Nikmat Tak Pernah Habis, Syukur yang Sering Terlupa

Nikmat Tak Pernah Habis, Syukur yang Sering Terlupa
*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Mulailah setiap pagi dengan merenungi perjalanan hidup kita—baik yang penuh nikmat maupun yang dihiasi dengan ujian dan musibah.

Dengan perenungan ini, kita akan sadar betapa panjang langkah yang telah kita tempuh, dan betapa banyak anugerah yang telah Allah limpahkan sepanjang jalan tersebut.

Renungan semacam ini akan menyadarkan kita bahwa nikmat Allah sebenarnya selalu cukup, selalu tersedia, selalu melimpah, namun sering kali kitalah yang kurang bersyukur.

Kita terlalu fokus pada yang belum kita miliki, sehingga lupa menghargai apa yang sudah Allah berikan.

Begitu pula dengan musibah. Jika direnungi dalam keheningan hati, kita akan tahu bahwa ujian dari Allah selalu datang pada waktu yang tepat.

Ia hadir bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mendewasakan dan menguatkan. Namun sayangnya, kesabaran kita sering terlambat datang, lebih dulu muncul keluhan dan ketidakterimaan.

Lalu kita merenung pula, bahwa meski ibadah kita baru sekadar membatalkan kewajiban—shalat hanya sebagai rutinitas, zikir hanya di bibir, dan sedekah hanya karena formalitas, namun rahmat Allah terus tercurah.

Ia tidak menuntut kita secara langsung, tidak menghukum seketika, bahkan tetap memberi waktu dan peluang untuk memperbaiki diri.

Kita pun dihadapkan pada kenyataan bahwa begitu banyak waktu telah terbuang sia-sia, detik-detik yang lewat tanpa amal dan makna.

Namun Allah masih membuka pintu perbaikan, memberi kita napas dan hari baru agar kita bisa menambal yang bolong, menebus yang hilang.

Seharusnya kita malu—malu karena kita sering mendurhakai Allah dengan dosa-dosa besar maupun kecil, yang tampak maupun tersembunyi.

Namun Allah begitu lembut menutupi aib kita, tidak langsung menghukum, bahkan menanti-nanti taubat kita dengan penuh cinta.

Ia Maha Pengampun bagi yang beristighfar, dan Maha Penerima bagi hamba yang kembali kepada-Nya.

Dalam perenungan itu, hadir pula wajah-wajah yang pernah memberi kita doa, perhatian, cinta, ilmu, dan bantuan.

Mereka hadir dalam setiap fase hidup kita, sebagai malaikat tanpa sayap yang dititipkan Allah untuk mendampingi kita. Sudahkah kita berterima kasih? Sudahkah kita doakan mereka kembali?

Sebaliknya, kita pun harus membayangkan siapa saja yang pernah kita sakiti, kita rugikan, kita kecewakan, atau bahkan kita ajak dalam kemaksiatan.

Adakah mereka akan menuntut kita kelak di akhirat? Adakah luka-luka mereka akan menjadi sandungan kita di hadapan pengadilan Allah?

Mari kita hitung kembali seberapa besar usaha yang telah kita lakukan untuk menambah bekal akhirat, dan seberapa sedikit beban yang telah kita ringankan.

Sudahkah kita memperbanyak amal pembela, dan mengurangi dosa-dosa yang akan menjadi penggugat?

Dalam kaitannya dengan syukur, Rasulullah saw bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Baihaqi:

“Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”

Hadits ini menegaskan bahwa rasa syukur kepada Allah tidak bisa dipisahkan dari kemampuan kita menghargai sesama manusia. Ketidakmampuan mengucapkan terima kasih kepada orang lain adalah cerminan dari hati yang tidak peka terhadap nikmat Allah.

Bersyukur bukan hanya soal kata-kata, tapi bentuk nyata dari ketaatan dan kesadaran seorang Muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan Aku tambah (nikmat-Ku) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Maka, mari mulai hari ini dengan kesadaran penuh bahwa nikmat Allah tak pernah berkurang, hanya saja hati kita yang sering lalai untuk bersyukur.

Semoga Allah melembutkan hati kita agar lebih peka terhadap karunia-Nya dan lebih rajin dalam mengucap syukur serta menebar kebaikan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search