Meneguhkan Pancasila, Menguatkan Dakwah: Peran Strategis Majelis Tabligh Muhammadiyah

Meneguhkan Pancasila, Menguatkan Dakwah: Peran Strategis Majelis Tabligh Muhammadiyah
*) Oleh : Prof. Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang
www.majelistabligh.id -

Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum ini bukan sekadar mengenang pidato historis yang disampaikan oleh Soekarno pada tahun 1945, melainkan juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali posisi Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Di tengah berbagai tantangan kebangsaan yang terus berkembang, mulai dari polarisasi sosial, penyebaran hoaks, ekstremisme, hingga krisis keteladanan publik, nilai-nilai Pancasila semakin penting untuk dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Muhammadiyah, Pancasila bukanlah sesuatu yang asing atau berada di luar nilai-nilai Islam. Sejak awal, Muhammadiyah memandang bahwa Pancasila merupakan konsensus nasional yang menjadi titik temu seluruh elemen bangsa dalam membangun Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial memiliki keselarasan dengan prinsip-prinsip universal ajaran Islam.

Dalam konteks inilah peran Majelis Tabligh Muhammadiyah menjadi sangat penting. Sebagai salah satu unsur pembantu pimpinan yang bertugas mengembangkan dakwah dan pembinaan umat, Majelis Tabligh memiliki tanggung jawab strategis untuk menginternalisasikan nilai-nilai keislaman yang mencerahkan sekaligus memperkuat komitmen kebangsaan warga masyarakat.

Pancasila dan Dakwah Kebangsaan

Pancasila lahir dari kesadaran para pendiri bangsa bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk. Keragaman agama, suku, budaya, bahasa, dan tradisi memerlukan sebuah fondasi bersama yang mampu menjadi perekat kehidupan nasional. Pancasila kemudian hadir sebagai rumah besar yang memberikan ruang bagi seluruh anak bangsa untuk hidup berdampingan secara damai.

Tantangan terbesar bangsa saat ini bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan ketidakmampuan sebagian masyarakat dalam mengelola perbedaan secara dewasa. Perkembangan media sosial sering kali memperkuat polarisasi. Informasi yang belum tentu benar mudah menyebar. Ujaran kebencian dan provokasi dapat muncul kapan saja. Dalam situasi seperti ini, dakwah tidak cukup hanya menyampaikan ajaran agama dalam pengertian ritual semata. Dakwah harus hadir sebagai kekuatan moral yang memperkuat persatuan dan membangun kesadaran kebangsaan.

Di sinilah relevansi dakwah Muhammadiyah. Dakwah yang dikembangkan Muhammadiyah sejak masa pendiriannya oleh Ahmad Dahlan tidak hanya berorientasi pada pembinaan akidah dan ibadah, tetapi juga pada pembaruan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Dakwah dipahami sebagai upaya menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia.

Pendekatan dakwah seperti ini sangat relevan dengan semangat Pancasila. Ketika dakwah mampu melahirkan masyarakat yang jujur, toleran, disiplin, peduli sesama, menghargai perbedaan, dan berkomitmen terhadap keadilan sosial, maka sesungguhnya nilai-nilai Pancasila sedang diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Majelis Tabligh dan Tantangan Zaman

Perubahan sosial yang sangat cepat menuntut transformasi pendekatan dakwah. Masyarakat hari ini hidup dalam era digital yang memungkinkan informasi beredar tanpa batas. Generasi muda memperoleh pengetahuan agama tidak hanya dari ulama atau lembaga pendidikan, tetapi juga dari berbagai platform media sosial yang belum tentu memiliki otoritas keilmuan yang memadai.

Kondisi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Majelis Tabligh Muhammadiyah. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan dakwah yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern. Peluangnya adalah tersedianya ruang yang sangat luas untuk menyebarkan pesan-pesan Islam yang berkemajuan dan berwawasan kebangsaan.

Majelis Tabligh tidak cukup hanya mengandalkan pola pengajian konvensional. Dakwah perlu dikembangkan melalui berbagai media digital, podcast, video pendek, platform pembelajaran daring, hingga ruang-ruang dialog yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Pesan yang disampaikan pun harus mampu menjawab persoalan konkret masyarakat, seperti etika bermedia sosial, penguatan keluarga, literasi digital, kepedulian lingkungan, pemberantasan korupsi, hingga penguatan moderasi beragama.

