Ia kemudian mengangkat spirit Iqra sebagai fondasi tradisi belajar dalam Islam. Menurutnya, perintah membaca dalam Surah Al-Alaq ayat 1–5 menjadi awal dari tradisi belajar yang mendorong lahirnya masyarakat ilmiah.
Transformasi tersebut, jelas Prof. Mu’ti, perlu dibangun melalui tradisi menulis, pengajaran sejawat (peer teaching), dan pembangunan masyarakat pembelajar (learning society). Tradisi tersebut diarahkan untuk meningkatkan harkat manusia serta membangun masyarakat yang berpengetahuan dan berakhlak.
Lebih lanjut, Prof. Mu’ti mendorong Muhammadiyah terus memperkuat masyarakat pembelajar melalui tradisi membaca dan menulis yang berkelanjutan. Pendidikan juga harus memadukan kedalaman ilmu dengan kekuatan spiritual serta menjadikan akhlakul karimah sebagai inti proses pendidikan dan kemajuan bangsa.
Pesan tersebut memperkuat gagasan Tahlil Sosial yang disampaikan Ketua PDM Kabupaten Malang. Jika Tahlil Sosial menekankan kehadiran Muhammadiyah melalui amal nyata, Prof. Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan menjadi salah satu instrumen utama untuk memastikan gerakan tersebut mampu membangun masyarakat yang berilmu, berkarakter, dan berkemajuan.
Dengan demikian, Pengajian Daerah PDM Kabupaten Malang tidak hanya menjadi ruang silaturahim warga Muhammadiyah, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat orientasi gerakan pada kemanfaatan sosial dan transformasi pendidikan. Muhammadiyah didorong terus menghadirkan kontribusi nyata melalui pendidikan, filantropi, dan pembangunan masyarakat pembelajar demi mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, dan berkeadaban. (Muhammad Salmanudin Hafizh Shobirin – Wakil Ketua Bidang Organisasi PCPM Klojen Kota Malang)
