Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan pentingnya transformasi tata kelola pendidikan melalui penerapan indikator kinerja yang terukur. Langkah strategis ini diambil demi mewujudkan ekosistem pendidikan yang unggul dan berkemajuan.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, saat menjadi pembicara dalam Seminar Pendidikan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026). Acara tersebut dirangkaikan dengan peluncuran Muhammadiyah Balanced Scorecard sekaligus penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Marshall Cavendish Education.
Dalam paparannya yang bertajuk “Transformasi Sekolah Muhammadiyah Berbasis KPI untuk Mewujudkan Pendidikan Unggul dan Berkemajuan”, Sayuti menekankan bahwa keberhasilan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya di sektor pendidikan, tidak boleh lagi sekadar diukur dari capaian kuantitatif di atas kertas.
“Kehadiran AUM harus berdampak nyata bagi masyarakat dan organisasi. Agar bisa berdampak, tata kelola organisasinya harus dibenahi, dan salah satu instrumen utamanya adalah indikator kinerja yang jelas,” ujar Sayuti.
Menurutnya, peningkatan kualitas AUM tidak dapat dilakukan secara parsial. Kinerja sekolah, perguruan tinggi, hingga rumah sakit harus bergerak selaras dengan penguatan kinerja Persyarikatan serta majelis yang menaunginya.
Empat Pilar Fikih Tata Kelola dan Adaptasi Modern
Sebagai fondasi perubahan, Sayuti menggarisbawahi empat parameter fikih tata kelola Muhammadiyah: amanah, tanggung jawab, uswatun hasanah (teladan baik), dan visioner. Keempat pilar ini yang menjadi landasan implementasi Muhammadiyah Balanced Scorecard sebagai instrumen pengukur Key Performance Indicator (KPI).
Tak hanya itu, ia juga mendorong adopsi prinsip manajemen modern, merujuk pada 7S Framework dari McKinsey & Company (structure, strategy, systems, skills, style, staff, dan shared values). Pendekatan ini dinilai relevan untuk memperkuat kapasitas organisasi di tengah kompetisi global yang kian sengit.
“Muhammadiyah harus adaptif menjadi organisasi yang maju, profesional, dan modern. Kita menghadapi persaingan yang bergerak sangat cepat. Lengah sedikit, kita akan tertinggal jauh,” tegas Sayuti.
Di akhir sesi, ia mengutip pesan historis dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, sebagai pelecut semangat para kader: “Dadiyo kyai sing kemajuan, lan ojo kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah” (Jadilah pemuka agama yang berkemajuan, dan jangan pernah lelah bekerja untuk Muhammadiyah).
Langkah progresif ini mendapat apresiasi tinggi dari Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI), Toni Toharudin. Toni menilai, perbaikan mutu pendidikan memang harus berjalan secara berkelanjutan dan visioner.
“Saya mengapresiasi setinggi-tingginya langkah PWM DIY bersama Majelis Dikdasmen dan PNF DIY yang menginisiasi penggunaan Muhammadiyah Balanced Scorecard. Ini adalah lompatan visioner untuk mengukur indikator kinerja pendidikan secara presisi,” tutur Toni. (*/tim)
