Di tengah era yang sering mengukur keberhasilan melalui materi, popularitas, dan pencapaian, nilai kesederhanaan dinilai tetap menjadi fondasi penting dalam kehidupan. Kesuksesan yang diraih seseorang tidak semestinya menghilangkan sikap rendah hati dan kedekatan dengan realitas kehidupan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Anggota Bidang Pustaka, Informasi, dan Teknologi Pimpinan Ranting Nasyiatul ‘Aisyiyah (PRNA) Panyuran, Lisana Sidqi Aliyyan, yang akrab disapa Liyyan, saat diwawancarai pada Senin (15/6/2026).
Menurut Liyyan, kesederhanaan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar penampilan atau gaya hidup. Kesederhanaan merupakan kemampuan seseorang untuk tetap membumi dan fokus pada tujuan hidup meskipun telah mencapai berbagai keberhasilan.
“Kesederhanaan di tengah pencapaian besar adalah kemampuan untuk tetap membumi, fokus pada esensi tujuan hidup, dan menolak gaya hidup berlebihan meskipun memiliki sumber daya untuk melakukannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sikap sederhana dan rendah hati perlu terus dijaga, terutama ketika seseorang memperoleh amanah, jabatan, atau pengakuan dari banyak orang. Menurutnya, kesadaran bahwa setiap keberhasilan tidak diraih sendirian menjadi kunci utama dalam mempertahankan sikap tawadhu.
“Setiap pencapaian merupakan hasil kolaborasi dan anugerah dari Allah Swt., bukan semata-mata hasil usaha pribadi. Kesadaran seperti ini akan membantu seseorang tetap rendah hati,” katanya.
Meski demikian, menjaga kesederhanaan bukanlah perkara mudah. Liyyan menilai bahwa salah satu tantangan terbesar adalah munculnya keinginan untuk menunjukkan keberhasilan yang telah diraih. Tidak sedikit orang yang terjebak dalam perlombaan kemewahan setelah berhasil mencapai kondisi ekonomi yang lebih baik.
Ia mencontohkan, seseorang yang dahulu belum mampu membeli kendaraan, ketika telah memiliki kemampuan finansial yang cukup justru terdorong untuk terus menambah kepemilikan sebagai simbol status sosial. Situasi tersebut sering kali membuat nilai kesederhanaan perlahan terkikis.
“Godaan untuk menunjukkan keberhasilan itu selalu ada. Karena itu, seseorang perlu memiliki kendali diri agar tidak terjebak dalam persaingan kemewahan yang tidak ada habisnya,” ungkapnya.
Kepada generasi muda, Liyyan berpesan agar tidak pernah ragu untuk berproses dan berusaha meraih cita-cita setinggi mungkin. Namun, ia mengingatkan bahwa prestasi yang tinggi harus tetap diiringi dengan sikap rendah hati dan kepedulian terhadap sesama.
“Jangan pernah ragu dan malu dalam berproses. Semua usaha pasti akan memberikan hasil pada waktunya. Ketika sudah meraih cita-cita yang diinginkan, jangan lupa melihat ke bawah dan mengingat bahwa kita pernah berada di posisi tersebut. Setinggi apa pun prestasi yang diraih, nilai-nilai kesederhanaan harus tetap dijaga,” tuturnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian yang berhasil diraih, tetapi juga dari kemampuan seseorang untuk tetap sederhana, rendah hati, dan bermanfaat bagi lingkungan di sekitarnya. (fathan faris saputro)
