Niat Baik Tidak Pernah Cukup

Niat Baik Tidak Pernah Cukup
*) Oleh : Dr. Jaharuddin
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
www.majelistabligh.id -

Padahal kemampuan berkata, “Mungkin saya keliru,” adalah salah satu bentuk kekuatan moral yang paling besar. Orang yang bersedia diperiksa bukan berarti lemah. Orang yang mau mendengar kritik bukan berarti kehilangan wibawa. Orang yang mengakui kesalahan bukan berarti gagal. Kadang-kadang justru di situlah tampak integritas seseorang.

Kita juga harus jujur bahwa aturan tidak selalu sempurna. Peraturan dibuat oleh manusia. Ia lahir dalam keadaan tertentu, dengan kebutuhan tertentu, dan berdasarkan pengetahuan yang juga terbatas. Zaman berubah, teknologi berkembang, persoalan baru muncul. Tidak semua regulasi mampu menjawab semua keadaan dengan sempurna.

Tetapi ketidaksempurnaan aturan tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk merasa bebas mengabaikannya. Sebab apabila setiap orang boleh memilih sendiri aturan mana yang ingin ditaati dan mana yang hendak dikesampingkan, kita tidak lagi memiliki ukuran bersama. Yang kemudian berlaku adalah kehendak orang yang paling kuat, paling berpengaruh, atau paling dekat dengan pusat keputusan.

Hari ini kita mungkin senang ketika sebuah aturan dilonggarkan demi kepentingan yang kita anggap baik. Tetapi bagaimana jika besok kelonggaran yang sama digunakan untuk kepentingan yang merugikan kita?

Karena itu, apabila aturan memang tidak lagi baik, perbaikilah aturannya. Jangan membangun kebiasaan untuk melanggarnya. Jika ada ruang yang sah untuk mengambil kebijakan, gunakan dengan bijaksana. Jika ada prosedur untuk melakukan pengecualian, tempuh dengan terbuka. Jika regulasi perlu direvisi, doronglah revisi. Perubahan yang dilakukan melalui cara yang benar akan memperkuat sistem. Sebaliknya, pembenaran atas pelanggaran yang terus-menerus akan perlahan meruntuhkan kepercayaan.

Kita membutuhkan bukan hanya kepatuhan, tetapi juga kebijaksanaan. Sebab mematuhi aturan tanpa memahami tujuan aturan dapat melahirkan kekakuan. Namun menggunakan kebijaksanaan tanpa menghormati batas dapat melahirkan kesewenang-wenangan. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan, hukum yang memiliki hati, dan kebijaksanaan yang mengetahui batas.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan, mungkin kita perlu membiasakan diri mengajukan pertanyaan yang lebih dalam. Bukan hanya, “Apakah ini boleh?” tetapi juga, “Apakah ini perlu?” Bukan hanya, “Apakah saya berwenang?” tetapi juga, “Apakah penggunaan kewenangan ini adil?” Bukan hanya, “Apakah keputusan ini menguntungkan?” tetapi juga, “Siapa yang mungkin terluka oleh keputusan ini?”

Lalu tanyakan satu hal yang lebih pribadi, jika posisi kita bertukar dengan orang yang terkena dampak keputusan itu, apakah kita masih menganggap keputusan tersebut adil?

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat menyelamatkan kita dari banyak kekeliruan.

Ada pula ujian yang tidak kalah penting. Bayangkan seluruh keputusan kita dibuka di hadapan orang banyak. Alasannya diketahui. Prosesnya terlihat. Mereka tahu siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung kerugian. Tidak ada yang disembunyikan. Apakah kita masih merasa tenang mempertahankan keputusan itu?

Keputusan yang baik tidak harus selalu menyenangkan semua orang. Tetapi keputusan yang baik semestinya mempunyai alasan yang dapat dijelaskan dengan kepala tegak dan hati yang tenang.

Pada akhirnya, kehidupan yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang memiliki niat baik. Ia membutuhkan manusia yang mau menjaga niatnya dengan ilmu, menuntun tindakannya dengan kebijaksanaan, membatasi kekuasaannya dengan aturan, dan membersihkan langkahnya melalui muhasabah.

Kita tidak boleh berhenti pada perasaan bahwa kita sudah baik.

Kita harus terus bertanya apakah cara kita sudah benar.

Sebab terkadang perubahan terbesar bukan dimulai dari keberanian mengubah orang lain, melainkan dari kerendahan hati untuk mengoreksi diri sendiri.

Kebaikan yang matang tidak berkata, “Niat saya baik, maka percayalah kepada saya.” Kebaikan yang matang berkata, “Karena niat saya baik, saya harus lebih berhati-hati. Saya harus merencanakan dengan benar, menghormati aturan, berlaku adil, bersedia diperiksa, dan siap memperbaiki diri jika ternyata saya salah.”

Barangkali di situlah makna terdalam dari amanah.

 

Tinggalkan Balasan

Search