“(Of the many people in the world, the one most worthy of your continued advice is yourself).”
Dari banyaknya manusia di dunia, yang paling pantas untuk terus kamu nasihati adalah dirimu sendiri.
Sering kali manusia terjebak sibuk melihat kekurangan orang lain, hingga lupa memperbaiki diri sendiri. Padahal, keselamatan jiwa berawal dari keberanian melakukan introspeksi (muhasabah). Allah SWT mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya:
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka, tidakkah kamu berpikir?” (Q.S. Al-Baqarah: 44)
Menurut Tafsir Jalalain dan Ibnu Katsir, ayat ini merupakan celaan bagi siapa saja yang gencar mengajak orang lain pada kebaikan atau melarang kemungkaran, tetapi perilakunya justru bertolak belakang. Menasihati orang lain itu mulia, namun menasihati diri sendiri adalah kewajiban yang utama.
Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW juga mengingatkan bahaya sifat ini. Dari sahabat Usamah bin Zaid, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِى النَّارِ ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِى النَّارِ ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ ، فَيَقُولُونَ أَىْ فُلاَنُ ، مَا شَأْنُكَ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ قَالَ كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ
Artinya:
“Seseorang akan didatangkan pada hari kiamat, kemudian dia dilemparkan ke neraka hingga usus-ususnya terburai di dalam neraka. Dia berputar-putar seperti keledai memutari penggilingan. Lantas, penghuni neraka berkumpul di sekitarnya.Mereka bertanya, ‘Wahai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang memerintahkan kami melakukan kebaikan dan yang melarang kami dari mengerjakan kemungkaran?’ Memang betul,’ jawabnya, ‘aku dahulu memerintahkan kalian kepada kebaikan, tetapi aku sendiri tidak melakukannya. Sementara itu, aku melarang kalian dari kemungkaran, tetapi aku sendiri yang menerjangnya.’(HR.Bukhari No. 3267 dan Muslim No. 2989)
Inilah dalil-dalil yang cukup menjadi cambuk bagi kita agar giat mengamalkan ilmu. Jangan sampai justru orang lain yang merasakan manfaat ilmu kita, sementara kita sendiri tidak. Ibaratnya, kita hanya menjadi jembatan bagi orang lain menuju surga, sementara kita sendiri celaka.
Sebelum mengarahkan telunjuk kepada orang lain, bercerminlah pada jiwa sendiri. Jadikan nasihat terbaik bermula dari hati dan perbuatan kita pribadi agar selamat di dunia dan akhirat.
Semoga bermanfaat.