Dalam konteks Hari Lahir Pancasila, Majelis Tabligh memiliki tugas penting untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa mencintai tanah air, menjaga persatuan bangsa, dan menghormati kesepakatan nasional merupakan bagian dari tanggung jawab moral sebagai warga negara yang baik. Dakwah yang memisahkan agama dari realitas kebangsaan justru berpotensi melahirkan cara pandang yang sempit dan eksklusif.

Menebarkan Islam Wasathiyah

Salah satu kontribusi terbesar Muhammadiyah bagi bangsa Indonesia adalah pengembangan Islam yang moderat, berkemajuan, dan berorientasi pada kemaslahatan. Karakter inilah yang perlu terus diperkuat oleh Majelis Tabligh.

Di tengah munculnya berbagai narasi keagamaan yang cenderung ekstrem, dakwah Muhammadiyah harus tampil sebagai jalan tengah yang mencerahkan. Dakwah yang tidak mudah mengkafirkan, tidak gemar memecah belah, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk bermusuhan.

Islam yang diajarkan Muhammadiyah adalah Islam yang menghargai ilmu pengetahuan, menjunjung tinggi akhlak, memuliakan kemanusiaan, dan berkontribusi bagi kemajuan peradaban. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan cita-cita Pancasila dalam membangun masyarakat yang berkeadaban.

Melalui pengajian, kajian keislaman, pelatihan mubaligh, serta berbagai aktivitas pembinaan umat, Majelis Tabligh dapat menjadi garda terdepan dalam menyebarluaskan pemahaman keagamaan yang inklusif dan konstruktif. Dengan demikian, dakwah tidak hanya memperkuat religiositas masyarakat, tetapi juga memperkokoh persatuan bangsa.

Dakwah sebagai Perekat Persatuan

Sejarah menunjukkan bahwa para tokoh agama memiliki kontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka tidak hanya mengajarkan nilai-nilai spiritual, tetapi juga menanamkan semangat persatuan dan pengorbanan demi kepentingan bangsa.

Warisan sejarah tersebut perlu terus dilanjutkan. Majelis Tabligh Muhammadiyah harus mampu menjadi perekat sosial yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat. Dakwah harus menghadirkan suasana teduh, membangun optimisme, dan memperkuat solidaritas kebangsaan.

Dalam masyarakat yang majemuk, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Namun perbedaan tidak boleh berkembang menjadi permusuhan. Dakwah yang mencerahkan adalah dakwah yang mengajarkan bagaimana hidup bersama secara damai meskipun berbeda keyakinan, pilihan politik, maupun latar belakang budaya.

Karena itu, peran mubaligh Muhammadiyah tidak hanya sebagai penyampai ceramah keagamaan, tetapi juga sebagai pendidik masyarakat, agen perubahan sosial, dan penjaga harmoni kehidupan berbangsa.

Menyongsong Indonesia Berkemajuan

Hari Lahir Pancasila sesungguhnya mengingatkan kita bahwa Indonesia dibangun di atas semangat persatuan dalam keberagaman. Semangat ini harus terus dirawat oleh seluruh komponen bangsa, termasuk organisasi keagamaan.

Sebagai salah satu gerakan Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengawal kehidupan kebangsaan melalui dakwah yang mencerahkan. Dalam tugas tersebut, Majelis Tabligh memegang posisi yang sangat strategis karena berada di garis depan pembinaan umat.

Ke depan, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya jamaah yang hadir dalam pengajian, tetapi juga dari sejauh mana dakwah mampu melahirkan masyarakat yang berakhlak mulia, menghargai perbedaan, menjunjung tinggi keadilan, serta memiliki komitmen kuat terhadap persatuan bangsa.

Momentum Hari Lahir Pancasila hendaknya menjadi pengingat bahwa dakwah dan kebangsaan bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan dalam membangun Indonesia yang damai, maju, dan berkeadaban. Melalui dakwah Islam yang berkemajuan, Majelis Tabligh Muhammadiyah dapat terus menjadi pelopor dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan yang mencerahkan sekaligus memperkokoh Pancasila sebagai rumah bersama seluruh anak bangsa.

Dengan semangat tersebut, Muhammadiyah tidak hanya berkontribusi dalam membangun umat semesta, tetapi juga ikut menjaga Indonesia sebagai bangsa yang bersatu, berdaulat, dan berkemajuan di tengah dinamika dunia yang terus berubah. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search