Siapakah Pencuri Salat?

*) Oleh : Ferry Is Mirza
Jurnalis senior dan aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Mencuri dalam salat berarti mengambil haknya sendiri. Alangkah meruginya orang yang melakukan hal itu. Mengapa demikian? Dan mengapa ada si pencuri salat? untuk apa dia mencurinya?

Istilah mencuri dalam salat merujuk pada sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. “Sejahat-jahatnya pencuri adalah yang mencuri dari salatnya.” Para sahabatnya bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari salat ?” Rasulullah menjawab, “Dia tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” (HR. Ahmad)

Mengapa begitu? Karena salat adalah kewajiban untuk kita, di dalamnya juga berisi do’a untuk kita bahkan gerakannya juga memiliki manfaat luar biasa untuk kesehatan kita. Nah, jika kita terburu-buru sehingga rukuk dan sujud kita tidak sempurna, maka kita telah mencuri nikmat dari Allah untuk kita.

Dalam dalil lain, Rasulullah melarang menunaikan salat dengan terburu-buru. Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh-noleh seperti musang, dan duduk seperti kera.”

Tak hanya sebagai larangan, mereka yang menunaikan salat dengan tergesa-gesa akan meninggal dalam keadaan bukan sebagai muslim. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits.

“Kamu melihat orang ini, jika dia mati, maka matinya tidak termasuk mengikuti agama Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, dia menyambar salatnya seperti burung elang menyambar daging.” (HR. Ibnu Huzaimah)

Agar tidak menjadi salah satu pencuri dalam salat, maka hendaknya kita memenuhi rukun- rukun salat. Dalam kitab ‘Safinatun Najah’ karya Syekh Salim ibn sumair al-hadrami. Dalam hal ini, rukuk dan sujud mempunyai perhatian lebih. Rukuk dan sujud yang tidak sempurna akan membuat salat menjadi tidak sah.

Pada suatu kisah diceritakan bagaimana sahabat diminta mengulang salatnya oleh Rasulullah akibat tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Diriwayatkan ada seorang lelaki yang masuk ke dalam masjid saat Rasulullah sedang duduk. Lalu ia menunaikan salat hingga selesai dan memberi salam kepada Rasulullah. Kemudian Rasulullah menjawab, “Ulangi salatmu, karena (sesungguhnya) kamu belum salat!”

Lantas lelaki tersebut mengulangi salatnya. Setelah itu ia datang kepada rasul dan dijawab dengan jawaban yang sama, “Ulangi salatmu, karena kamu belum salat!”

Kemudian lelaki tersebut mengulangi salatnya hingga tiga kali, dan sebanyak tiga kali juga Rasulullah mengulangi perkataanya. Pada salat yang terakhir, si lelaki berkata bahwa salat yang tadi ialah salat terbaiknya. Ia tak tahu alasan apa yang membuat Rasulullah mengatakan ibadahnya tidak sempurna.

“Jika kamu berdiri untuk salat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al Qur’an. Kemudian rukuklah hingga benar-benar thumakninah (tenang) dalam ruku’, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak (lurus), kemudian sujudlah sampai engkau thuma’ninah dalam sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga thuma’ninah dalam keadaan dudukmu. Kemudian lakukanlah semua itu di seluruh salat (rakaat)mu.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari riwayat di atas, Rasulullah menekankan untuk melakukan rukuk dan sujud dengan tenang. Rasulullah memerintahkan untuk melakukan rukuk dan sujud yang disempurnakan dengan thuma’ninah.

Bahkan di dalam riwayat imam Al-Baihaqi dalam kitab Syuabul Iman disebutkan termasuk orang yang mencuri salatnya adalah yang tidak khusyuk atau tak thumakninah. Padahal, thumakninah adalah bagian dari rukun salat yang dapat menyebabkan salat itu batal atau tidak sah bila tidak dilakukan. Sehingga, ketika thumakninah itu tidak dilakukan maka ia sama saja mencuri salah satu rukun salat.

Hadits riwayat imam Ahmad di atas, juga dikuatkan oleh riwayat imam At-Tirmidzi sebagai berikut.

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari, ia berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Salat seseorang tidak akan sempurna bila dalam rukuk dan sujud tulang punggungnya tidak lurus.” (HR. At-Tirmidzi)

Dengan demikian, maka hadis-hadis tersebut mengingatkan kita bahwa ketika kita tidak menyempurnakan salat kita terutama dalam gerakan rukuk dan sujud, maka sama saja kita tidak menjaga amanah. Alias kita telah berkhianat untuk tidak melaksanakan gerakan salat itu dengan benar. Oleh sebab itu, maka kita dianggap telah mencuri salat.

Bahkan, sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam. yang bernama Hudzaifah menganggap orang tersebut sama saja belum melaksanakan salat.

Zaid bin Wahb berkata, “Hudzaifah melihat seseorang salat namun tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Maka dia berkata, “Kamu belum salat. Seandainya kamu meninggal dunia, maka kamu meninggal dalam keadaan di luar fitrah (agama) yang Allah telah menciptakan Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam berada di atasnya. (HR. Al-Bukhari)

Salat adalah ibadah yang agung. Ia menjadi perintah spesial Allah Wa Ta’ala yang harus diambil Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam langsung ke langit melalui peristiwa hebat Isra’ Mi’raj. Salat merupakan rukun Islam yang kedua sekaligus menjadi tiangnya agama. Bahkan, salat menjadi ibadah yang paling pertama dimintai pertanggung jawabannya di akhirat. Oleh sebab itu, maka sudah seharusnya kita tidak main-main dalam menjalankannya. Sehingga, kita tidak menjadi bagian dari para pencuri salat sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam.

In syaa Allah bermanfaat, silakan dishare untuk meraih pahala amal jariyah. || ismirzaf@gmail.com fimdalimunthe55@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Search