Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan budaya global, Arab Saudi memiliki Pusat Global Kaligrafi Arab Pangeran Mohammed bin Salman. Berbeda dari gedung kesenian biasa, pusat kebudayaan modern ini dibangun sebagai museum interaktif sekaligus ruang strategis untuk memperkuat identitas peradaban Islam, mendorong regenerasi seniman kaligrafi, serta menyelamatkan berbagai manuskrip bersejarah yang terancam punah.
Berdiri megah di atas lahan seluas 5.000 meter persegi dengan luas bangunan melebihi 9.000 meter persegi, museum tiga lantai ini dirancang bukan sekadar untuk memajang karya seni visual. Kehadirannya ditujukan sebagai ruang multidimensi yang menghubungkan sejarah, riset, pendidikan, hingga diplomasi budaya internasional di era modern.
Pusat kebudayaan yang berlokasi di Riyadh ini menyimpan museum permanen berisi lebih dari 56 koleksi langka. Pengunjung diajak menelusuri evolusi panjang kaligrafi Arab, mulai dari manuskrip awal Al-Qur’an, koin-koin kuno peninggalan kerajaan Islam, hingga karya seni kontemporer. Museum ini juga mendokumentasikan bagaimana kaligrafi Arab menyebar dan memengaruhi peradaban di berbagai penjuru dunia, termasuk Afrika, China, hingga India.
Selain ruang pameran permanen, kompleks ini dilengkapi dengan:
- Perpustakaan khusus peradaban dan seni Islam
- Studio kaligrafi dan ruang pelatihan regenerasi
- Teater modern dan fasilitas riset internasional
Menariknya, pembangunan gedung ini mengintegrasikan prinsip keberlanjutan lingkungan. Arsitekturnya memanfaatkan pencahayaan alami, energi surya, serta material lokal berupa batu basal vulkanik—membuktikan bahwa pelestarian warisan sejarah dapat berjalan selaras dengan pembangunan ramah lingkungan.
Menjaga Warisan Langka
Menteri Kebudayaan Pangeran Badr Bin Abdullah bin Farhan melalui Wakil Menteri Kebudayaan di Museum Nasional Riyadh menegaskan komitmen penuh Kerajaan Arab Saudi dalam mempromosikan warisan budaya Arab di panggung dunia.
Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan pendaftaran “Kaligrafi Arab: Pengetahuan, Keterampilan, dan Praktik” ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda UNESCO bersama 15 negara Arab lainnya.
“Puncak dari keberhasilan inisiatif ini bukan berarti akhir dari perjuangan. Negara memikul tanggung jawab yang besar dan abadi untuk menjaga statusnya sebagai pusat dan sumber utama budaya Arab,” tegas Wakil Menteri Kebudayaan saat menyampaikan pidato atas nama Menteri Kebudayaan.
Ia juga menambahkan bahwa kepemimpinan Arab Saudi memiliki keinginan kuat untuk terus mendukung perkembangan budaya Islam.
“Sektor kebudayaan menikmati dukungan tanpa batas dari kepemimpinan Kerajaan. Ada tekad berkelanjutan untuk mempromosikan budaya Arab dalam segala aspeknya, dengan perhatian khusus pada warisan sejarah yang mendalam,” tandasnya. (*/tim)
