Syawalan Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah ‘Bubar’: Saat Idealisme Diuji Usia Senja

Syawalan Mantan Aktivis Pemuda Muhammadiyah 'Bubar': Saat Idealisme Diuji Usia Senja
*) Oleh : Agus Rosid
Ketua Pemuda Muhammadiyah Bubutan Barat Surabaya 1987–1990
www.majelistabligh.id -

Syawalan lazimnya jadi panggung acara maaf-memaafkan, diakhiri bersalaman. Tapi bagi para mantan aktivis Pemuda Muhammadiyah Bubutan Barat (Bubar), justru jadi momen evaluasi yang diam-diam menggetarkan.

Di tengah suasana santai, tiba-tiba muncul pertanyaan yang tidak ringan: apakah teriakan idealisme di masa muda dulu benar-benar membentuk opini publik, atau hanya menjadi gema di ruang kosong?

Dulu, idealisme bukan jargon kosong. Ia bukan sekadar suara lantang dari atas mimbar demi meraih “izzul Islam wal muslimin”. Atau gebrak meja sambil berucap: “Iisy kariman au mut syahidan”.

Dengan anggaran pas-pasan dan motor butut sebagai kendaraan utama, aktivis muda justru bergerak nyata: dari pemberdayaan umat, penguatan identitas, hingga solidaritas sosial.

Semua dikerjakan tanpa sorotan publikasi. Bagi kami saat itu, publikasi justru dikhawatirkan melunturkan keikhlasan, menumbuhkan riya’.

Ini karena didasarkan keyakinan tunggal: perubahan tidak lahir dari teriakan, melainkan dari keringat.

Ukuran keberhasilan pun tidak pernah diukur dari tepuk tangan atau pujian masyarakat.

Tetapi dari hal yang lebih sunyi—melihat anak-anak yatim dan dhuafa tertawa lepas dalam acara “Melu Gemuyu Bersama”, sebuah kegiatan haflah dan santunan yang nyaris batal karena kendala birokrasi.

Di balik itu ada kedukaan yang masih jelas di benak pikiran: di usia senja ini ingatan membawa proposal dari meja ke meja birokrasi itu belum hilang.

Jawabannya serempak, hafal di luar kepala: “tidak ada anggaran untuk pos bantuan sosial”.

Ini rasanya seperti berharap air di padang pasir. Tapi bagi kami, itu bukan jalan buntu. Justru di situlah jalan lain terbuka.

Tanpa proses administrasi dan tahapan birokrasi, muncul dukungan dari sesama aktivis yang sudah mapan.

Ini menjadi titik penting terbukanya hati para hartawan untuk mendukung sepenuhnya. Acara yang dikira mustahil itu akhirnya berjalan.

Di ruang syawalan hari ini, cerita itu hidup kembali. Dulu, keterbatasan bisa dikalahkan oleh fisik prima dan tekad yang tidak banyak kompromi.

Sekarang, ketika fisik mulai melemah, ditandai nyeri sendi yang datang tanpa diundang. Muncul pertanyaan baru: apakah tekad itu masih ada?

Yang berubah sebenarnya bukan idealismenya, tetapi caranya.

Dulu, senjata kami sederhana: fisik prima yang kuat begadang dan waktu luang sepanjang malam tanpa diganggu urusan ‘wakuncar’ atau urusan duniawi lainnya.

Dengan itu, program seberat apa pun terasa ringan dijalankan. Hati pun menjadi senang walaupun terbatasnya anggaran.

Sekarang, fisik tidak lagi prima, digantikan sendi lutut yang protes kalau duduk terlalu lama. Begitu pula waktu luang telah berlalu diganti tanggung jawab ‘momong’ cucu.

Namun di saat yang sama, lahir “senjata” baru. Jika dulu harus berjibaku mencari dana, kini sebagian dari kami justru diberi kelapangan rezeki untuk menopang kegiatan.

Jejaring pun meluas. Dulu pergaulan terbatas pada sesama aktivis, sekarang menjangkau berbagai elemen masyarakat. Bahkan, kerut di kening yang dulu mungkin dianggap biasa, kini sering ditafsirkan sebagai pengalaman, membuat kata-kata yang dulu diabaikan kini mulai didengar.

Di titik ini, bahayanya justru muncul: ketika kondisi fisik yang menurun disalahartikan sebagai alasan untuk berhenti.

Jika itu terjadi, idealisme perlahan memudar. Kumpulan mantan aktivis bisa berubah hanya menjadi forum arisan, atau sekadar pengajian tanpa denyut gerakan.

Padahal slogan “izzul Islam wal muslimin” dan “Iisy kariman au mut syahidan” tidak kenal umur. Ia hanya butuh wadah yang berbeda. Dulu lewat aksi nyata, sekarang bisa lewat akses media ataupun ‘kurasi’ kader.

Acara syawalan bukan arena untuk memvonis diri sendiri. Ia lebih mirip cermin yang sengaja ditaruh di hadapan kita, biar kita berhenti, menatap, dan jujur.

Usia memang mengambil banyak hal—kecepatan, kelenturan, dan kekuatan. Tapi ia juga menitipkan sesuatu, berupa kearifan untuk memilih peran apa yang masih layak dipentaskan.

Acara “Melu Gemuyu Bersama” dulu berhasil bukan karena kami muda, tapi karena kami sadar dan berprinsip dengan kata “tidak ada jalan buntu”.

Hari ini, kata itu pun bisa datang dari tubuh kita sendiri. Dari menghadapi asam urat yang kambuh, sampai cucu yang minta ditemani.

Maka pertanyaannya berubah. Bukan lagi “apakah idealisme kalah oleh usia?”, melainkan “apakah kita rela idealisme itu diwariskan dalam bentuk yang lebih sunyi, lebih lambat, sampai ajal menjemput?”

Sebab penyesalan sering datang bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena kita berhenti terlalu cepat dan lupa menyiapkan generasi penerus. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search