Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjaga dan merawat keimanan di tengah arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal itu disampaikan dalam acara pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep dan Prof. Dr. Dra. Lina Listiana, M.Kes di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis (30/4/2026).
Menurut Muhadjir, sejarah mencatat banyak perguruan tinggi besar di Barat yang awalnya lahir dari semangat keagamaan, terutama dari tradisi gereja, namun dalam perkembangannya justru mengalami sekularisasi yang kuat hingga tercerabut dari akar spiritualitasnya. Ia mencontohkan bagaimana universitas-universitas ternama yang dahulu berbasis nilai religius kini lebih menonjolkan rasionalitas semata.
“Kita belajar dari pengalaman tersebut. Perguruan tinggi Muhammadiyah tidak boleh kehilangan ruh keimanan. Justru di tengah kemajuan, iman harus semakin diperkuat,” ujar Muhadjir.
Ia menambahkan, tantangan terbesar perguruan tinggi saat ini bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memastikan bahwa kecerdasan itu tetap terikat pada nilai-nilai ketuhanan. Ia menegaskan bahwa menjaga keimanan merupakan agenda strategis yang tidak bisa ditawar.
Muhadjir kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan pemikiran Yuval Noah Harari, seorang sejarawan yang dikenal dengan gagasan tentang transformasi manusia dari Homo Sapiens menuju Homo Deus. Dalam perspektif Harari, manusia modern tidak lagi sekadar bertahan hidup, tetapi mulai berambisi menjadi “seperti Tuhan” melalui teknologi, kecerdasan buatan, dan rekayasa biologis.
Muhadjir menjelaskan bahwa konsep Homo sapiens merepresentasikan manusia sebagai makhluk berpikir (kognitif) yang mampu menciptakan berbagai inovasi dan kemajuan tanpa batas.
“Ciri Homo Sapiens adalah kognitif. Dengan kognitif, manusia bisa mencapai apa saja—kemajuan teknologi, sains, dan peradaban. Tapi pertanyaannya, apakah itu cukup?” ujarnya.
Dalam perspektif Islam, lanjut Muhadjir, manusia tidak hanya dipandang sebagai makhluk rasional, tetapi juga sebagai makhluk spiritual. Ia mengutip Al-Qur’an yang menyebut manusia sebagai an-nas, yang menurutnya disebutkan sekitar 20 kali, menggambarkan dimensi kemanusiaan secara umum. Sementara itu, panggilan ya ayyuhalladzina amanu yang disebutkan sebanyak 89 kali dalam Al-Qur’an menunjukkan identitas manusia beriman yang memiliki tanggung jawab moral dan spiritual.
Muhadjir menekankan bahwa konsep Homo Deus dalam pandangan Harari, yang cenderung ateistik, harus disikapi secara kritis oleh umat beriman. Menurutnya, jika ilmuwan sekuler berbicara tentang upaya manusia menjadi “seperti Tuhan” melalui teknologi, maka umat Islam harus menjawabnya dengan pendekatan yang berbeda, mendekatkan diri kepada Allah melalui ilmu yang diamalkan.
Ia menggarisbawahi bahwa tujuan akhir manusia bukan sekadar menjadi makhluk super cerdas, melainkan mencapai derajat ahsana taqwim—sebaik-baik bentuk penciptaan manusia sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.
“Yang kita inginkan bukan sekadar manusia yang canggih secara teknologi, tetapi manusia yang mencapai derajat ahsana taqwim. Itu hanya bisa dicapai jika ilmu yang dimiliki diiringi dengan iman dan diamalkan untuk kebaikan,” katanya.
Dalam konteks itu, Muhadjir menilai perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki peran penting untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keislaman. Ia mendorong agar kampus tidak hanya menjadi pusat pengembangan sains, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan spiritualitas.
“Kalau kita hanya menghasilkan manusia pintar, itu belum cukup. Kita harus menghasilkan manusia beriman yang mampu menggunakan ilmunya untuk mendekatkan diri kepada Allah,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan iman sebagai fondasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi, menurutnya, harus menjadi benteng moral sekaligus pusat pencerahan spiritual di tengah dunia yang semakin sekuler. (*/tim)
