Rezeki setiap makhluk sudah dijamin, ditakar dengan presisi, dan tidak akan pernah salah alamat atau tertukar. Tugas kita di dunia hanyalah menjemputnya dengan ikhtiar terbaik, tawakal, dan senantiasa bersyukur.
Mancing di kapal yang sama, waktu yang sama, umpan yang sama bahkan dengan pancing yang sama, tapi hasilnya bisa berbeda. Begitu juga dengan rezeki, walau kita sama-sama bekerja, dengan waktu yang sama, pekerjaan yang sama, bahkan di tempat yang sama. Tapi hasilnya bisa berbeda.
Karena itu dalam hal rezeki hendaknya kita merasa tenang, sebab rezeki kita tidak pernah tertukar dengan rezeki orang lain.
Rezeki adalah bagian dari takdir Allah, dan setiap hamba mendapat jatah rezekinya sesuai dengan yang Allah tetapkan. Sehingga sekalipun kita telah berusaha keras, tetap saja jatah rezeki kita tidak akan pernah dapat melampui batas yang telah Allah tetapkan. Demikian pula sebaliknya, sekalipun kita telah tertidur lelap, tetap saja jatah rezeki yang telah Allah tetapkan tidak akan pernah berkurang.
- Jika kita mendapatkan yang biasa, sedangkan orang lain memiliki yang terbaik, jangan iri.
- Jika kita mendapatkan yang sedikit, sedangkan orang lain mendapatkan banyak, jangan kecewa.
- Jika dagangan kita sepi, sedangkan dagangan orang lain laris, juga jangan bersedih.
Yakinlah bahwa rezeki kita dan orang lain tidak akan pernah tertukar, karena Allah pasti membagi rezeki dengan adil.
إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
“Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al Isra’: 30)
Ayat tersebut menegaskan bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Zat yang Maha Mengatur rezeki. Allah melapangkan atau menyempitkan rezeki seseorang berdasarkan hikmah, keadilan, dan pengetahuan-Nya yang mutlak tentang apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.
Rezeki bukanlah sekadar hasil kerja keras semata, melainkan karunia yang diatur sepenuhnya oleh Allah. Dia melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya sebagai ujian dalam bentuk syukur, dan menyempitkannya sebagai ujian dalam bentuk kesabaran.
“Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”, menunjukkan bahwa Allah sangat mengenal kondisi batin dan lahiriah hamba-Nya. Allah memberikan rezeki sesuai dengan kadar kemaslahatan hamba tersebut.
Jika Allah memberikan kekayaan atau kelapangan kepada seluruh manusia secara merata, dikhawatirkan justru akan memicu sifat melampaui batas (bughat) di muka bumi. Sebaliknya, kesempitan rezeki sering kali menghindarkan manusia dari keburukan yang mungkin timbul akibat harta yang berlebih.
Allah telah membagikan rezeki kepada hambanya dengan penuh hikmah sesuai takaran dan kebutuhannya, maka hendaknya kita senantiasa tenamkan rasa syukur atas kebaikan yang kita terima. Jika kita mengeluh dan membandingkan kehidupan orang lain, justru akan menjadikan kita lupa bersyukur dan sering iri hati dengan kehidupan orang lain.
Mari kita tanamkan tauhid dalam setiap aktivitas kita, sehingga apapun hasil yang telah kita dapatkan hari ini kita tetap ikhlas, tenang, berbaik sangka dan terus bertawakal kepada Allah Ta’ala. (*)
