Miskin Itu Bukan Aib!

Miskin Itu Bukan Aib!
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I
Anggota Majelis Tabligh dan Korp Mubaligh Muhammadiyah PDM Banjarnegara Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Seringkali orang berpikir bahwa miskin itu adalah aib. Pasalnya, miskin itu identik dengan kumuh, lemah, bodoh, dan serba kekurangan. Oleh karenanya orang miskin kerap dipandang rendah dan diremehkan. Apalagi di zaman modern yang serba materialis, dimana sukses dan gagalnya seseorang diukur dari kekayaan material.

Dalam tatanan masyarakat modern yang sering kali mengukur kesuksesan dari akumulasi materi, kemiskinan kerap dipandang sebagai noda atau kegagalan hidup. Orang miskin sering kali mendapatkan perlakuan diskriminatif, dianggap tidak berharga, atau bahkan dianggap sebagai beban sosial. Namun, jika kita menilik kembali pada kacamata iman, Islam memberikan cara pandang yang sangat berbeda.

Islam menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah sebuah aib, bukan pula indikator kehinaan seorang hamba di hadapan Allah SWT. Sebaliknya, kekayaan dan kemiskinan hanyalah sarana ujian yang diberikan Allah untuk melihat siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya.

Pada hakikatnya dunia adalah negeri ujian. Allah SWT telah menegaskan bahwa skenario kehidupan setiap manusia, baik itu kelapangan rezeki maupun kesempitannya, berada dalam genggaman-Nya yang mutlak. Hal ini tercermin dalam Al-Qur’an:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat di atas menjelaskan bahwa posisi “kekurangan harta” sejajar dengan ujian lainnya. Poin krusialnya bukan pada jumlah hartanya, melainkan pada respons hamba tersebut: apakah ia bersabar atau justru berputus asa dari rahmat Allah.

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat mencintai kaum dhuafa (miskin). Beliau tidak pernah memandang rendah mereka. Bahkan, dalam banyak hadis, beliau menjelaskan keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang miskin yang beriman.

Salah satu hadis sahih menjelaskan bahwa beban hisab orang miskin jauh lebih ringan dibandingkan orang kaya, karena sedikitnya aset duniawi yang harus dipertanggungjawabkan. Rasulalalh SAW bersabd:
يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِخَمْسِمِائَةِ عَامٍ
Artinya: “Orang-orang mukmin yang fakir akan masuk surga sebelum orang-orang kaya (dari kalangan mukmin) dengan selisih waktu lima ratus tahun.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa kemenangan sebuah kaum dan turunnya rezeki sering kali disebabkan oleh keberadaan dan doa orang-orang lemah di antara mereka. Sebagaimana sabdanya:
هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
Artinya: “Bukankah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah di antara kalian?” (HR. Bukhari).

Meskipun miskin bukan aib, Islam tidak menganjurkan umatnya untuk bermalas-malasan. Ada batasan tegas antara kemiskinan yang terhormat (karena faktor takdir dan tetap berusaha) dengan kemiskinan yang menghinakan (karena malas dan meminta-minta).

Islam mengajarkan umatnya untuk bekerja keras menjemput karunia Allah SWT. Isam juga mengajarkan kepada ummatnya untuk senantiasa mengembangkan potensi dirinya agar menjadi orang yang kreatif, inofatif, mandiri dan sejahtera.

Islam memuji Al-Afif, yaitu orang miskin yang menjaga kehormatannya dengan tidak meminta-minta. Allah SWT berfirman mengenai mereka:
لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِي الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْئَلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًا
Artinya: “(Apa yang kamu infakkan itu) adalah bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya) di jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta). Kamu dapat mengenali mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada orang secara memaksa.” (QS. Al-Baqarah: 273).

Yang menjadi “aib” sebenarnya bukanlah ketiadaan harta, melainkan hilangnya rasa malu dan hancurnya kemuliaan diri karena mentalitas tangan di bawah. Mentalitas tangan di bawah berarti selalu mengharapkan pemberian orang lain. Orang tipe ini tidak memiliki mental juang untuk mengangkat derajat dirinya dengan bekerja keras. Rasulullah SAW bersabda:
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ، حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
Artinya: “Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain hingga ia datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Hadis ini adalah peringatan keras bahwa martabat seorang Muslim terletak pada iffah (menjaga diri). Miskin harta tetap terhormat selama ia tetap teguh memegang prinsip bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Islam tidak hanya memberikan penghiburan spiritual bagi orang miskin, tetapi juga memberikan solusi sistemik agar kemiskinan tidak berujung pada kekufuran. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bantuan sukarela, melainkan hak orang miskin yang dititipkan pada harta orang kaya.

Negara dan masyarakat memiliki kewajiban untuk memberdayakan orang miskin melalui berangkaian program pemberdayaan. Negara juga tidak merendahkan martabat orang miskin serta berlaku adil sehingga harta tidak berputar pada orang kaya saja.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa standar kemuliaan di mata Allah adalah ketakwaan, bukan berapa jumlah uang di bank atau luasnya tanah dan properti yang dimilikinya.
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Miskin itu sejatinya bukan aib jika diiringi dengan kesabaran, kerja keras, dan rasa syukur atas nikmat iman. Sebaliknya, kaya bisa menjadi aib dan kehinaan jika diperoleh dengan jalan yang haram dan digunakan untuk kesombongan.

Untuk itu, mari kita bangun masyarakat yang lebih beradab, yang menghargai manusia karena karakter dan ketaatannya, bukan karena jumlah hartanya. Sebab, di hadapan Allah SWT, kita semua adalah fakir yang sangat membutuhkan rahmat-Nya. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search