Surah Ar-Rahman

*) Oleh : Ferry Is Mirza
Jurnalis senior dan aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

In syaa Allah Anda pernah mentadaburi Surah Ar-Rahman. Ada satu kalimat yang terus kembali: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Tidak hanya sekali, tetapi 31 kali.

Lalu muncul pertanyaan, apakah Allah  mengulang untuk mengetuk hati yang lalai? Bukankah Allah Maha Mengetahui bahwa manusia sudah membacanya sekali? Bukankah satu kali sudah cukup? Mengapa harus tiga puluh satu kali?

Apakah ini sekadar pengulangan? Ataukah ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan? Allah tidak sedang mengulang. Allah sedang mendidik hati manusia.

Pengulangan dalam Al-Qur’an bukan tanda kekurangan bahasa. Justru sebagai tanda sempurnanya kasih sayang Allah. Karena Allah mengetahui bahwa manusia adalah makhluk yang paling mudah lupa.

Perhatikan polanya. Inilah yang sering tidak disadari. Ayat itu tidak diulang secara acak. Setiap kali Allah menyebut satu nikmat atau satu tanda kekuasaan, maka Allah bertanya kembali, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Allah menyebut penciptaan manusia. Lalu bertanya.

Allah menyebut Al-Qur’an. Lalu bertanya.

Allah menyebut matahari dan bulan. Lalu bertanya.

Allah menyebut lautan. Lalu bertanya.

Allah menyebut buah-buahan. Lalu bertanya.

Bahkan ketika Allah berbicara tentang Hari Kiamat, tentang neraka, tentang surga. Pertanyaan itu tetap kembali. Mengapa?

Karena peringatan adalah nikmat. Orang yang diperingatkan sebelum celaka sedang diberi kasih sayang.

Yang Lebih Menggetarkan Lagi ayat ini tidak berbunyi, “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang tidak kamu syukuri?” Tetapi ”…yang kamu dustakan?”

Mengapa menggunakan kata mendustakan? Karena sebagian manusia tidak hanya lupa bersyukur. Mereka hidup seolah olah semua keberhasilan adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

Napas dianggap biasa. Jantung berdetak dianggap otomatis. Mata melihat dianggap wajar. Anak lahir sehat dianggap keberuntungan. Padahal tidak satu pun itu milik kita. Semuanya titipan Allah.

Sains menunjukkan betapa banyak nikmat yang tidak kita sadari. Tubuh manusia bekerja tanpa kita perintahkan. Jantung berdetak sekitar 100.000 kali setiap hari. Paru-paru menghirup ribuan liter udara. Otak mengoordinasikan miliaran sinyal saraf. Sistem imun mengenali dan melawan ancaman yang bahkan tidak kita sadari.

Kita tidur tubuh tetap bekerja. Kita lupa, tetapi Allah tidak pernah lupa menjaga kita. Ironisnya, manusia lebih sering menghitung uangnya Daripada menghitung nikmat yang membuatnya tetap hidup. Mungkin karena nikmat yang hadir setiap hari sering kali menjadi nikmat yang paling tidak dihargai.

Mengapa tepat 31 Kali? Para ulama telah menjelaskan hikmah pengulangannya, tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak memberikan penjelasan khusus mengapa jumlahnya tepat 31 kali. Karena itu, kita tidak boleh memastikan alasan yang tidak memiliki dalil.

Yang dapat dipastikan adalah bahwa pengulangan itu merupakan bagian dari keindahan retorika (balaghah) Al-Qur’an. Setiap pengulangan hadir setelah penyebutan nikmat, tanda kekuasaan, ancaman, atau balasan, sehingga pertanyaan itu kembali mengetuk hati pembaca dari sudut yang berbeda.

Yang menjadi mukjizat bukan sekadar angkanya. Tetapi cara Allah menggunakan satu kalimat yang sama untuk menyentuh hati manusia dalam puluhan konteks yang berbeda.

Lalu apa hubungannya dengan kehidupan kita? Mungkin hari ini kita mengeluh karena rumah belum besar. Padahal Allah sudah memberi tempat berteduh. Kita mengeluh karena kendaraan sederhana. Padahal masih bisa pulang menemui keluarga.

Surah Ar-Rahman bukan sekadar surah tentang nikmat. Ia adalah surah yang mengadili kelalaian manusia. Setiap kali ayat itu kembali seakan-akan Allah bertanya langsung kepada kita, “Setelah semua yang Aku berikan, masih adakah alasan bagimu untuk mengingkari-Ku?”

Mungkin selama ini kita mengira ayat itu sedang diulang. Padahal yang sebenarnya diulang adalah kesempatan Allah agar hati kita kembali sadar. Karena Allah tahu hati manusia tidak selalu luluh hanya dengan satu nasihat. Kadang perlu diketuk lagi dan lagi. Sampai akhirnya air mata itu jatuh.

“Yaa Allah, tidak ada satu pun nikmatMu yang pantas aku dustakan.”

In syaa Allah bermanfaat, silakan dishare untuk meraih pahala amal jariyah.|| ismirzaf@gmail.com ; fimdalimunthe55@gmail.com

 

Tinggalkan Balasan

Search