”Don’t compare your process to others. We all have our own journey.”
“(Jangan bandingkan prosesmu dengan orang lain. Kita semua memiliki perjalanan masing-masing).”
Di era media sosial, kita sangat mudah terjebak dalam social comparison (pembandingan sosial). Melihat pencapaian orang lain sering kali memicu rasa cemas, seakan-akan kita telah tertinggal jauh di belakang. Padahal, setiap manusia berjalan di atas takdir dan waktunya masing-masing.
Islam mengajarkan kita untuk menghargai setiap fase dalam proses kehidupan. Allah SWT berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ
”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain…” (QS. An-Nisa: 32)
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini melarang umat Islam bersikap dengki atau iri terhadap rezeki, kelebihan, dan kedudukan yang dikaruniakan Allah kepada orang lain. Setiap porsi rezeki maupun ujian telah terukur dengan penuh keadilan.
Prinsip ini diperkuat oleh Rasulullah SAW melalui hadis sahih: Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم
“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau memandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allahmu .” (HR. Muslim no. 2963, Bukhari no. 6490)
Terlalu fokus pada titik awal dan capaian orang lain hanya akan mengikis rasa syukur serta mengaburkan potensi diri. Syukuri setiap langkah kecil dalam hidupmu, karena hal yang terpenting bukanlah seberapa cepat kamu sampai, melainkan seberapa konsisten kamu bertumbuh di jalan-Nya.
Semoga bermanfaat.
