Fenomena peziarah yang memadati Jabal Rahmah demi berburu jodoh, menuliskan nama pasangan di tugu batu, hingga meyakini mitos-mitos tertentu kini menjadi perhatian serius Pemerintah Arab Saudi.
Demi menjaga kemurnian nilai ibadah dan kesakralan situs bersejarah di kawasan Arafah tersebut, Kementerian Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi memperketat pengawasan melalui program edukasi keagamaan secara masif pada musim umrah 1448 H.
Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas maraknya perilaku sebagian jemaah internasional yang dinilai menyimpang dari ajaran Islam, mulai dari praktik khurafat—seperti meminta jodoh kepada bukit—hingga tindakan vandalisme yang merusak estetika kawasan.
“Kami tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga bertanggung jawab melindungi pemahaman syariat para tamu Allah. Jabal Rahmah adalah pengingat sejarah, bukan tempat memohon hajat yang tak berlandaskan dalil,” tegas perwakilan Sekretariat Jenderal Penyuluhan Islam untuk Haji, Umrah, dan Ziarah Arab Saudi.
Guna meluruskan kekeliruan yang mengakar akibat perbedaan budaya dan tingkat pemahaman jemaah, pemerintah menyiagakan stan-stan edukasi di titik krusial, seperti kawasan Jabal Rahmah dan Masjid Namirah.
Para dai yang didampingi penerjemah lintas bahasa diterjunkan langsung untuk memberikan pendampingan, menjawab pertanyaan hukum ziarah, serta meluruskan batas-batas ibadah yang sesuai sunnah.
Selain konsultasi tatap muka, petugas juga membagikan literatur keislaman berupa buku dan brosur digital/cetak dalam berbagai bahasa dunia. Pendekatan persuasif dan edukatif ini dipilih untuk mengikis mitos-mitos keliru—termasuk anggapan bahwa Jabal Rahmah adalah ‘bukit permohonan jodoh’—secara bijak tanpa mengurangi kenyamanan jemaah.
Harmonisasi Pelayanan dan Visi Saudi 2030
Upaya penertiban pemahaman ini menjadi bagian integral dari transformasi pelayanan keagamaan yang diusung dalam Saudi Vision 2030. Pemerintah Arab Saudi berkomitmen menyebarkan nilai moderasi (wasathiyah) sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman spiritual bagi jutaan umat Muslim dari seluruh dunia.
Jabal Rahmah dan kawasan Arafah memang memiliki daya tarik magnetis sebagai pilar penting sejarah haji. Namun, pesatnya lonjakan jemaah melahirkan tantangan baru: menjaga nilai historis situs tanpa membiarkan berkembangnya praktik-praktik yang tak bertuntunan.
Melalui edukasi langsung di lapangan, Arab Saudi menegaskan perannya tidak hanya sebagai tuan rumah yang memfasilitasi sarana fisik, tetapi juga sebagai benteng yang menjaga kemurnian akidah umat Islam dunia. (*/tim)
