Sai antara Shafa dan Marwah: Nilai Ikhtiar dan Tawakal dalam Kehidupan Kontemporer

Sai antara Shafa dan Marwah: Nilai Ikhtiar dan Tawakal dalam Kehidupan Kontemporer
*) Oleh : Warnoto, SM
Ketua PRM Wolutengah, Kerek – Tuban
www.majelistabligh.id -

Ibadah haji dan umrah pada hakikatnya tidak hanya dimaknai sebagai rangkaian ritual keagamaan yang bersifat simbolis, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan spiritual, sosial, dan kemanusiaan yang mendalam. Salah satu rangkaian penting dalam pelaksanaan ibadah tersebut adalah sai antara Bukit Shafa dan Marwah.

Aktivitas berjalan bolak-balik sebanyak tujuh kali itu menyimpan pesan moral mengenai pentingnya usaha, keteguhan iman, dan sikap tawakal dalam menjalani kehidupan.

Secara bahasa, istilah sai berasal dari kata Arab:
سَعَى – يَسْعَى – سَعْيًا
yang bermakna berjalan, berupaya, bersungguh-sungguh, atau melakukan ikhtiar. Adapun dalam pengertian syariat, sai adalah kegiatan berjalan antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji dan umrah.

Allah SWT berfirman:
إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 158)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa sai bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan simbol ibadah yang mengandung dimensi spiritual dan pembelajaran hidup bagi umat manusia.

Siti Hajar sebagai Simbol Keteguhan dan Ikhtiar
Pelaksanaan sai memiliki keterkaitan erat dengan kisah perjuangan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS sekaligus ibu Nabi Ismail AS. Dalam situasi yang penuh keterbatasan di tengah padang pasir yang gersang, Siti Hajar berusaha mencari air demi menyelamatkan putranya. Dengan penuh keyakinan dan harapan kepada Allah SWT, beliau berlari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah.

Peristiwa tersebut memberikan pelajaran bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara doa dan usaha nyata. Siti Hajar tidak hanya menunggu datangnya pertolongan, tetapi juga melakukan upaya secara maksimal. Dari kisah itu dapat dipahami bahwa manusia diperintahkan untuk aktif berikhtiar dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Allah SWT berfirman:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَـٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Ayat tersebut menegaskan bahwa keberhasilan erat kaitannya dengan proses usaha yang dilakukan secara sungguh-sungguh. Dalam kehidupan modern, nilai ini relevan diterapkan dalam dunia pendidikan, pekerjaan, dakwah, maupun pengabdian sosial kemasyarakatan.

Tawakal sebagai Kesempurnaan Ikhtiar
Menariknya, sumber air zamzam tidak muncul dari Bukit Shafa ataupun Marwah, melainkan keluar dari dekat kaki Nabi Ismail AS atas kehendak Allah SWT. Peristiwa ini mengandung pesan bahwa manusia berkewajiban melakukan ikhtiar, sedangkan hasil akhir sepenuhnya berada dalam kuasa Allah SWT.

Konsep tersebut sejalan dengan prinsip tawakal dalam Islam, yakni sikap berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik.
Allah SWT berfirman:
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
(QS. Ali ‘Imran: 159)

Melalui sai, umat Islam diajarkan untuk memiliki etos kerja, optimisme, dan kekuatan spiritual dalam menghadapi dinamika kehidupan. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan sikap ketundukan hati kepada Allah setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal.

Relevansi Nilai Sai terhadap Peran Perempuan Berkemajuan
Kisah Siti Hajar juga memperlihatkan pentingnya kontribusi perempuan dalam membangun peradaban. Keteguhan, kesabaran, dan keberanian beliau menjadi representasi bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam kehidupan umat.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat gerakan ‘Aisyiyah, yang bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan dakwah.

Sejak awal berdirinya, ‘Aisyiyah telah memberikan kontribusi nyata dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pengembangan sekolah, pengajian, layanan kesehatan, pemberdayaan keluarga, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan. Spirit perjuangan tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan keteladanan Siti Hajar, yakni sosok perempuan yang tetap teguh berusaha dan berorientasi pada pengabdian kepada Allah SWT meskipun berada dalam situasi yang sulit.

Dalam perspektif Islam berkemajuan, perempuan tidak hanya diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan juga sebagai subjek utama yang berperan aktif dalam menciptakan masyarakat yang berilmu, berakhlak, dan berkeadaban.

Sai antara Shafa dan Marwah mengandung pesan universal mengenai pentingnya ikhtiar, kesabaran, dan tawakal dalam kehidupan manusia. Kisah perjuangan Siti Hajar menjadi inspirasi bahwa setiap persoalan hidup perlu dihadapi dengan kerja keras, kesungguhan, dan keyakinan kepada Allah SWT.

Di tengah kompleksitas kehidupan modern, nilai-nilai sai tetap relevan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti bekerja secara jujur, tekun dalam menuntut ilmu, istiqamah dalam berdakwah, dan aktif menghadirkan kemaslahatan sosial bagi masyarakat.

Dengan demikian, sai tidak hanya dipahami sebagai ritual ibadah semata, tetapi juga sebagai refleksi spiritual yang membentuk karakter manusia agar menjadi pribadi yang tangguh, optimis, dan bertawakal dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search