Indonesia dan bencana tampaknya menjadi dua hal yang sulit dipisahkan. Berada di jalur Ring of Fire (Cincin Api Pasifik) membuat negeri ini harus akrab dengan risiko gempa bumi, letusan gunung api, hingga tsunami. Merespons kerawanan yang tinggi ini, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengambil langkah nyata dengan mengubah paradigma penanggulangan bencana menjadi penguatan resiliensi (ketangguhan).
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, saat membuka acara Holistic IMM Care: Pelatihan HERT (Health Emergency Response Team) & Psikososial di Universitas Muhammadiyah Magelang, Jumat (22/5/2026).
“Muktamar Muhammadiyah di Surakarta lalu resmi mengubah nama lembaga penanggulangan bencana kita menjadi Lembaga Resiliensi Bencana (LRB). Tujuannya agar masyarakat benar-benar siap dan tangguh jika sewaktu-waktu bencana terjadi,” ujar Agus.
Dalam paparannya, Agus mengajak para relawan untuk mengaca pada Jepang. Sebagai negara yang berada di titik pertemuan empat lempeng tektonik utama—Pasifik, Filipina, Eurasia, dan Amerika Utara—Jepang memiliki tingkat kerawanan bencana yang mirip dengan Indonesia. Namun, mereka berhasil membangun sistem mitigasi yang luar biasa.
“Jepang itu negara yang boleh dibilang sangat akrab dengan gempa bumi. Namun saking tangguhnya, desain arsitektur dan infrastruktur mereka dibuat sedemikian rupa hingga tidak lagi takut jika terjadi bencana,” jelasnya.
Relawan Berbasis Iman yang Dipuji Menkes
Bagi Muhammadiyah, kunci utama menghadapi bencana bukan hanya pada infrastruktur fisik, melainkan juga kesiapan para relawannya. Kualitas relawan Muhammadiyah bahkan telah diakui secara nasional dan mendapat apresiasi langsung dari Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin.
“Pak Menteri Kesehatan waktu itu sempat memuji kehebatan relawan Muhammadiyah. Beliau menyebut pergerakan relawan kita memang berbeda dengan yang lain,” ungkap Agus.
Agus membeberkan bahwa rahasia di balik ketangguhan tersebut adalah “panggilan iman”. Karakter inilah yang menjadi pembeda sekaligus spirit utama yang melekat pada setiap relawan Muhammadiyah saat terjun ke lokasi bencana.
“Mereka bergerak bukan karena sorotan kamera, bukan pula demi konten media sosial agar dianggap berprestasi. Mereka turun ke lapangan karena iman yang menuntun untuk menolong sesama saudara yang sedang kesulitan,” tegasnya.
Selain itu, Agus juga menambahkan bahwa relawan Muhammadiyah dibekali dengan jiwa sabar yang berbalut keikhlasan yang tulus. “Di situlah letak kelebihan dan keunikan dari relawan Muhammadiyah,” pungkasnya. (*/tim)
