Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ghoffar Ismail, mengingatkan umat Islam untuk senantiasa mewaspadai bahaya bisikan jahat (waswas). Menurutnya, banyak keretakan besar—mulai dari konflik keluarga, kehancuran karier kepemimpinan, hingga pergeseran akidah—bermula dari bisikan sederhana yang dipercaya tanpa proses klarifikasi (tabayun).
Hal tersebut disampaikan Ghoffar saat mengulas kedalaman makna al-Mu’awwidzatain (Surah al-Falaq dan an-Nas), dua surah perlindungan yang dianjurkan untuk dibaca setiap hari.
Ghoffar menjelaskan, meski sama-sama berisi doa perlindungan, kedua surah tersebut memiliki penekanan yang berbeda. Surah al-Falaq memohon perlindungan dari ancaman luar (eksternal)—seperti kejahatan makhluk, kegelapan, sihir, dan kedengkian—dengan hanya menyebut Allah sebagai Rabb al-Falaq.
Sebaliknya, Surah an-Nas berfokus pada satu ancaman saja, yaitu bisikan jahat (waswas al-khannas). Namun, permohonan perlindungannya menggunakan tiga sifat Allah sekaligus: Rabb an-Nas (Tuhan Pemelihara), Malik an-Nas (Raja/Pemilik Manusia), dan Ilah an-Nas (Sembahan Manusia).
“Penyebutan tiga sifat Allah ini menunjukkan betapa dahsyatnya bahaya bisikan jahat. Berbeda dari ancaman luar, waswas menyerang langsung dari dalam pikiran dan hati manusia. Bentuknya tampak kecil, tetapi dampaknya sanggup mengacak-acak cara berpikir, bersikap, hingga mengambil keputusan,” terang Ghoffar.
Tiga Bentuk Waswas dalam Kehidupan
Lebih jauh, Ghoffar menguraikan bagaimana waswas bekerja merusak berbagai lini kehidupan melalui tiga pendekatan makna sifat Allah dalam Surah an-Nas:
- Penyimpangan Hubungan Relasional (Rabb an-Nas) Dalam peran sebagai orang tua, pasangan, maupun pendidik, bisikan jahat kerap memicu prasangka tanpa dasar. Seseorang bisa dibisiki bahwa pasangannya tidak setia atau anaknya tidak lagi menaruh hormat. Jika dibiarkan tanpa tabayun, prasangka sepele ini berpotensi berujung pada pertengkaran hingga perceraian.
- Penyimpangan Kebijakan & Kekuasaan (Malik an-Nas) Sebagai Raja dan Pemilik Kekuasaan, Allah mengajarkan agar para pejabat atau pengambil keputusan tidak menelan mentah-mentah masukan di sekelilingnya. Bisikan bermotif kepentingan pribadi dari orang dekat, keluarga, maupun staf dapat berujung pada keputusan publik yang keliru jika tidak disaring ketat.
- Penyimpangan Keimanan & Mental (Ilah an-Nas) Sebagai Sembahan Manusia, Allah menjadi benteng akidah. Bisikan jahat dapat merusak kekhusyukan ibadah, meragukan keyakinan, hingga menimbulkan rasa cemas dan ketakutan psikologis yang berkepanjangan.
Mengutip Surah Qaf ayat 27, Ghoffar menegaskan bahwa setan—baik dari golongan jin maupun manusia—tidak pernah memiliki kekuatan untuk memaksa. Mereka hanya melemparkan dorongan atau gagasan.
“Setan tidak bisa memaksa. Manusialah yang memegang kendali penuh untuk menuruti atau menolaknya. Pada Hari Kiamat kelak, setan bahkan akan berlepas diri dari manusia yang mengikutinya,” tegasnya.
Ia berpesan agar umat Islam tidak mudah terprovokasi oleh informasi unverified dan terus memelihara hati (qalb) yang sifatnya mudah berbolak-balik. Caranya adalah dengan merutinkan bacaan al-Mu’awwidzatain, mengedepankan akal sehat, serta selalu menguji setiap bisikan sebelum menganggapnya sebagai sebuah kebenaran. (*/tim)
