Perkembangan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi tantangan nyata bagi para kader ulama masa kini. Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan para lulusan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) agar tidak tergerus pesatnya teknologi yang kini seolah berbalik menguasai manusia.
Pesan tersebut disampaikan Haedar saat memberikan amanat dalam acara Wisuda dan Pelepasan Tholabah Pengabdian PUTM di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (29/8/2026). Dalam agenda tersebut, PUTM resmi mewisuda 66 tholabah serta melepas 44 tholabah untuk mengabdi di masyarakat.
“Kita berada di era ketika teknologi informasi begitu dahsyat dan menjadi kekuatan dominan yang memengaruhi kehidupan, termasuk kehadiran media sosial. Bahkan hari ini kita menyaksikan hadirnya ‘makhluk baru’ ciptaan manusia, yakni Artificial Intelligence,” ujar Haedar.
Haedar menyebut AI sering kali diartikan sebagai “akal imitasi”. Meski buatan manusia, kecanggihan AI justru kerap membuat penciptanya kehilangan rasa percaya diri hingga terkesan menjadi “hamba” dari teknologi yang mereka buat sendiri.
Kendati demikian, Guru Besar Ilmu Sosiologi ini menegaskan bahwa peran manusia tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi sejago apa pun. Syaratnya, manusia harus mengoptimalkan potensi akal dan hati nurani yang berlandaskan moral.
“Robot produk AI tidak tahu tentang baik dan buruk. Asal disetel untuk apa pun, dia bisa melakukannya—bahkan memicu bom nuklir secara saintifik tanpa ada seleksi moral. Di sinilah letak keunggulan manusia melalui al-akhlaq al-karimah yang membedakan mana yang benar, salah, pantas, dan tidak pantas,” tegasnya.
Ia pun berharap para tholabah yang diwisuda dapat membawa nilai-nilai budi luhur tersebut saat mengabdi untuk Persyarikatan, umat, bangsa, hingga kemanusiaan semesta.
Senada dengan Haedar, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ustadi Hamzah, berpesan agar para lulusan senantiasa berdiri di barisan terdepan dalam menebar kebaikan sesuai prinsip fastabiqul khairat.
Menurut Ustadi, jika umat Islam konsisten menjaga semangat berlomba-lomba dalam kebaikan, kemajuan yang dicita-citakan dapat tercapai melalui lahirnya berbagai karya bermanfaat tanpa sedikit pun mengesampingkan norma dan moralitas. (*/tim)
