Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk salah satu dari empat bulan mulia yang dimuliakan Allah. Di antara hari yang paling istimewa dalam bulan ini adalah hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Selain anjuran berpuasa, Hari Asyura juga menyimpan jejak berbagai peristiwa besar yang menjadi pelajaran abadi bagi umat manusia.
Jika ditelusuri dalam sejarah para nabi dan perjalanan umat Islam, Asyura selalu menghadirkan pesan yang sama: kebenaran pada akhirnya akan menang, meskipun harus melalui jalan panjang yang penuh pengorbanan.
Kemenangan itu terkadang hadir dalam bentuk keselamatan, terkadang berupa keteguhan iman, dan pada kesempatan lain menjelma sebagai kemuliaan syahid di sisi Allah.
Musa dan Tenggelamnya Fir’aun
Salah satu peristiwa paling masyhur yang dikaitkan dengan hari Asyura adalah kemenangan Nabi Musa dan Bani Israil atas tirani Fir’aun.
Setelah bertahun-tahun hidup dalam penindasan, Allah memerintahkan Musa membawa kaumnya keluar dari Mesir. Ketika mereka terdesak di tepi laut dan pasukan Fir’aun berada di belakang mereka, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak terduga. Laut terbelah menjadi jalan keselamatan bagi orang-orang beriman sekaligus menjadi kuburan bagi pasukan zalim.
Allah berfirman:
فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ وَأَنْجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Kami dekatkan golongan yang lain ke tempat itu. Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sungguh Tuhanmu benar-benar Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 63-68)
Nabi Nuh dan Berlabuhnya Kapal Keselamatan
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa pada hari Asyura kapal Nabi Nuh berlabuh di Bukit Judi setelah banjir besar melanda bumi. Riwayat tersebut memang dinilai lemah oleh para ulama, tetapi peristiwa Nabi Nuh sendiri merupakan pelajaran yang sangat berharga tentang kesabaran dan keteguhan.
Selama berabad-abad Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya dengan penuh kesabaran. Hanya sedikit yang beriman. Ketika azab Allah datang, keselamatan diberikan kepada orang-orang yang tetap teguh bersama beliau.
Allah berfirman:
وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Naiklah kamu ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Hud [11]: 41)
Setelah banjir surut, Allah berfirman:
وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ
“Dan difirmankan, ‘Wahai bumi, telanlah airmu, dan wahai langit berhentilah.’ Air pun surut, keputusan telah ditetapkan, dan kapal itu berlabuh di atas Bukit Judi.” (QS. Hud [11]: 44)
Kisah ini mengingatkan bahwa kemenangan tidak selalu datang dengan cepat. Ada kalanya seorang mukmin harus melewati masa panjang penuh ujian sebelum menyaksikan pertolongan Allah. Namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran hamba-hamba-Nya.
Kesyahidan Husain bin Ali
Hari Asyura juga dikenang sebagai hari syahidnya Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, cucu tercinta Rasulullah saw. Husain merupakan salah satu anggota keluarga Nabi yang paling dicintai. Rasulullah saw bersabda:
الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا
“Hasan dan Husain adalah dua bunga kesayanganku di dunia.” (HR. al-Bukhari)
Pada tahun 61 Hijriah, Husain gugur di Karbala setelah menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar. Secara lahiriah, beliau terbunuh dan keluarganya mengalami penderitaan yang sangat berat. Namun dalam pandangan iman, kesyahidan Husain merupakan kemenangan yang jauh melampaui kemenangan duniawi.
Rasulullah saw bersabda:
حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا
“Husain bagian dariku dan aku bagian dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintai Husain.” (HR. at-Tirmidzi)
Allah juga berfirman:
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِنْ لَا تَشْعُرُونَ
“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka itu mati. Bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. al-Baqarah [2]: 154)
Palestina dan Harapan Kemenangan Umat
Ketika mengenang Musa, Nuh, dan Husain, umat Islam masa kini tidak dapat melepaskan perhatian dari penderitaan rakyat Palestina yang terus menghadapi penindasan dan kekerasan.
Pemandangan kehancuran, pengusiran, pembunuhan, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang menimpa rakyat Palestina mengingatkan umat Islam bahwa perjuangan melawan kezaliman masih terus berlangsung hingga hari ini.
Cara terbaik memperingati Asyura bagi kita adalah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw, yakni dengan berpuasa. Ketika Nabi saw tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura karena mengenang kemenangan Nabi Musa. Beliau kemudian bersabda:
نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” (HR. al-Bukhari)
Lalu Rasulullah Saw berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.|| Referensi: Penulis Yaqeen Institute, “What Happened on the Day of Ashura? Contextualizing the Events and Meaning of Ashura”
