Perubahan perilaku anak yang efektif tidak dapat dicapai melalui paksaan, melainkan bermula dari ketenangan hati dan kestabilan mental orang tua. Regulasi emosi orang tua sebagai arsitek utama atmosfer psikologis rumah menentukan apakah anak merasa aman untuk belajar merespons emosi dengan baik.
Ketenangan orang tua memiliki pengaruh dalam membentuk karakter anak, antara lain:
1. Emotional contagion dan peran orang tua.
Dalam literatur psikologi, terdapat istilah emotional contagion (penularan emosi). Anak-anak memiliki sistem saraf cermin (mirror neurons) yang sangat sensitif. Mereka secara naluriah menyerap emosi dari pengasuh utamanya.
Jika seorang ibu atau ayah berada dalam kondisi stres, lelah fisik (kelelahan emosional), atau mengalami parental burnout (kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional ekstrem akibat tekanan pengasuhan anak yang berlangsung terus-menerus), ia cenderung bereaksi secara reaktif, mudah marah, dan lebih fokus pada kesalahan anak.
Stres pengasuhan yang tidak dikelola dengan baik akan meningkatkan kecemasan dan masalah perilaku pada anak. Anak mungkin menafsirkan kemarahan atau keheningan orang tua sebagai penolakan. Hal ini memicu respons pertahanan diri, di mana anak menjadi lebih agresif, menarik diri, atau mengalami hambatan dalam regulasi emosinya sendiri.
Sebaliknya, orang tua yang mempraktikkan pengasuhan dengan kesadaran penuh (mindful parenting) dapat menumbuhkan iklim rumah yang stabil, sehingga anak belajar mengelola emosinya dengan mencontoh ketenangan orang tuanya.
2. Ketenangan hati dan madrasatul ‘ula.
Dalam Islam, pengasuhan anak tidak hanya berfokus pada tindakan, tetapi juga pada koneksi spiritual dan jiwa (qalbu). Al-Qur’an dan Sunnah telah menekankan pentingnya kestabilan emosi jauh sebelum psikologi modern mengkaji konsep ini.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Fath ayat 4:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ ٤
“ Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Fath:4).
Ayat ini mengindikasikan bahwa ketenangan (as-sakinah) adalah anugerah dari Allah SWT yang harus diikhtiarkan agar dapat membuat hati tetap teguh, tidak mudah goyah, serta tidak gentar dalam menghadapi berbagai ujian dan mampu berpikir jernih dan bertindak secara bijak.
Ibu adalah madrasatul ‘ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya. Peran ini menuntut kesehatan mental yang baik, sebab ketenangan batin seorang ibu sangat berpengaruh pada psikologis keluarga.
Ketika orang tua mengahadapi anak yang sedang tantrum atau berperilaku menantang, Islam mengajarkan regulasi emosi melalui beberapa tuntunan praktis untuk memadamkan amarah, diantaranya adalah:
a. Mengubah posisi duduk atau berbaring ketika sedang marah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “ Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika belum hilang marahnya, maka hendaklah ia berbaring”. (HR. Abu Dawud).
b. Mengambil air wudu untuk mendinginkan gejolak emosi karena marah berasal dari setan yang diciptakan dari api, sehingga memadamkannya dapat dilakukan dengan air wudu.
c. Membaca ta’awudz guna memohon perlindungan dari bisikan negatif setan.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي. قَالَ: “لَا تَغْضَبْ”. فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: “لَا تَغْضَبْ”
“ Dari Abu Hurairah RA, ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW, berilah aku wasiat. Beliau bersabda, janganlah kamu marah, laki-laki itu mengulangi permintaanya berkali-kali, namu beliau tetap bersabda, janganlah kamu marah”. (HR. Bukhari).
Pengendalian emosi ini bukan berarti menekan perasaan, melainkan proses menguasai diri agar tidak melampiaskan amarah dengan cara yang merusak mental anak.
Pada hadis yang lain Rasulullah SAW juga bersabda,
لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ
“ Janganlah kamu marah, niscaya bagimu surga”. (HR. Ath-Thabrani dalam kitab Shahih At-Targhib N0. 2749).
3. Langkah reflektif untuk orang tua.
Untuk mewujudkan perubahan perilaku anak, langkah awal yang harus diambil dalam merefleksikan diri sebagaimana berikut:
1 Validasi emosi diri sendiri.
Mengakui jika diri merasa lelah atau stres, praktikkan self-compassion agar diri tidak merasa bersalah berlebihan.
Self-compassion merupakan praktik memperlakukan diri sendiri dengan penuh kebaikan, penerimaan, serta pengertian saat menghadapi kegagalan atau masa sulit, persis seperti ketika mendukung sahabat untuk bangkit.
Ada 3 pilar utama dalam penerapan self-compassion ini:
a. Bersikap lembut pada diri sendiri (self-kindness), yakni mengganti kritik keras dengan kata-kata yang menenangkan.
b. Kesadaran kemanusiaan bersama (common humanity), kesadaran bahwa kesulitan, kegagalan, dan ketidaksempurnaan merupakan bagian normal dari pengalaman hidup semua manusia.
c. Kesadaran penuh (mindfulness), menerima emosi negatif dengan jujur dan penuh rasa ingin tahu tanpa mengahakimi atau menyangkalnya.
Sedangkan self-compassion secara islami adalah memperlakukan diri sendiri dengan penuh kasih sayang, memaklumi ketidaksempurnaan, serta menerima penderitaan tanpa menghakimi, yang semuanya berlandaskan tauhid kepada Allah SWT. Yang mana tujuannya untuk menjaga ketenangan jiwa dengan nilai-nilai spiritual.
Ada beberapa langkah-langkah praktis dalam penerapan self-compassion ini yang bernuansa islami, diantaranya:
a. Muhasabah dan muroqabah, yakni menyadari dan mengakui emosi yang sedang dirasakan (sedih, kecewa, gagal) tanpa menyangkalnya. Ingatlah bahwa ujian adalah sunnatullah dan manusia itu tidak luput dari kesalahan.
b. Husnudzon kepada Allah SAW, dengan cara meyakini bahwa di balik kesulitan yang menimpa diri, ada rencana Allah SWT yang terbaik dan Allah SWT tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 286.
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْۗ
c. Memaafkan diri sendiri, yakni menghentikan kritik internal yang berlebihan. Ingatlah bahwa Allah SWT Maha Pengampun, sehingga kita juga harus berdamai dengan masa lalu serta memaafkan kesalahan diri sendiri.
2. Fokus pada resolusi, bukan reaksi. Alih-alih membentak, tarik napas dalam-dalam saat anak membuat kesalahan, evaluasi kembali respons anda,serta bicarakan masalah dengan kepala dingin.
Oleh karena itu, proses refleksi diri hendaknya senantiasa dilakukan oleh orang tua agar semakin menyadari bahwa memperbaiki perilaku anak itu menuntut proses ke dalam dengan cara merawat kesehatan mental ayah dan ibu. (*)
