Jangan Pernah Jadi Pelangi Di Hadapan Mata Yang Buta Warna

Jangan Pernah Jadi Pelangi Di Hadapan Mata Yang Buta Warna
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Ada keindahan yang tidak semua orang mampu melihat. Pelangi, dengan tujuh warna yang berpadu indah, adalah simbol harmoni, harapan, dan janji setelah hujan. Namun, bagi mata yang buta warna, pelangi hanyalah garis samar tanpa makna. Begitu pula dalam kehidupan: tidak semua orang mampu menghargai kebaikan, ketulusan, atau keindahan hati yang kita pancarkan.

Menjadi pelangi di hadapan mata yang buta warna adalah sebuah kesia-siaan. Kita berusaha menghadirkan warna, cahaya, dan keindahan, tetapi yang menerima tidak pernah benar-benar melihat, apalagi menghargai. Maka, jangan habiskan energi untuk meyakinkan mereka yang hatinya tertutup. Jangan biarkan semangat kita redup hanya karena orang lain gagal memahami.

Pelangi sejati tidak hadir untuk semua mata, melainkan untuk mereka yang mau menengadah, bersyukur, dan melihat tanda kebesaran Tuhan. Begitu pula kita: jadilah pelangi bagi hati yang masih hidup, bagi jiwa yang masih peka, bagi mereka yang mencari makna. Karena keindahan tidak pernah sia-sia bila hadir di tempat yang tepat.

Hidup terlalu singkat untuk terus membuktikan diri pada orang yang tidak ingin mengerti. Lebih baik kita hadir sebagai pelangi di langit yang benar, memberi harapan bagi mereka yang sedang berjuang, memberi semangat bagi mereka yang sedang lelah, dan memberi cahaya bagi mereka yang sedang dalam gelap. Itulah makna sejati: keindahan yang tidak hanya terlihat, tetapi juga dirasakan.

“Jangan Pernah Jadi Pelangi di Hadapan Mata yang Buta Warna”, ayat Al-Qur’an yang relevan bukan secara literal tentang pelangi atau buta warna, melainkan tentang orang-orang yang tidak mampu melihat kebenaran meski tanda-tanda Allah jelas di hadapan mereka.

QS. Al-Baqarah: 18

صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَۙ

Artinya: (Mereka) tuli, bisu, lagi buta, sehingga mereka tidak dapat kembali.

Ayat ini menggambarkan orang yang hatinya tertutup, sehingga tidak mampu menangkap keindahan dan kebenaran meski nyata di depan mata.

Tafsir Jalalayn
Tuli terhadap kebenaran, bisu terhadap kebaikan, buta terhadap jalan Allah. Walau pancaindra sehat, mereka dianggap mati fungsi karena tidak digunakan untuk menerima kebenaran.

Tafsir Quraish Shihab
Ayat ini adalah perumpamaan orang munafik: mereka menolak kebenaran, tidak berbicara sesuai petunjuk, dan tidak mengambil pelajaran dari apa yang dilihat. Mereka tidak akan kembali dari kesesatan

QS. Al-Hajj: 46

اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَتَكُوْنَ لَهُمْ قُلُوْبٌ يَّعْقِلُوْنَ بِهَآ اَوْ اٰذَانٌ يَّسْمَعُوْنَ بِهَاۚ فَاِنَّهَا لَا تَعْمَى الْاَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

Artinya: Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.

Ini sangat sesuai dengan makna metafora: pelangi tidak akan terlihat oleh hati yang buta, meski mata masih berfungsi

QS. Al-A’raf: 179

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

Ayat ini menekankan bahwa keindahan dan kebenaran tidak akan pernah bermakna bagi orang yang menolak untuk melihat dengan hati

Jadi, pesan “Jangan Pernah Jadi Pelangi di Hadapan Mata yang Buta Warna” bisa dipadukan dengan ayat-ayat di atas: jangan habiskan energi untuk meyakinkan hati yang tertutup, karena pelangi sejati hanya tampak bagi mereka yang mau melihat dengan mata hati. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search