Pendidikan Bermutu untuk Semua, Lahir dan Batin

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

“Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.” Filosofi yang menuntut pemimpin di depan menjadi teladan, penggerak di tengah, dan dorongan dari belakang. — Ki Hajar Dewantara

***

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia kembali menengok wajah pendidikannya. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan sekadar rutinitas upacara, melainkan sebuah panggung refleksi bagi bangsa untuk menata kembali arah pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), sejak usia dini.

Tahun ini, tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” menjadi sebuah pernyataan tegas sekaligus pengakuan jujur. Negara mengakui bahwa pendidikan tidak lagi dapat dibebankan semata pada institusi pemerintah. Pendidikan adalah tanggung jawab kolektif. Tanggung jawab semesta.

Anak-anak memang datang ke sekolah untuk mengecap ilmu pengetahuan. Tetapi saat mereka di luar gedung sekolah, sejatinya banyak menyerap realitas yang berbeda. Mereka belajar dari kehangatan rumah, debu jalanan, hiruk-pikuk media sosial, hingga perilaku para pemimpin publik di layar kaca. Jika semesta yang mengelilingi mereka dipenuhi dengan ketidakteraturan, maka sekolah sekuat apa pun akan kewalahan membentuk karakter peserta didik.

Selama lima tahun terakhir, Indonesia memang mencatat kemajuan progresif dalam pemerataan akses pendidikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Angka Partisipasi Murni (APM) untuk tingkat SD telah menyentuh angka 99,10% pada tahun 2023. Namun, di balik megahnya angka statistik tersebut, tantangan kualitas masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan secara sistemik.

Di satu sisi kita bicara tentang digitalisasi pendidikan, namun di sudut lain nusantara, pendidikan adalah soal pertaruhan nyawa. Siswa SDN 156 Muara Lepat di Jambi misalnya, masih harus berenang melintasi sungai demi tiba di sekolah.

Di Aceh Tengah, siswa SDN 10 Linge dan SMPN 26 Takengon terpaksa meniti tali maut untuk menyeberangi sungai setelah jembatan darurat mereka hancur. Di tanah Papua, anak-anak SD Negeri Awado harus menembus ombak empat jam dengan perahu hanya untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik di Serui.

Pendidikan yang bermutu seharusnya tidak mengenal jarak. Namun, bagi mereka, ilmu adalah harapan yang harus dijemput dengan peluh dan nyawa. Inilah ironi yang harus segera diakhiri melalui strategi pembangunan infrastruktur yang berkeadilan, khususnya dari tangan-tangan pemerintah daerah.

Transformasi Manusia yang Utuh

Kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Menteri Abdul Mu’ti kini tengah berjibaku melakukan pembenahan. Kebijakan strategis mulai diarahkan secara menyeluruh, mencakup perbaikan infrastruktur sekolah, penguatan karakter siswa, peningkatan kesejahteraan guru, hingga pemanfaatan teknologi pendidikan secara inklusif. Tujuannya tegas, menutup jurang ketimpangan kualitas yang selama ini memisahkan anak-anak di kota besar dengan mereka yang berada di beranda terdepan nusantara.

Pendidikan bukan lagi sekadar transfer ilmu (transfer of knowledge), melainkan pembentukan manusia yang utuh. Pintar saja tidak cukup. Pendidikan harus menyentuh dimensi karakter, etika, dan kemampuan adaptif.

Kita tidak sedang membangun robot, melainkan membangun manusia yang memiliki daya pikir, daya rasa, dan daya cipta. Di tengah zaman yang semakin gaduh oleh disrupsi informasi, anak-anak kita harus tumbuh sebagai pribadi yang berakhlak, tangguh, jujur, dan mampu hidup bermartabat.

Hardiknas adalah momentum untuk mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah mentari yang seharusnya menyinari setiap gubuk tanpa terkecuali. Pendidikan bermutu untuk semua. Mutu pendidikan bukan sekadar angka di atas kertas ujian atau skor Programme for International Student Assessment (PISA) yang membaik, melainkan sejauh mana pendidikan mampu memanusiakan manusia.

Jangan biarkan anak-anak kita berjuang sendirian menyeberang di atas tali, mengarungi arus sungai dan ombak laut. Partisipasi semesta berarti kita semua turun tangan. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, melainkan oleh seberapa kuat karakter manusia yang kita bentuk hari ini. Mari kita wujudkan pendidikan bermutu, bukan hanya untuk mereka yang berada di pusat kota, tapi untuk setiap jiwa di pelosok negeri.

Selamat Hari Pendidikan wahai jiwa-jiwa muda. Engkau adalah pemimpin masa depan bangsa ini, yang tangguh, berakhlak, beriman, lurus, dan tentu saja anti korupsi. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search