Pesta Pora Elite Politik dan Hilangnya Moralitas Publik

Pesta Pora Elite Politik dan Hilangnya Moralitas Publik
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Anugerah besar berupa melimpahnya dunia bagi elite politik seharusnya membuatnya terdorong bersyukur kepada Sang Pencipta dan Pemberi kenikmatan. Namun realitas historis justru menunjukkan sebaliknya, limpahan harta kerap melahirkan kelalaian, hingga muncul berbagai perbuatan kontra produktif yang berujung mempertontonkan buruknya moralitas kepada publik.

Mempertontonkan Harta

Seolah menjadi sunnatullah bahwa manusia yang berlimpah harta berbuat aneh-aneh yang berujung kerusakan moral di mana-mana. Al-Qur’an merekam kaidah ini secara eksplisit yang mempertontonkan hilangkan moralitas elite kepada publik. Hal ini karena orientasi politik untuk mencari kenikmatan duniawi semata. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

مَنْ كَا نَ يُرِيْدُ حَرْثَ الْاٰ خِرَةِ نَزِدْ لَهٗ فِيْ حَرْثِهٖ ۚ وَمَنْ كَا نَ يُرِيْدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنْ نَّصِيْبٍ
“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya, dan barang siapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” [QS. Asy-Syura 42: 20]

Ayat ini menegaskan adanya dikotomi orientasi. Ketika dunia menjadi tujuan, bukan sarana, maka keberlimpahan berubah menjadi ujian yang menggerus dimensi transendental manusia. Hal ini diperkuat dalam firman-Nya:

وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَا دِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَ رْضِ وَلٰكِنْ يُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ بِعِبَا دِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ
Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui terhadap hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” [QS. Asy-Syura : 27]

Kecenderungan melampaui batas ketika rezeki dilapangkan kepada manusia merupakan pola empirik yang berulang. Sejarah kenabian memberikan bukti nyata sebagaimana terjadi zaman Nabi Musa. Era Nabi hiduplah Qarun. Dia mendapat limpahan harta tak terbatas, namun senantiasa berbuat kerusakan dengan mempertontonkan harta. Tak mau berbagi dan pamer harta menjadi perilakunya.

Peringatan ilahi pun tak pernah digubris sehingga Allah menenggelamkan seluruh hartanya. Gudang-gudang harta yang kunci-kuncinya saja berat dipikul sekelompok orang kuat ikut tenggelam. Namun limpahan itu tidak melahirkan syukur, melainkan kesombongan: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku” [QS. Al-Qashash: 78]. Qarun berbuat baghyu di bumi: menindas Bani Israil, memamerkan kekayaan, dan menentang Musa.

Akhirnya, bumi menelannya beserta gudang hartanya. Kerusakan moral Qarun berdampak sistemik: menciptakan kesenjangan, hedonisme, dan kultus harta di masyarakatnya.

Hal yang sama terjadi pada kaum Saba’ pada masa Nabi Sulaiman.
Kaum Saba’ dianugerahi negeri yang disebut baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur: dua kebun di kanan-kiri, bendungan Ma’rib yang canggih, dan jalur dagang internasional. Limpahan dunia itu semestinya mengikat mereka pada ketaatan. Namun mereka berpaling, kufur nikmat, dan berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami” [QS. Saba’: 19].

Akibatnya, bendungan jebol, kebun berubah jadi tanaman pahit, dan peradaban hancur. Disini, kerusakan moral berupa kufur nikmat melahirkan kerusakan ekologi dan disintegrasi sosial.

Kaum Madyan pada masa Nabi Syu’aib AS juga melakukan hal yang sama dimana negeri ini menjadi pusat perdagangan. Kekayaan membuat mereka curang dalam takaran, menimbun, dan merampas hak orang lain. Nabi Syu’aib mengingatkan, tetapi mereka menjawab dengan arogan: “Apakah shalatmu yang menyuruh kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami?” [QS. Hud: 87].

Kerusakan Moralitas Elite Modern

Limpahan dunia tanpa nilai kenabian melahirkan korupsi sistemik dan kerusakan lini ekonomi.
Era saat ini juga terjadi pola yang sama dan berulang dalam konteks modern. Dengan skala lebih kompleks karena globalisasi dan teknologi. Oligarki dan perusakan ekosistem ketika limpahan kapital di tangan segelintir korporasi melahirkan baghyu dalam bentuk eksploitasi tambang dan hutan tanpa batas.

Kasus izin HGU, pembakaran hutan Kalimantan dan Sumatera, serta pencemaran sungai oleh limbah industri menunjukkan bagaimana kekayaan memicu keserakahan. Ayat-ayat Allah tentang amanah menjaga bumi dijadikan olok-olok atas nama pertumbuhan ekonomi. Inilah yang disebut Al-Qur’an:

ذٰلِكُمْ بِاَ نَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ هُزُوًا وَّغَرَّتْكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا
“Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan, dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia” [QS. Al-Jasiyah : 35]

Gaya hidup hedon pejabat dan elite juga terjadi dimana fenomena flexing harta di media sosial oleh anak pejabat, kasus korupsi yang melibatkan miliaran rupiah, hingga pesta mewah di tengah kemiskinan struktural adalah bentuk modern dari istamta’tum biha—bersenang-senang dengan rezeki tanpa batas etika. Kekayaan tidak melahirkan empati, melainkan arogansi. Inilah yang diperingatkan, sebagaimana firman-Nya :

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا عَلَى النَّا رِ ۗ اَذْهَبْتُمْ طَيِّبٰـتِكُمْ فِيْ حَيَا تِكُمُ الدُّنْيَا وَا سْتَمْتَعْتُمْ بِهَا ۚ فَا لْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَا بَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْـتُمْ تَسْتَكْبِرُوْنَ فِى الْاَ رْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُوْنَ
Dan pada hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka, dikatakan: Kamu telah menghabiskan rezeki yang baik untuk kehidupan duniamu, dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghinakan, karena kamu sombong di bumi tanpa mengindahkan kebenaran, dan karena kamu berbuat durhaka.” [QS. Al-Ahqaf : 20]

Industri hiburan dan dekadensi moral juga menjadi tontonan yang disebabkan oleh limpahan modal di industri hiburan. Mereka kerap memproduksi konten yang merusak akhlak seperti pornografi, normalisasi LGBT, judi online, dan narkoba digital. Kekayaan dijadikan alat menyebar kerusakan moral lintas generasi. Kerusakan ini tidak lagi sektoral, melainkan menyentuh lini keluarga, pendidikan, dan budaya.

Baik Qarun maupun oligarki modern membuktikan satu hukum sosial: harta tanpa taqwa melahirkan baghyu. Dunia yang dilapangkan bukan untuk kesombongan, melainkan ujian syukur. Ketika ayat Allah dijadikan huzuwan, olok-olok, dan manusia tertipu oleh gemerlap dunia, maka kerusakan menjadi keniscayaan. Kerusakan moral individu merembet ke kerusakan ekonomi, ekologi, politik, dan peradaban.

Karena itu, solusinya bukan menolak kekayaan, melainkan menundukkan kekayaan di bawah nilai kenabian. Sebab tanpa takwa, limpahan dunia hanya akan mempercepat manusia menuju azab yang menghinakan, tanpa ada kesempatan bertobat.

Surabaya, 31 Mei 2026

 

 

Tinggalkan Balasan

Search