Muhammadiyah: Ketika Diam Menjadi Terlalu Nyaman

Muhammadiyah: Ketika Diam Menjadi Terlalu Nyaman
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547.
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah jenis diam yang mulia: diam karena sedang bekerja.
Tetapi ada pula diam yang mencurigakan: diam ketika publik menunggu suara.

Ketika hutan terbakar, asap tidak mengenal batas administratif. Ia masuk ke paru-paru rakyat, bahkan tanpa surat izin. Ketika program pangan publik menimbulkan persoalan, yang dipertaruhkan bukan sekadar menu di atas meja, melainkan keselamatan manusia. Ketika bencana datang, rumah roboh lebih cepat daripada konferensi pers.

Di tengah semua itu, publik bertanya: di mana suara organisasi masyarakat sipil?
Muhammadiyah tentu tidak kosong dari kerja. Relawan bergerak, rumah sakit melayani, sekolah mendidik, lembaga filantropi mengumpulkan dana. Tradisi Al-Ma’un tidak lahir untuk membuat orang miskin menjadi bahan seminar.

Tetapi ada persoalan lain yang lebih sunyi.
Tangan Muhammadiyah mungkin bekerja. Tetapi apakah mulut moralnya cukup bersuara?
Sebab membantu korban dan mempertanyakan penyebab korban adalah dua pekerjaan yang berbeda.

Memadamkan kebakaran itu penting. Tetapi kalau setiap tahun kita hanya sibuk membawa selang, sementara sumber apinya tidak pernah ditanyakan, lama-lama kita bukan sedang menyelesaikan masalah.
Kita hanya menjadi petugas pemadam kebakaran yang rajin—di negeri yang kebakarannya tidak pernah selesai.

Begitu pula dengan kebijakan publik.
Jika ada persoalan dalam pelaksanaan program negara, Muhammadiyah tidak perlu menjadi musuh pemerintah. Tetapi ia juga tidak perlu menjadi tepuk tangan pemerintah.

Kemitraan tidak sama dengan kepatuhan.
Independensi tidak sama dengan permusuhan.
Kritik tidak sama dengan kebencian.

Justru organisasi masyarakat sipil memperoleh martabatnya ketika mampu mengatakan kepada kekuasaan:
“Kami membantu Anda ketika negara membutuhkan kami. Tetapi kami juga akan mengingatkan Anda ketika rakyat membutuhkan kami.”

Itulah jarak sehat antara masyarakat sipil dan kekuasaan.
Masalahnya, dalam politik Indonesia, kritik kadang dianggap kurang sopan. Apalagi jika yang dikritik sedang berkuasa. Maka bahasa menjadi hati-hati, kalimat menjadi berlapis, dan keberanian kadang disimpan dalam laci—barangkali menunggu suasana lebih aman.

Padahal amar makruf nahi mungkar bukan seni mencari momentum yang aman.
Muhammadiyah tidak harus berteriak.
Tidak perlu turun ke jalan setiap kali pemerintah keliru.
Tidak perlu menjadi organisasi yang setiap pagi mencari musuh baru.
Cukup satu hal: jangan kehilangan suara ketika suara itu dibutuhkan.

Sebab terlalu lama diam dapat menciptakan ironi.

Organisasi yang memiliki ribuan sekolah bisa kehilangan suara tentang pendidikan.
Organisasi yang memiliki universitas bisa kehilangan suara tentang kebijakan berbasis ilmu.
Organisasi yang memiliki rumah sakit bisa kehilangan suara tentang kesehatan publik.
Organisasi yang memiliki lembaga kebencanaan bisa kehilangan suara tentang akar bencana.
Dan organisasi yang mengajarkan amar makruf nahi mungkar bisa terdengar seperti sedang belajar cara baru untuk “nanti dulu”.

Tentu, ini bukan tuduhan bahwa Muhammadiyah tidak bergerak. Justru sebaliknya: karena Muhammadiyah memiliki kapasitas besar, publik berhak berharap lebih besar.
Muhammadiyah tidak perlu menjadi oposisi.
Tetapi jangan pula menjadi ornamen moral kekuasaan.

Ia harus tetap menjadi mitra ketika negara bekerja benar, dan menjadi pengingat ketika negara perlu dikoreksi.
Sebab organisasi besar bukan hanya diukur dari berapa banyak gedung yang dimiliki, berapa banyak sekolah yang berdiri, atau berapa banyak pasien yang dilayani.

Ia juga diukur dari berapa sering ia berani mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar oleh mereka yang sedang berkuasa.

Maka persoalannya bukan apakah Muhammadiyah bekerja atau tidak.
Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah:
Apakah Muhammadiyah masih cukup gelisah ketika bangsa sedang gelisah?

Sebab ada kalanya diam adalah hikmah.
Tetapi jika hutan terbakar, anak-anak menghadapi risiko, masyarakat menjadi korban bencana, dan kebijakan publik menimbulkan pertanyaan—lalu kita hanya sibuk memastikan suara kita tetap nyaman didengar semua pihak—
barangkali yang sedang kita jaga bukan lagi independensi, melainkan kenyamanan.
Dan organisasi yang terlalu nyaman dengan diam, perlahan-lahan bisa kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada suara: kepercayaan moral. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search