?

Bagaimana pandangan fikih tentang pembagian dan pemanfaatannya? Pertanyaan ini tampak ringan, tetapi sesungguhnya menyimpan dimensi ibadah, sosial, hingga budaya kuliner Islam. Sebab daging kurban bukan sekadar bahan makanan, melainkan simbol ketakwaan dan solidaritas sosial.

Allah SWT menegaskan bahwa hakikat kurban bukan terletak pada darah dan dagingnya, melainkan ketakwaan yang menyertainya. Allah berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)

Ayat ini memberi pesan bahwa setelah daging diterima, proses berikutnya bukan hanya memasak, tetapi mengelola nikmat dengan syukur. Karena itu dalam tradisi Islam, memasak daging kurban juga menjadi bagian dari ekspresi kebahagiaan dan rasa syukur.

Menariknya, Rasulullah ﷺ justru menganjurkan orang yang berkurban untuk ikut menikmati daging kurbannya. Dalam hadis disebutkan:

كُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا

Makanlah, simpanlah, dan sedekahkanlah.” (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi dasar bahwa daging kurban tidak harus dibagikan seluruhnya. Sebagian boleh dimakan sendiri, sebagian disimpan, dan sebagian lagi diberikan kepada orang lain. Ini menunjukkan Islam tidak memisahkan antara ibadah dan kebahagiaan keluarga.

Dalam fikih, para ulama tiga mazhab besar memberikan penjelasan menarik mengenai pembagian dan pemanfaatan daging kurban. Mazhab Abu Hanifah (Hanafi) berpandangan bahwa orang yang berkurban dianjurkan membagi daging menjadi tiga bagian: sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk kerabat atau tamu, dan sepertiga untuk fakir miskin. Pembagian ini dipandang sebagai bentuk keseimbangan antara ibadah personal dan sosial.

Mazhab Malik bin Anas (Maliki) memiliki pandangan lebih fleksibel. Menurut ulama Malikiyah, tidak ada ketentuan baku tentang persentase pembagian. Yang utama adalah memperbanyak sedekah dan memastikan fakir miskin mendapatkan manfaat. Jika seseorang ingin mengonsumsi lebih banyak untuk keluarga, hal itu diperbolehkan selama nilai sosial kurban tetap terjaga.

Sementara mazhab Muhammad ibn Idris al-Shafi’i (Syafi’i), yang banyak dianut di Indonesia, menegaskan bahwa sebagian daging kurban wajib disedekahkan dalam keadaan mentah kepada fakir miskin. Mazhab Syafi’i memandang minimal ada bagian yang diberikan sebagai wujud syiar sosial kurban. Adapun selebihnya boleh dimanfaatkan oleh keluarga yang berkurban.

Setelah persoalan fikih selesai, persoalan berikutnya muncul di dapur: bagaimana cara memasak agar daging kambing atau sapi tidak keras? Banyak orang langsung mencuci berulang-ulang lalu memasaknya. Padahal untuk daging kambing segar, terlalu banyak mencuci justru bisa menghilangkan cita rasa alami. Sebaiknya cukup dibersihkan seperlunya lalu diistirahatkan beberapa jam dalam kulkas agar seratnya lebih rileks.

Untuk daging kambing, salah satu menu paling klasik dan sulit ditolak adalah sate kambing bumbu kecap. Potongan daging muda dicampur kecap manis, bawang putih, merica, dan sedikit nanas parut agar empuk. Dibakar perlahan hingga keluar aroma asap khas. Disajikan bersama irisan bawang merah, cabai, dan kecap. Menu ini sederhana tetapi selalu menjadi “ikon” Iduladha.

Menu kedua yang sangat dianjurkan adalah tongseng kambing. Menariknya, tongseng tidak memerlukan daging yang terlalu empuk sejak awal karena proses memasaknya lama. Gunakan bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, serai, kol, tomat, dan kecap. Tambahkan santan secukupnya. Hasilnya bukan hanya gurih, tetapi aroma rempahnya membantu mengurangi bau prengus kambing.

Untuk daging sapi, pilihan paling aman adalah rendang. Filosofi rendang sendiri menarik karena proses memasaknya panjang dan penuh kesabaran. Daging dimasak bersama santan dan rempah seperti cabai, serai, kunyit, jahe, bawang, serta daun jeruk dalam waktu lama hingga bumbu meresap sempurna. Daging kurban yang agak keras justru cocok dijadikan rendang karena seratnya akan melunak perlahan.

Pilihan lain adalah gulai sapi, terutama jika mendapat bagian tulang dan sedikit lemak. Rebus perlahan dengan santan, kapulaga, kayu manis, cengkeh, dan ketumbar. Teknik slow cooking membuat kaldu lebih kaya rasa. Ini sesuai prinsip kuliner Nusantara: semakin lama dimasak, semakin dalam cita rasanya.

Dalam tradisi fikih juga ada adab menikmati makanan. Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari yang dekat denganmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa makan dalam Islam bukan sekadar aktivitas biologis, tetapi pendidikan adab dan spiritualitas.

Di sisi lain, masyarakat sering menganggap daging kurban harus langsung habis dalam sehari. Padahal Rasulullah ﷺ memperbolehkan penyimpanan. Daging dapat dibekukan dan diolah bertahap menjadi sop, semur, bakso, kebab, hingga nasi kebuli. Ini justru membuat manfaat kurban lebih panjang.

Iduladha akhirnya mengajarkan bahwa perjalanan daging kurban tidak berhenti saat penyembelihan. Ia berlanjut ke dapur, ke meja makan, ke tetangga, ke rumah fakir miskin, lalu menjadi energi kebersamaan. Dari sepotong daging lahir silaturahmi, syukur, dan empati sosial.

Maka setelah mendapat daging kurban, pertanyaannya bukan sekadar “mau dimasak apa?” Tetapi juga: bagaimana nikmat ini diolah menjadi keberkahan? Sebab bisa jadi, aroma sate, hangatnya gulai, atau gurihnya rendang bukan hanya tentang rasa, melainkan cara Allah menghadirkan kebahagiaan melalui ibadah yang dibagikan kepada sesama. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search