Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Universitas Pertahanan (Unhan) segera memberikan klarifikasi resmi terkait dugaan kebijakan pelarangan hijab bagi calon mahasiswi. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan kejelasan duduk perkara sekaligus mencegah polemik berkembang menjadi keresahan publik.
Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK), Siti Ma’rifah, menegaskan bahwa apabila dugaan tersebut terbukti benar, masalah ini bukan sekadar persoalan tata tertib internal kampus, melainkan bentuk pelanggaran hak konstitusional warga negara.
“Jika peristiwa itu benar terjadi, maka itu adalah pelanggaran terhadap hak konstitusional sebagaimana diatur dalam Pasal 29 UUD 1945 serta ketentuan HAM,” ujar Siti Ma’rifah, dikutip dari MUI Digital, Ahad (23/8/2026).
Siti menekankan, kejelasan dari Unhan sangat penting mengingat posisinya sebagai institusi pendidikan militer strategis. Menurutnya, Unhan seharusnya menjadi wadah yang melahirkan generasi penerus bangsa yang inklusif, bersatu, dan saling menghormati, bukan justru membuat aturan diskriminatif yang berpotensi memecah belah persatuan.
Putri dari Wakil Presiden ke-13 RI tersebut juga menyoroti momentum kemerdekaan Indonesia. Ia mengaku prihatin isu diskriminasi agama ini muncul tak lama setelah peringatan HUT ke-81 RI.
“Pelarangan hijab mencederai makna kemerdekaan dan menandai kemunduran perjalanan bangsa. Kemerdekaan semestinya tercermin dalam jaminan kebebasan setiap warga negara untuk menjalankan keyakinannya sesuai semangat Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.
Pengakuan Calon Mahasiswi
Isu ini pertama kali mencuat dari pengakuan Asma Wafa Andina, seorang calon mahasiswi S-1 Kedokteran Unhan pada proses Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) TA 2026/2027. Meski telah dinyatakan lulus seleksi tingkat pusat, Asma memilih mengundurkan diri karena adanya dugaan kebijakan tidak tertulis yang mengharuskan mahasiswi melepas hijab.
“Peserta berhijab memang diberi kesempatan dan difasilitasi selama tes. Namun, setelah dinyatakan lulus, pilihan yang tersisa bagi kami hanya melepas hijab atau mundur. Saya memilih mundur,” ungkap Asma melalui unggahannya. (*/tim)
